Berkenalan Dengan Allah SWT

AGAMA ISLAM33 Dilihat

oleh ;Daeng Supriyanto

Di Alam Jagad raya ini mungkin kalimat atau ungkapan Tak kenal maka tak sayang sudah tidak asing ditelinga kita. Dalam melaksanakan ajaran agama Islam tidak sedikit orang mengaku mengenal Allah, tapi mereka tidak cinta kepada Allah. Buktinya, mereka banyak melanggar perintah dan larangan Allah. Hal tersebut terjadi akibat dari pemahaman para umat islam tentang Allah SWT Tuhan semesta alam jagat raya, tidak mengenal Allah dengan sebenarnya.

Sekilas membahas persoalan bagaimana mengenal Allah bukanlah sesuatu yang asing. Bahkan mungkin ada yang mengatakan untuk apa hal yang demikian itu dibahas? Bukankah kita semua telah mengetahui dan mengenal pencipta kita? Bukankah kita telah mengakui itu semua? Kalau mengenal Allah sebatas di masjid, di majelis dzikir, atau di majelis ilmu atau mengenal-Nya ketika tersandung batu, ketika mendengar kematian, atau ketika mendapatkan musibah dan mendapatkan kesenangan, barangkali akan terlontar pertanyaan demikian.

Faktanya, banyak yang mengaku mengenal Allah tetapi mereka selalu bermaksiat kepada-Nya siang dan malam. Lalu apa manfaat kita mengenal Allah.   kalau keadaannya demikian? Dan apa artinya kita mengenal Allah sementara kita melanggar perintah dan larangan-Nya?

Bagian yang penting dalam mengenal ALLAH, datangnya dari perbuatan – perbuatan kita bagi mempelajari dan meneliti serta memikirkan diri sendiri, yang memberikan kepada kita kekuatan,kepandaian dan mencintai ciptaanNya. Sifat – sifat manusia, bukan hanya menjadi gambaran dari sifat – sifat ALLAH, tetapi juga ragam adanya jiwa manusia membawa keinsafan kepada pengertian adanya ALLAH.

Maksudnya bahwa keduanya yaitu ALLAH dan ROH adalah ghaib, tidak terpisah, tidak terbilang, tidak berupa, tidak berbentuk, tidak berwarna dan tidak berukuran. Demikianlah antara lain terjemahan dari kitab ”KimyauSaadah” oleh Al Ghazali.

Agama-agama samawi dan para ulama akhlak sangat menekankan masalah perenungan dan pengenalan diri. Karena selama manusia tidak mengenal dirinya dan mengetahui potensi serta kemampuannya baik secara fisik maupun mental, maka dia tidak akan mengetahui kedudukannya yang sebenarnya di alam semesta ini.

Tanpa pengenalan diri, manusia tidak akan mengetahui mengapa dia diciptakan. Oleh karena itu, dia juga tidak akan dapat menalar kepribadian dan nilai-nilainya.  Manusia mendapat kesukaran dalam menerima gambaran tersebut, Tetapi kesukaran kesukaran itu sebenarnya dirasakan oleh fikiran kita setiap masa seperti

perasaan marah,sakit ,gembira dan cinta. Hal ini merupakan faham fikiran dan tidak dapat diketahui oleh otak karena disebebkan oleh bentuk-dan ukurannya.

Seperti halnya, telinga tidak dapat mengenal warna, mata tidak dapat mengenal suara dan begitu pula dalam mengertikan kenyataan pokok yakni Tuhan dan Roh, Kita sendiri hanya dapat sampai pada batas  – batas yang dapat dicapai oleh akal fikiran dan selebihnya akal fikiran kita tidak sanggup lagi memikirkannya sebegitu jauh.

Tuhan dalam Islam tidak hanya Maha Agung dan Maha Kuasa, namun juga Tuhan yang personal. Menurut Al-Quran, Dia lebih dekat pada manusia daripada urat nadi manusia. Dia menjawab bagi yang membutuhkan dan memohon pertolongan jika mereka berdoa pada-Nya. Di atas itu semua, Dia memandu manusia pada jalan yang lurus, “jalan yang diridhai-Nya.”

Sebelum kita membahas tentang pemahaman secara mendalan tentang Allah SWT tuhan sang pencipta alam, tidak ada salahnya kalau kita membahas terlebih dahulu asal kata Allah sebagai penyebutan nama tuhan Umat terbesar dijagat raya ini.

Beberapa teori mencoba menganalisa etimologi dari kata “Allah”. Salah satunya mengatakan bahwa kata Allāh (الله) berasal dari gabungan dari kata al- (sang) dan ilāh (tuhan) sehingga berarti “Sang Tuhan”. Namun teori ini menyalahi bahasa dan kaidah bahasa Arab. Bentuk ma’rifat (definitif) dari ilah adalah al-ilah, bukan Allah.

Dengan demikian kata al-ilah dikenal dalam bahasa Arab. Penggunaan kata tersebut misalnya oleh Abul A’la al-Maududi dalam Mushthalahatul Arba’ah fil Qur’an (h. 13) dan Syaikh Abdul Qadir Syaibah Hamad dalam al-Adyan wal Furuq wal Dzahibul Mu’ashirah (h. 54).

Kedua penulis tersebut bukannya menggunakan kata Allah, melainkan al-ilah sebagai bentuk ma’rifat dari ilah. Dalam bahasa Arab pun dikenal kaidah, setiap isim (kata benda atau kata sifat) nakiroh (umum) yang mempunyai bentuk mutsanna (dua) dan jamak, maka isim ma’rifat kata itupun mempunyai bentuk mutsanna dan jamak.

Hal ini tidak berlaku untuk kata Allah, kata ini tidak mempunyai bentuk ma’rifat mutsanna dan jamak. Sedangkan kata ilah mempunyai bentuk ma’rifat baik mutsanna (yaitu al-ilahani atau al-ilahaini) maupun jamak (yaitu al-alihah). Dengan demikian kata al-ilah dan Allah adalah dua kata yang berlainan.[

Teori lain mengatakan kata ini berasal dari kata bahasa Aram Alāhā.[11] Cendekiawan muslim kadang-kadang menerjemahkan Allah menjadi “God” dalam bahasa Inggris. Namun demikian, sebagian yang lain mengatakan bahwa Allah tidak untuk diterjemahkan,  dengan berargumen bahwa kata tersebut khusus dan agung sehingga mesti dijaga, tidak memiliki bentuk jamak dan gender (berbeda dengan God yang memiliki bentuk jamak Gods dan bentuk feminin Goddess dalam bahasa inggris). Isu ini menjadi penting dalam upaya penerjemahan Al-Qur’an.

Kata Allāh selalu ditulis tanpa alif untuk mengucapkan vowel ā. Ini disebabkan karena ejaan Arab masa lalu berawalan tanpa alif untuk mengeja ā. Akan tetapi,untuk diucapkan secara vokal, alif kecil selalu ditambahkan di atas tanda saddah untuk menegaskan prononsiasi tersebut.

Konsep ketuhanan dalam Islam digolongkan menjadi dua: konsep ketuhanan yang berdasar Al-Quran dan hadis secara harafiah dengan sedikit spekulasi sehingga banyak pakar ulama bidang akidah yang menyepakatinya, dan konsep ketuhanan yang bersifat spekulasi berdasarkan penafsiran mendalam yang bersifat spekulatif, filosofis, bahkan mistis.

Menurut para mufasir, melalui wahyu pertama al-Quran (Al-‘Alaq 1-5), Tuhan menunjukkan dirinya sebagai pengajar manusia. Tuhan mengajarkan manusia berbagai hal termasuk di antaranya konsep ketuhanan. Umat Muslim percaya Al-Quran adalah kalam Allah, sehingga semua keterangan Allah dalam al-Quran merupakan “penuturan Allah tentang diri-Nya.”

Selain itu menurut Al-Quran sendiri, pengakuan akan Tuhan telah ada dalam diri manusia sejak manusia pertama kali diciptakan (Al-A’raf 172). Ketika masih dalam bentuk roh, dan sebelum dilahirkan ke bumi, Allah menguji keimanan manusia terhadap-Nya dan saat itu manusia mengiyakan Allah dan menjadi saksi.

Sehingga menurut ulama, pengakuan tersebut menjadikan bawaan alamiah bahwa manusia memang sudah mengenal Tuhan. Seperti ketika manusia dalam kesulitan, otomatis akan ingat keberadaan Tuhan. Al-Quran menegaskan ini dalam surah Az-Zumar 8 dan surah Luqman 32. Nama Allāh ditulis dalam kaligrafi Arab oleh seniman Ottoman, Hâfız Osman abad ke-17.

Keesaan Allah atau Tauḥīd adalah mempercayai dan mengimani dengan sepenuh hati bahwa Allah itu Esa dan (wāḥid). Al-Qur’an menegaskan keberadaan kebenaran-Nya yang tunggal dan mutlak yang melebihi alam semesta sebagai; Zat yang tidak tampak dan wahid yang tidak diciptakan. Menurut Al-Quran:

“Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi mempunyai rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.” (al-An’am 133)

Dengan Tuhan menjadi sebuah konsep tunggal yang akan menjelaskan asal-muasal semua hal yang ada: “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Akhir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (al-Hadid 3)” Tuhan dalam Islam sifatnya universal daripada tuhan lokal, kesukuan, atau paroki; zat mutlak yang mengajarkan nilai kebaikan dan melarang kejahatan.

Tauhid merupakan pokok bahasan Muslim.  Menyamakan Tuhan dengan ciptaan adalah satu-satunya dosa yang tidak dapat diampuni seperti yang disebutkan dalam Al-Quran.

Umat Muslim percaya bahwa keseluruhan ajaran Islam bersandar pada prinsip Tauhid, yaitu percaya “Allah itu Esa, dan tidak ada sekutu bagi-Nya.” Bahkan tauhid merupakan kosep teoritis yang harus dilaksanakan karena merupakan syarat mutlak setiap Muslim.Contoh kata-kata yang menggunakan kata Allah:

  • Laa ilaaha illallaah (Tiada Tuhan selain Allah)
  • Allahu Akbar (الله أكبر) (Allah Maha Besar)
  • Bismillah (بسم الله ) (Dengan nama Allah)
  • Insya Allah (إن شاء الله) (Jika Allah menghendaki)
  • Masya Allah (ما شاء الله) (Kata yang biasanya diucapkan jika melihat sesuatu yang aneh (ganjil) kadang-kadang diganti dengan kata “Subhan Allah”)
  • Subhan Allah (سبحان الله) (Maha Suci Allah)
  • Alhamdulillah (الحمد لله) (Segala Puji bagi Allah)
  • Allahua`lam (الله أعلم) (Allah Maha Mengetahui)
  • Jazaa kallaahu khairan (جزاك الله خيراً; ucapan pernyataan terima kasih yang sebenarnya berarti “Semoga Allah memberikan balasan yang baik kepadamu”)

Al-Qur’an merujuk sifat Tuhan ada pada asma’ul husna (lihat QS. Al-A’raf 180, Al-Isra’ 110, Ta Ha 8, Al-Hasyr 24). Menurut Gerhard Böwering, “Nama-nama tersebut menurut tradisi dijumlahkan 99 sebagai nama tertinggi (al-ism al-aẓam), nama tertinggi Tuhan, Allāh.

Perintah untuk menyeru nama-nama Tuhan dalam sastra tafsir Qurān ada dalam Surah Al-Isra’ ayat 110, “Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai asma’ul husna (nama-nama yang terbaik),” dan juga Surah Al-Hasyr ayat 22-24, yang mencakup lebih dari selusin nama Tuhan.”

Sesungguhnya sifat-sifat Allah yang mulia tidak terbatas/terhingga. Di antaranya juga tercantum dalam Asma’ul Husna. Sebagian ulama merumuskan 20 Sifat Allah yang wajib dipahami dan diimani oleh umat Islam di antaranya:

  1. Wujud (ada) dan mustahil Allah itu tidak ada (adam).
Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.
—(Al A’raf 54)
  1. Qidam (terdahulu) dan mustahil Allah itu huduts (baru).
  2. Baqo’ (kekal) dan mustahil Allah itu fana’ (binasa). Allah sebagai Tuhan Semesta Alam akan hidup terus menerus. Kekal abadi mengurus makhluk ciptaan-Nya. Jika Tuhan itu fana’ atau mati, bagaimana nasib ciptaan-Nya seperti manusia?

 

Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati…
—(Al Furqan 58)
  1. Mukhollafatuhu lil hawaadits (tidak serupa dengan makhluk-Nya) dan mustahil Allah itu sama dengan makhluk-Nya (mumaatsalaatuhu lil hawaadits).
…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia…
—(Asy Syu’ara’ 11)
  1. Qiyamuhu binafsihi (berdiri dengan sendirinya) dan mustahil Allah itu qiyamuhu bi ghairihi (berdiri-Nya dengan yang lain).
…Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.
—(Al ‘Ankabut 6}
  1. Wahdaaniyah (Esa atau Satu) dan mustahil Allah itu banyak (ta’addud) misalnya 2, 3, 4, dan seterusnya. Allah itu Maha Kuasa.
Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan yang lain beserta-Nya. Kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.
—(Al Mu’minun 91}

 

Katakanlah, “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
—(Al Ikhlas 1-4)
  1. Qudrat (Kuasa) dan mustahil Allah itu ‘ajaz (lemah). Jikalau Allah itu lemah, tentu saja makhluk ciptaan-Nya dapat mengalahkan-Nya.
Jika Dia kehendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian tidak sulit bagi Allah.
—(Fathir 16-17)
  1. Ilmu (Mengetahui) dan mustahil Allah itu jahal (bodoh). Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, karena Dialah yang menciptakan-Nya.
…dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya…
—(Al An’am 59)

 

  1. Hayat (Hidup) dan mustahil Allah itu maut (mati). Hidupnya Allah tidak seperti hidupnya manusia. Manusia dihidupkan oleh Allah yang kemudian akan mati, sedangkan Allah tidak akan mati. Ia akan hidup terus selama-lamanya.
Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati…
—(Al Furqan 58)
  1. Sama’ (mendengar) dan mustahil Allah bersifat shomam (tuli).
…Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui
—(Al Baqarah 256)
  1. Bashar (melihat) dan mustahil Allah bersifat ‘Amaa (buta).
Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
—(Al Hujurat 18)

Allah Maha Tahu

Al-Quran menjelaskan Allah Maha Tahu atas segala sesuatu yang terjadi di alam semesta, termasuk hal pribadi dan perasaan, dan menjelaskan bahwa tidak ada sesuatu yang dapat sembunyi dari-Nya:

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

Yunus [10]:61

Konsep Tuhan berdasar spekulasi

Sebagian ulama berbeda pendapat terkait konsep Tuhan. Namun begitu, perbedaan tersebut belum sampai mendistorsi Al-Quran. Pendekatan yang bersifat spekulatif untuk menjelaskan konsep Tuhan juga bermunculan mulai dari rasionalitas hingga agnostisisme, panteisme, mistisme, dan lainnya dan juga ada sebagian yang bertentangan dengan konsep tauhid sehingga dianggap sesat oleh ulama terutama ulama syariat.

Dalam Islam, bentuk spekulatif mudah dibedakan sehingga jarang masuk ke dalam konsep tauhid sejati. Beberapa konsep tentang Tuhan yang bersifat spekulatif di antaranya adalah Hulul, Ittihad, dan Wahdatul Wujud.

Hulul atau juga sering disebut “peleburan antara Tuhan dan manusia” adalah paham yang dipopulerkan Mansur al-Hallaj. Paham ini menyatakan bahwa seorang sufi dalam keadaan tertentu, dapat melebur dengan Allah. Dalam hal ini, aspek an-nasut Allah bersatu dengan aspek al-lahut manusia. Al-Lahut merupakan aspek Ketuhanan sedangkan An-Nasut adalah aspek kemanusiaan. Sehingga dalam paham ini, manusia maupun Tuhan memiliki dua aspek tersebut dalam diri masing-masing.

Dalam sufistik-mistis, orang yang mengalami hulul akan mengeluarkan gumaman-gumaman syatahat (kata-kata aneh) yang menurut para mistikus disebabkan oleh rasa cinta yang melimpah. Para sufi yang sepaham dengan ini menyatakan

gumaman itu bukan berasal dari Zat Allah namun keluar dari roh Allah (an-nasut-Nya) yang sedang mengambil tempat dalam diri manusia.

Mansur al-Hallaj menggunakan ayat Al-Quran semisal surah Al-Baqarah ayat 34 untuk menjelaskan pahamnya. Dalam ayat itu berbunyi, “…sujudlah wahai para malaikat kepada Adam…”. Al-Hallaj menjelaskan bahwa mengapa Allah memerintahkan bersujud kepada Adam padahal seharusnya hanya bersujud kepada Allah dikarenakan saat itu Allah telah mengambil tempat dalam diri Adam sehingga Adam memiliki kemuliaan Allah.

Al-Hallaj juga menyebutkan hadits yang mendukung pendapatnya, seperti, “Sesungguh-Nya Allah menciptakan Adam sesuai bentuk-Nya.” Dan juga menurutnya hulul pernah terjadi pada diri Isa, dimana Allah mengambil tempat pada dirinya.

Ittihad adalah paham yang dipopulerkan Abu Yazid al-Bustami. Ittihad sendiri memiliki arti “bergabung menjadi satu”, sehingga paham ini berarti seorang sufi dapat bersatu dengan Allah setelah terlebih dahulu melebur dalam sandaran rohani dan jasmani (fana) untuk kemudian dalam keadaan baqa, bersatu dengan Allah.

Dalam paham ini, seorang untuk mencapai Ittihad harus melalui beberapa tingkatan yaitu fana dan baqa’. Fana merupakan peleburan sifat-sifat buruk manusia agar menjadi baik. Pada saat ini, manusia mampu menghilangkan semua kesenangan dunia sehingga yang ada dalam hatinya hanya Allah (baqa).

Inilah inti ittihad, “diam pada kesadaran ilahi”. Berbeda dengan Hulul, jika dalam Hulul “Tuhan turun dan melebur dalam diri manusia”, maka dalam Ittihad manusia-lah yang naik dan melebur dalam diri Tuhan.

Wahdatul Wujud merupakan paham yang dibawa Ibnu Arabi. Wahdatul Wujud bermula dari hadits Qudsi, “Aku pada mulanya adalah harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal. Maka Ku-ciptakan makhluk, maka mereka mengenal Aku melalui diri-Ku.” Menurutnya, Tuhan tidak akan dikenal jika tidak menciptakan alam semesta. Alam merupakan pemampakan lahir Tuhan.

Menurut paham ini, Tuhan dahulu berada dalam kesendirian-Nya yang mutlak dan tak dikenal. Lalu Dia memikirkan diri-Nya sehingga muncul nama dan sifat-Nya. Kemudian Dia menciptakan alam semesta. Maka seluruh alam semesta mengandung diri Allah, sehingga Allah adalah satu-satunya wujud yang nyata dan alam semesta hanya bayang-bayang-Nya. Bedasar pikiran tersebut, Ibnu Arabi berpendapat seorang sufi dapat keluar dari aspek kemakhlukan dan dapat melebur dalam diri Allah.Keberadaan Allah Para Imam yang empat telah sepakat bahwa Rahmat Allah Subhanahu wa ta’alla berada di atas ‘Arsy dan tidak ada satu pun dari makhluk yang serupa dengan-Nya.

Beberapa sarjana barat menyatakan bahwa Muhammad juga menggunakan istilah Allah dalam berkomunikasi dengan pagan Arab dan Yahudi atau Nasrani untuk menegakkan dasar umum dalam memahami nama Tuhan, sebuah klaim Gerhard Böwering menyatakan keraguan.

Ketika membandingkan politeisme Arab pra-Islam, Tuhan dalam Islam tidak memiliki teman dan sekutu maupun pertalian antara Tuhan dengan Jin.

Arab pagan pra-Islam bermula dengan adanya berhala yang dibawa ke tanah Arab oleh ‘Amr bin Luhay. Mereka lalu mencampur-adukkan antara monoteisme yang dibawa Ibrahim dan paganisme.

Mereka percaya takdir yang kabur, kuat, dan tidak dapat ditawar-tawar melebihi apa yang manusia tidak dapat kendalikan. Paham ini diganti dengan gagasan Islam Tuhan Yang Maha Pemurah namun Maha Kuasa.

Tuhan, dikatakan dalam al-Quran, “mencintai yang berbuat baik,” dan dua bagian dalam al-Quran mengekspresikan sebuah kasih yang saling mengerti antara Tuhan dan manusia, Tekanan ini lebih pada kebebasan kehendak Tuhan, sehingga setiap orang harus berserah diri. Yang paling utama, “menyerahkan diri kepada Allah” (Islam) merupakan agama itu sendiri.

Islam dengan tegas konsepsi Islam tentang Tuhan, tidak ada kesetaraan antara Tuhan dan ciptaan. Kehadiran Tuhan dipercaya ada dimanapun, dan tidak menjelma sebagai siapapun atau apapun.

Dalam Islam, kasih Tuhan muncul dalam seluruh tanda-tanda dan penciptaan Bumi dimana manusia dapat hidup dalam kehidupan yang layak. “ Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa   “

Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah [2]:21-22).

Pujian umat Muslim kepada Tuhan yang paling umum adalah ‘Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang’. Dua lainnya dari “asma’ul husna” Tuhan ‘Maha Kasih sayang’ (wadud) dan ‘Maha Pemberi’ (wahhāb).

Dalam Islam, mengatakan, Tuhan menyediakan nikmat bagi setiap golongan untuk mencapai kehidupan kekal (contoh: kehidupan di Surga) dengan mengirim utusan atau nabi untuk mereka. Islam juga mengembangkan doktrin perantaraan Muhammad pada Hari Kiamat yang akan menerima mereka dengan baik, meskipun yang berbuat dosa akan diadili atas dosa-dosa mereka baik di bumi maupun di neraka.

CARA AHLI TASAUF/TARIQAT DALAM MENGENAL ALLAH

BAGI para ahli Tasauf/Tariqat ada cara tersendiri di dalam mengenal Tuhan. Mereka sama meletakkan dasar-dasar teori pengenalan Tuhan yang tidak bersifat rasional. Berbeda dengan dasar-dasar teori pengenalan Tuhan yang berlaku bagi kalangan ahli Theology Islam (Ilmu Tauhid) dan juga berbeda dengan yang berlaku bagi kalangan ahli syariat (Ilmu Fiqeh). Bagi ahli Fiqah cara yang dipergunakan dalam mengenal Tuhan ialah

Dengan jalan keterangan dari dalil-dalil Naqli (Al-Quran dan Hadis). Di dalam memperkuat kepercayaan maka Al-Quran tidak dipergunakan sebagai alasan-alasan logika atau dengan penyelidikan akal fikiran seperti yang terjadi di dalam falsafah.

Berbeda dengan Ahli Kalam (Tauhid), di dalam cara mengenal Tuhan banyak mempergunakan jalan penyelidikan akal fikiran. Dengan dasar ini maka mengetahui siapa Tuhan, meskipun belum tentu mereka dapat menyaksikan Tuhan. Termasuk dalam golongan yang memakai cara ini ialah kaum “Failasof”.

Lain halnya dengan ahli Tasauf/Tariqat, mereka dapat mengenal Tuhan melalui dasar-dasar teori perasaan hati lantaran Ilham yang dilimpahkan Allah ke dalam jiwa manusia sebagai bentuk wujud pemberian rahmat-Nya. Hal ini lazimnya dapat dicapai oleh manusia ketika ia telah dapat sampai ke jinjang diri peribadinya dilepaskan dari segala macam bentuk godaan hawa nafsu lampau dengan memusatnya fikiran ingat kepada Zat Yang Maha Kuasa.

Keadaan yang demikian ini mengakibatkan segala macam rahasia di balik hijab cahaya Allah dan Nabi-Nya dapat tersingkap oleh dirinya dan diketahui secara jelas pada penglihatan mata hati. Sebagaimana orang yang melihat air jernih yang berada di dalam gelas yang jernih pula, sehingga segala sesuatu yang ada di balik gelas yang jernih itu dapat dilihat dengan terang-benderang.

Uraian di atas memberikan penegasan bahwa karena adanya perbedaan dasar-dasar pengenalan Tuhan yang berlainan di antara ahli Fiqih dan ahli Tauhid dengan ahli Tasauf/Tariqat, maka selayaknya sering menimbulkan perbedaan di dalam cara menyelidiki Tuhan dengan segala akibatnya (daripada sesuatu perbuatan).

Perlu diketahui bahwa biasanya orang yang suka berfikir negetif terhadap Ulama’ Tasauf/ Tariqat itu adalah akibat adanya kekurangan pengertian terhadap masalahnya. Sedangkan faktor-faktor yang mendorong timbulnya fikiran semacam itu antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Adanya pendangkalan pengertian tentang Islam, seringkali hal ini menyebabkan Islam hanya dilihat dari satu dimensi tidak secara keseluruhan dan bulat.
  2. Adanya ilmu-ilmu yang diperoleh tidak pada Guru Mursyid atau Syeikh, melainkan diambilkan dari hasil membaca buku-buku dengan upaya sendiri. Akibatnya jalan fikiran benyak dipengaruhi oleh hawa nafsu.
  3. Mereka cenderung mengambil dasar-dasar fikiran di dalam mengungkap Islam justeru bersumber dari dasar-dasar fikiran kaum “rasionalis matrialisme”, yakni fahaman yang beranggapan segala sesuatu dalam hidup harus dapat dipecahkan secara rasional dan dapat dilihat oleh pancaindera. Dasar teori “rasionalis matrialisme” inilah yang sering dipergunakan landasan berfikir kaum orientalis di dalam membahas tentang hal ke Timuran yakni tentang Islam dari berbagai aspeknya.
  4. Mereka mudah mengeluarkan fatwa “Mari kembali kepada Al-Quran dan Al-Hadis”, tetapi mereka sendiri banyak menyimpang dari tuntutan yang semestinya tercantum di dalam Al-Quran dan Al-Hadis itu sendiri.
  5. Adanya faktor alat-alat pelengkapan yang sangat dirasa kurang sekali, untuk keperluan mengadakan pembongkaran dan penelitian terhadap konstruksi bahasa Islam (Bahasa Arab). Seperti tidak menguasai Ilmu Lughat dengan Qawaidnya, Ilmu Hadis dengan Musthalahnya, Ilmu Balaghah, Badi’, Bayan dan Ma’aninya, dan lain-lain. Akibat yang ditimbulkan oleh kekurangan ini ialah mereka sering mengalami kesulitan di dalam memahami dan membahas kalam Al-Quran yang banyak berbentuk fasekh, baligh dan bahkan banyak yang majaz.

Faktor-faktor di atas itulah di antara penyebab mereka mudah tergelincir dalam kekeliruan yang tiada dirasa. Oleh karena itu tidak mustahil mereka dengan mudah tanpa ambil pusing terus cepat-cepat melontarkan anggapan bahwa para ahli Tasauf/Tariqat adalah sebagai orang yang hanya akan mengajak ummat atau jamaah untuk menjadi sesat dan bahkan dapat berakibat syirik dan kafir. Na’uzubillah himin zalik

Padahal dengan penjelasan tentang dasar hukum dan tujuan Tasauf/Tariqat Mu’tabarah di muka tadi, adalah jelas sentiasa sesuai dan berdiri tegak di atas tuntunan dan petunjuk langsung baik dari Al-Quran maupun Al-Hadis.

Ada dua jalan untuk mengenal Allah SWT:

  1. Mengenal Allah lewat akal

Akal adalah salah satu sarana untuk mengenal Allah. Fungsi akal adalah untuk berfikir dan merenung. Seseorang yang memperhatikan ayat-ayat Al-Qur’an akan menemukan bahwa banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menggugah akal untuk berfikir dan merenung, sehingga sampai pada hakikat kebenaran yang tidak diragukan Iagi (13:3; 16:11; 27:52).

Allah sangat rnencela orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya dan akan memasukan rnereka ke dalam neraka jahannam kelak (7:179)

  • Ayat Kauniyyah

Sesungguhnya banyak sekali fenomena-fenomena yang terdapat di mayapada ini yang menunjukan kebesaran Allah (2:164; 51:20-21; 3:190-191) :

-Fenomena terjadinya alam

Di antara sesuatu yang wajib diterima akal adalah bahwa setiap sesuatu yang ada pasti ada yang mengadakan. Begitu juga alam semesta ini, tentu ada yang menjadikannya (52:35)

-Fenomena kehendak yang tinggi

Kalau anda memperhatikan alam ini, anda yakin menemukan bahwa semua ini sangat tersusun rapi. Hal ini menunjukan bahwa di sana pasti ada kehendak agung yang bersumber dari Sang Pencipta Yang Maha Pintar dan Bijaksana (67:3).

Kita ambil beberapa contoh: seandainya matahari hanya mernberikan panasnya kepada bumi sebanyak setengah dari panasnya sekarang, pastilah kita membeku karena kedinginan, dan seandainya panasnya bertambah setengah pastilah kita telah menjadi abu. Seandainya malam lebih panjang sepuluh kali dari malam sekarang ini, tentulah matahari pada musim panas akan membakar seluruh tanaman di siang hari dan di malam hari seluruh tumbuhan membeku.

-Fenomena kehidupan

Bila anda perhatikan makhluk yang hidup di muka bumi anda akan menemukan berbagai jenis dan bentuknya, serta berbagai macam cara hidup dan berkernbang biak (24:5; 6:38). Semua itu menunjukkan bahwa di sana ada zat yang menciptakan, membentuk, menentukan rizkinya dan meniupkan ruh kehidupan pada dirinya (29:20; 21:30)

Bagaimana pintarnya manusia tentu ia tidak akan dapat rnembuat makluk yang hidup dari sesuatu yang belum ada. Allah SWT rnenantang manusia untuk membuat seekor lalat, jika mereka mampu (22:73-74; 46:4)

Fenomena petunjuk dan llham. Ketika kita mempelajari alam semasta ini kita akan melihat suatu petunjuk yang sernpurna dan yang sekecil-kecilnya sampai yang sebesar-besarnya. Bagaimana kita dapat membedakan argumentasi petunjuk ini? Bagairnana ia dapat terwujud? Sungguh disitu terdapat jawaban yang diberikan akal, yaitu adanya Zat yang memberi hidayah (petunjuk), (20:50). Seorang bayi ketika dilahirkan menangis dan mencari puting susu ibunya. Siapa yang mengajarinya. Seekor ayam betina ketika mengerami telurnya ia membolak-balikkan telurnya, agar zat makanan yang terdapat pada telur tersebut rata.

Dengan demikian telur tersebut dapat menetas. Secara ilmiyah akhimya diketahui bahwa anak-anak ayam yang sedang diproses dalam telur itu mengalami pengendapan bahan makanan pada tubuhnya di bagian bawah. Jika telur tersebut tidak digerak-gerakan niscaya zat makanan yang ada di dalamnya tidak merata, dengan demikian ia tidak bisa menetas. Siapa yang mengajarkan ayam untuk berbuat demikian?

Akal yang sehat akan berpendapat bahwa di sana pasti ada yang memberi hidayah (petunjuk) dan Al-Qur’an menerangkan bahwa zat yang memberi hidayah itu adalah Allah yang menciptakan lalu memberi hidayah.

-Fenomena pengabulan do’a, Kita sering mendengar seseorang yang ditimpa suatu musibah yang membuat hatinya hancur luluh dan putus harapan. Ia berdo’a menghadap Allah SWT, tiba-tiba musibah itu hilang. Kebahagiaanpun kembali dan datanglah kemudahan setelah kesusahan. Siapa yang mengabulkan doa?

Sudah menjadi suatu yang logis bila seorang menghadapi bahaya pasti menghadap Allah SWT dan berdo’a. Firman Allah (17:67; 10:22-23; 6:63-64). Siapa yang mengabulkan doa itu?

Ayat Quraniyyah, Ayat-ayat Allah yang terdapat dalam Al-Quran berupa ajaran-ajaran konsep hidup, peraturan yang lengkap adalah merupakan mu’jizat yang nyata yang menunjukan akan adanya Allah. Mu’jizat itu terdapat pada :

Keindahan penyampaiannya, ketinggian bahasanya dan kerapian susunan ayat-ayatnya, yang sampai kini tak seorang manusia pun yang mampu dan sanggup menandingi-Nya atau membuat walaupun satu ayat.

Al-Qur’an menantang siapa yang sanggup rnendatangkan satu surat ataupun satu ayat yang semisal (2:23; 10:38,11,13; 17:88). Pemberitahuan Al-Qur’an tentang hal ihwal kaum `Aad, Tsamud, Kaum Nabi Luth, tentang Maryam, Nabi Isa dll. (9:70; 14:9; 50:12-14).

Semua itu datang lewat lisan seoring yang ummi -tidak bisa membaca tidak bisa menulis- tidak pernah belajar kepada seorang guru serta tidak pernah hidup di tengah masyarakat berilmu atau di lingkungan Ahli Kitab (29:48). Semua itu menunjukan bahwa Al-Qur’an datang dari Allah SWT.

Pemberitahuan Al-Qur’an tentang kejadian-kejadian yang akan datang, persis seperti dikatakan Al-Qur’an,Pemberitahuan Al-Qur’an tentang kekalahan bangsa Persia atas bangsa Romawi (30:1-3),  Janji Allah kepada kaum Muslimin untuk menjadikan mereka pemimpin (khalifah) di muka bumi sebagaimana ummat sebelum mereka (24:55). Dan janji Allah itu betul-betul terjadi. Pada masa Nabi SAW kaum muslimin telah menguasai jazirah Arab. Pada massa sahabat mereka telah menguasai dan sampai ke Persia. Kemudian menguasai Romawi di Syam, Mesir dan sekitarnya.Janji Allah kepada kaum muslimin dengan kemenangan pada perang Badar (8:7). Janji Allah kepada Rasul-Nya bahwa ia akan memasuki Masjid Haram (48:27).

Pemberitahuan Al-Qur’an bahwa Abu Lahab akan mati dalam keadaan musyrik. Penemuan Ilmiyah yang tidak mungkin ditemukan oleh seorang ummi (tidak bisa baca tulis):

Pemberitahun Al-Qur’an bahwa mulanya bumi dan langit satu, kemudian terpisah dari langit (21:30)

Tentang asal kejadian manusia (22:5)

Pemberitahuan Al-Qur’an bahwa sumber rasa adalah urat syaraf yang terletak di bawah kulit (4:56)

Pemberitahuan Al-Qur’an tentang hampa udara bila manusia semakin tinggi naik ke langit (6:125)

Pemberitahuan Al-Qur’an bahwa bumi ini bundar (39:5)

Syari’at dan peraturan yang terkandung dalam Al-Qur’an dapat kita lihat dari beberapa segi:

Kelengkapan peraturan tersebut (syumul). Tidak ada situ amal, perbuatanpun dan yang sekecil-kecinya sampai yang sebesar-besarnya kecuali Islam telah menerangkan hukum dan caranya (6:38; 16:89)

Kesesuaian di segala zaman dan ternpat. Sebab Al-Quran diturunkan, sebagai petunjuk bagi seluruh manusia sampai hari kiamat (21:107; 34:28; 7:158)

Kekal sampai hari kiamat. Syariat Islam adalah syari’at yang kekal sampai hari kiamat (15:9),

  1. Mengenal Allah lewat rnemahami Asmaa’ul Husna

Cara kedua untuk mengenal Allah adalah dengan memahami Asma Allah yang baik (Asmaa’ul Husna)

  • Allah sebagai Rabb

Di antara ciri-ciri khusus dari kerububiyahan-Nya adalah:
-Dia sebagai pencipta segala sesuatu (40:62; 6:102)
-Yang memberi rizki (35:3; 11:6)
-Yang memiliki (2:284)
-Yang memberi manfaat dan bahaya (6:17; 35:55)
-Yang menghidupkan dan mematikan (30:40)
-Yang mengatur alam semesta ini

•Allah sebagai Penguasa raya (114:2)
Di antara ciri khas yang dimiliki oleh penguasa adalah:
-Dia sebagai pelindung (5:55; 2:257)
-Dia sebagai penentu hukum (6:57; 12:40; 6:114)
-Yang hendak memerintah dan melarang (7:54)
-Yang menentukan undang-undang peraturan (42:21)
-Yang ditaati (3:132; 3:32)

Allah sebagai Ilah (114:3). Diantara sifat-sifat khusus bagi Ilah adalah Dia sebagai zat yang wajib disernbah (20:14)

Menurut konsep Islam Tuhan adalah Zat yang Maha Tinggi Yang Nyata dan Esa. Ia adalah Pencipta yang Maha Kuasa dan Maha Tahu. Dia abadi yang menentukan takdir dan hakim semesta Alam.

Tuhan dikonseptualisasikan sebagai Yang Tunggal dan Maha Kuasa. Menurut Al-Quran ada 99 nama untuk Allah. Nama-nama ini mengingatkan kita akan sifat-sifat Allah. Nama yang paling terkenal dan sering dipakai ialah “Maha Pengasih” (ar-rahman) dan “Maha Penyayang” (ar-rahim)

Orang Islam percaya bahwa penciptaan alam semesta dan penguasaannya oleh Allah adalah bukti utama kemurahhatian Allah. Karena Tuhan muncul dimana pun ia tidak harus menjelma dalam bentuk apapun. Dalam Al-Quran tertulis, “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS al-An’am 6:103

Tuhan Maha Kuasa adalah Wujud mutlak dan Kesempurnaan mutlak yang sama sekali tidak memiliki aib dan cela. Wujud-Nya tiada duanya. Dia memiliki kemampuan untuk melakukan setiap perbuatan dan mengetahui segala sesuatu kapan pun dan apa pun kondisinya, Maha Mendengar dan Maha Melihat, memiliki kehendak dan ikhtiar, Hidup dan Pencipta segala sesuatu, Sumber segala kebaikan, Mencintai dan Pengasih kepada seluruh makhluk.

Konsep Tuhan merupakan konsep yang paling umum dan sederhana. Demikian sedernahanya sehingga dapat dipahami oleh seluruh manusia, bahkan oleh mereka  yang menafikan wujud Tuhan. Kendati pengenalan esensi dan hakikat Zat Tuhan mustahil bagi manusia namun masih banyak jalan untuk memperoleh keyakinan terhadap wujud Tuhan. Jalan-jalan untuk mengenal Tuhan dalam sebuah klasifikasi umum dapat dibagi menjadi beberapa bagian:

  1. Jalan rasional (Burhan Imkan dan Wujub)
  2. Jalan empirik (Argumen Keteraturan)
  3. Jalan hati (Argumen Fitrah)

Jalan terbaik dan termudah adalah melalui argumen fitrah (mengenal Tuhan melalui hati). Melalui argumen fitrah ini, manusia kembali kepada dirinya, ia tidak lagi memerlukan argumentasi rasional atau observasi empirik untuk dapat menemukan Tuhannya dan dengan melalui jalan hati ini ia sampai kepada Tuhan.

  1. Konsep tentang Tuhan merupakan sebuah konsep yang dapat dipahami dengan mudah oleh setiap manusia bahkan oleh mereka yang mengingkari wujud Tuhan.

Konsep ini terdapat dalam benak mereka sendiri. Lantaran semuanya tahu bahwa Tuhan adalah Pencipta seluruh entitas dan eksisten, Maha Kuasa untuk melakukan seluruh perbuatan, Maha Mengetahui atas segala sesuatu, Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Hidup dan seterusnya,  kendati mereka tidak menerima wujud Tuhan seperti ini.

  1. Meski konsep Tuhan merupakan konsep yang paling umum, namun mengenal hakikat dan esensi Zat Tuhan mustahil bagi manusia. Karena Zat Tuhan adalah nir-batas dan tanpa ujung. Di samping itu, juga karena zat dan tipologi manusia terbatas sehingga tidak mungkin baginya memahami hakikat Tuhan yang tidak terbatas. “Laa yuhithuna bihi ‘Ilman.” (sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya, Qs. Thaha 110) Boleh jadi atas dalil ini, al-Qur’an dalam memperkenalkan Tuhan menjelaskan sifat-sifat jamal dan jalal seperti Maha Kaya, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Tinggi, Maha Besar, Maha Sayang, Maha Kasih, Maha Pencipta dan sebagainya. Di samping itu, melalui media empirik  manusia dapat membina interaksi dengan benda-benda luaran dan memperoleh pengetahuan baginya sementara tidak ada yang semisal dan serupa dengan Tuhan Yang Mahakuasa, laisa kamtislihi syai..” (Tiada sesuatu apa pun yang menyerupainya, Qs. Syura 11)
  2. Meski hakikat Zat Tuhan tidak dapat dikenal secara sempurna akan tetapi manusia melalui banyak jalan dapat memperoleh keyakinan terhadap wujud Tuhan Yang Mahakuasa yang dapat dibagi menjadi beberapa jalan:
  3. Jalan rasional seperti burhân imkan dan wujub
  4. Jalan empirik dan indrawi seperti argumen keteraturan (burhân nazhm)
  5. Jalan hati atau argumen fitrah.
  6. Jalan termudah dan terbaik untuk mengenal wujud Tuhan adalah jalan hati atau melalui argumen fitrah. Artinya pada lubuk hati manusia yang paling dalam terpendam pengenalan, kecenderungan dan kecintaan kepada Tuhan. Dalam diri manusia senantiasa terdapat poin nurani dan satu daya magnetis yang kuat dalam hati manusia yang merajut hubungan dengan dunia metafisika dan merupakan sedekat-dekat jalan menuju kepada Tuhan
  7. Kendati mengenal Tuhan dan kecendrungan terhadap-Nya dan cahaya tauhid senantiasa terpendam dalam jiwa setiap manusia akan tetapi dengan adanya adab dan tradisi khurafat, pengajaran yang salah, kelalaian dan kesombongan, khususnya tatkala merasa sehat bugar dan sejahtera, maka terbentang tirai yang tebal dan lebar bagi manusia. Namun tatkala badai persoalan datang menghantam, tatkala manusia memutuskan seluruh harapannya pada segala sebab-sebab lahir dan memotong harapan dari segalanya, pada saat seperti ini seluruh tirai tebal dan lebar itu akan tersingkap dan cahaya hati akan memendar.

Semakin pikiran yang terkontaminasi dengan kesyirikan teramputasi dari hati dan menjadi murni dengan pelbagai kejadian ini, maka mau-tak-mau manusia tergiring menuju dunia metafisika.

Atas dasar ini, terdapat banyak ayat dalam al-Qur’an yang menandaskan bahwa melalui jalan ini, manusia akan mengingat nikmat fitrah dalam mencari Tuhan.

Para pendahulu Islam juga merupakan orang-orang yang acapkali tenggelam dalam keraguan dalam masalah pengenalan kepada Tuhan dengan jalan ini mereka akan terbimbing sebagai contoh perisitwa sejarah berikut ini:

Seseorang yang bingung dalam masalah makrifatullah mengalami keraguan dan sangsi, datang kepada Imam Shadiq As dan berkata, “Wahai Putra Rasulullah! Bimbinglah Aku untuk mengenal siapa Tuhan itu? Lantaran was-was telah menguasai dan mencengkram diriku. Imam bersabda, “Wahai hamba Allah! Apakah engkau pernah menaiki bahtera? Katanya, Iya, Pernah. Imam kemudian melanjutkan, “Apakah bahtera (yang pernah engkau naiki) itu rusak dan ketika itu tiada satu pun bahtera yang dapat menyelamatkanmu dan engkau tidak mampu berenang? Katanya, “Iya.” “Dalam kondisi seperti itu apakah hatimu tidak bersandar pada satu entitas yang dapat menyelamatkanmu dari kebinasaan?” sabda Imam Shadiq As. Kata orang itu, “Iya.” Imam Shadiq As bersabda, “Dialah Tuhan yang mampu menyelamatkanmu tatkala tiada satu pun yang mampu menyelamatkanmu atau mendengar suaramu meminta pertolongan.

Kesimpulannya bahwa setiap manusia memiliki makrifat, pengetahuan dan kecondongan kepada wujud Tuhan Yang Maha Kuasa, Berilmu, Pencipta, Hidup dan Pengasih dan seterusnya melalui jalan hati dan fitrah. Dan apabila ia lalai dari wujud Tuhan lantaran pelbagai pengaruh, namun ia tidak dapat mengingkari dalam kehidupannya sebuah peristiwa tidak terjadi dan seluruh harapannya terputus dari segala sesuatu, dan perhatiannya tidak jatuh kepada wujud Tuhan.

  1. Terkadang seseorang dengan observasi akurat dan pemikiran teliti dalam sifat-sifat dan hubungan-hubungan pelbagai fenomena empirik maka ia akan terbimbing kepada wujud Tuhan dan sifat-sifat-Nya seperti ilmu, hikmah, kudrah. Jalan ini, yang berpijak pada penyaksian alam natural dan telaah empirik seluruh fenomena natural disebut sebagai jalan empirik. Dengan memperhatikan beberapa keutamaan tipikal jalan ini, al-Qur’an memberikan perhatian khusus terhadap masalah observasi emprik dan dalam banyak ayat al-Qur’an menyeru manusia untuk merenungi fenomena-fenomena semesta yang ada di sekelilingnya, yang sekedudukan dengan tanda-tanda dan ayat-ayat takwini Tuhan. Sebagian periset Muslim, dengan bersandar pada salah satu tipologi alam natural yaitu desain dan keteraturan, mengemukakan sebuah argumentasi atas wujud Tuhan. Argumentasi seperti ini umumnya disebut sebagai argumen keteraturan (argument from design).

Atas dasar itu, kita dapat menjadikan argumen keteraturan sebagai contoh nyata untuk mengenal Tuhan melalui jalan empirik.

Mengenal “Ayat“dalam al-Qur’an dan Riwayat

Pada beberapa tempat al-Qur’an, kita dapat menjumpai beberapa ayat (tanda-tanda) yang menjelaskan tentang fenomena-fenomena natural. Fenomena-fenomena tersebut merupakan tanda-tanda dan ayat-ayat atas wujud Tuhan dan mengajak manusia untuk memikirkan dan merenunginya. Mengenal Tuhan melalui fenomena merupakan pengenalan tanda-tanda takwini di alam penciptaan yang merupakan contoh nyata jalan empirik terkadang disebut sebagai “pengenalan ayat dan afaqi.”

Sekelompok ayat-ayat lainnya, menyeru manusia untuk memikirkan ayat-ayat takwini Ilahi dan keteraturan yang berlaku pada alam keberadaan dan pada wujud manusia, merupakan dalil dan pedoman yang akan membimbing orang-orang yang berakal kepada Sumber Transendental: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Qs. Ali Imran [3]:190); Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (Qs. Al-Dzariyat [51):20-21).

Banyak ayat al-Qur’an yang menyinggung tentang fenomena tertentu dan hal itu dipandang sebagai ayat dan tanda atas keberadaan, ilmu dan kekuasaan Tuhan. Ayat-ayat ini sedemikian banyak sehingga menyebutkan ayat-ayat tersebut memerlukan ruang dan waktu yang lain.

Para pemimpin agama juga menekankan metode al-Qur’an pada “pengenalan ayat” Ilahi. Sebagai contoh, dalam sebuah hadis kompleks dari Imam Shadiq As yang bertutur-kata kepada salah seorang sahabatnya.“Wahai Mufaddhal! Pelajaran dan dalil pertama atas eksistensi Sang Pencipta adalah pembentukan, pengumpulan bagian-bagian dan keteraturan penciptaan di alam ini.

Oleh karena itu, jika engkau berfikir dengan baik dan benar mengenai alam ini, engkau akan dapatkan segala sesuatunya seperti Anda mendapatkan rumah dan istana yang didalamnya telah tersedia seluruh kebutuhan-kebutuhan hamba Tuhan. Langit seperti atap, yang diletakkan dengan tingginya, bumi seperti permadani yang telah dihamparkan, bintang-bintang seperti lampu-lampu yang telah disiapkan, mutiara-mutiara seperti cadangan yang tertimbun di dalamnya, dan segala sesuatunya terletak dalam tempatnya sendiri secara sempurna.

Kita  juga seperti orang yang diberikan rumah ini, dan segalanya diserahkan dalam ikhtiar kita. Segala jenis tumbuhan dan hewan disiapkan untuk kita untuk memenuhi kebutuhan dan kemaslahatan.” Segala hal di atas adalah dalil bahwa alam keberadaan ini telah diciptakan dengan ukuran yang sangat jitu, penuh hikmah, teratur, sesuai dan harmonis. Pencipta sesuatu itu adalah satu, Dialah yang Maha Pengatur, Pencipta keteraturan dan mengharmonisasikan bagian-bagian ciptaan-Nya.

  1. Jalan Akal

Pada jalan ini, keberadaan Tuhan ditetapkan dengan premis-premis, kaidah dan metode yang murni rasional.  Argumen-argumen dan dalil-dalil filosofis merupakan contoh-contoh nyata analisa-analisa akal dalam menetapkan wujud Tuhan. Jalan ini dibandingkan dengan dua jalan yang telah disebutkan di atas memiliki beberapa tipologi dan karakteristik tersendiri sebagaimana berikut ini:

  1. Kebanyakan argumentasi dan elaborasi rasional untuk menetapkan wujud Tuhan, lantaran berjalin berkelindan dengan pembahasan-pembahasan pelik dan jeluk filosofis sehingga tentu tidak terlalu berguna bagi mereka yang tidak familiar dengan pembahasan filsafat.
  2. Salah satu keunggulan jalan akal adalah dapat digunakan sebagai jawaban ilmiah atas pelbagai keraguan yang dilontarkan oleh kaum atheis dan juga pada tingkatan ekspostulasi (ihtijaj) dan debat, jalan akal ini dapat membongkar kelemahan dan kerapuhan argumen-argumen para pengingkar,serta menjawab pelbagai tantangan rasionalitas yang tidak dapat dijawab kecuali dengan argumen-argumen rasional.
  3. Jalan rasional untuk menetapkan keberadaan Tuhan dapat berfungsi konstruktif dalam proses penguatan iman seseorang; karena bilamana akal seseorang tunduk di hadapan kebenaran maka qalbu dan hati juga akan mengikuti. Dari sisi lain, peran argumentasi dan inferensi rasional sangat signifikan dalam menguatkan iman seseorang dan juga dalam mengeliminir sangsi dan keraguan.

Dengan memperhatikan performa tipikal jalan rasional dari satu sisi dan dengan memperhatikan kecenderungan fitrawi pikiran kuriositas manusia terhadap pembahasan-pembahasan jeluk rasional dan filosofis dari sisi lainnya, karena itu cendekiawan Muslim melakukan riset-riset mendalam pada bidang teologi rasional dimana sebagian dari riset tersebut berujung pada pendirian argumen-argumen baru untuk menetapkan keberadaan Tuhan atau menyempurnakan argumen-argumen sebelumnya.

Salah satu argumen rasional yang paling kokoh dalam menetapkan keberadaan Tuhan adalah argumen yang dikenal sebagai burhan wujub dan imkan. Argumen ini telah diulas dalam beberapa model yang akan kita sebutkan salah satu dari ulasan tersebut di sini. Argumen wujub dan imkan (sesuai dengan salah satu ulasan yang ada) dapat dijelaskan sebagai berikut:

“Di alam luaran (khârij) sudah barang tentu dan niscaya terdapat sebuah entitas (realitas). Apabila entitas ini Wâjib al-Wujûd maka ideal kita tertetapkan (dimana Wajib al-Wujud ini adalah wujud Tuhan itu sendiri) dan apabila entitas tersebut  adalah mumkin al-wujud (contigen being), mengingat kebutuhannya terhadap sebab dan kemustahilan tasalsul (infinite circle) dan daur (circular reasoning), maka ia membutuhkan entitas yang wujudnya bukan merupakan akibat dari entitas lainnya dan entitas semacam ini adalah Wâjib al-Wujûd (baca: Tuhan).

Betapapun juga ,kita dapat melihat bahwa ALLAH itulah yang mengatur alam semesta dan Dia adalah tidak mengenal ruang dan waktu, tidak mengenal bentuk dan ukuran, yang memerintah segenap perkara demikian keadaannya.

Sebagaimana yang telah dihuraikan,, ”ROH” tidak mempunyai tempat tertentu dalam sesuatu bahagian badan, tidak terpisah – pisah, tidak mengenal bentuk dan ukuran tetapi ia memerintah “JASAD”.

Demekianlah ALLAH, tidak mengenal ruang dan masa,tidak mengenal bentuk dan ukuran tetapi DIA memerintah Alam Semesta. Itulah Tuhan Yang Esa,Maha Kuasa,Maha Besar dan Maha Agung.

Dalam surat Al-Maidah ayat 105, Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ ۖلَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚإِلَى اللَّـهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”

Dalam ayat tersebut, orang-orang yang beriman ditekankan untuk mengenal hakikat dirinya. Dalam berbagai riwayat juga ditekankan masalah makrifatun nafs atau pengenalan diri sebagai jembatan untuk mencapai makrifat tentang wujud kesempurnaan mutlak Allah Swt. Imam Ali as dalam hal ini mengatakan, “Barang siapa mengenal dirinya, maka dia telah mengenal Tuhannya.” Karena manusia yang mengenal sifat-sifat dan potensi dirinya, maka tidak mungkin dia meninggalkan introspeksi diri.

Adapun selama manusia belum mampu mengintrospeksi dirinya, maka dia akan tenggelam dalam urusan materi dan hawa nafsu, serta tidak dapat mengenal alam spiritualitas dan Allah Swt. Jikalau kita perhatikan hubungan hakikat manusia dan hakikat Allah,  ia suatu hubungan yang sangat erat dan amat mesra,  seolah-olah dua nama bagi menunjukkan satu wujud.

Hubungan yang amat erat itu, umpama hubungan yang terjalin antara ruh dan jasad, sangat erat dan tidak dapat dipisahkan.  Karena eratnya hubungan itu, kewujudan Allah tidak akan diketahui tanpa wujudnya manusia, dan manusia tidak akan ada  jikalau tidak wujud Allah. Manusia adalah maujud (yang menunjukkan) kepada yang wujud.

Dengan itu kewujudan manusia adalah bagi menunjukkan kewujudan Allah, dan Allah menjadikan manusia untuk menunjukkan keadaannya dan dan Kekuasaannya. Persoalannya  mengapa Allah yang menjadi Tuhan dan Nur Muhammad (ruh) menjadi hamba, ini karana ia telah termaktub di dalam perjanjian yang telah dibuat antara Allah dan Nur Muhammad,  yang mewakili sekelian ruh.

Perjanjian itu yang dibuat di Alam Ruh, ia adalah bersifat kekal dan tidak boleh ditukar-tukar  lagi. Semasa di Alam Ruh, ruh telah berjanji dengan Allah, atau perjanjian  antara Nur Allah dan Nur Muhammad, atau perjanjian antara Dzat dengan Sifat. Dalam perjanjian itu Nur Muhammad  telah memperakui Dzat sebagai Tuhan dan Nur Muhammad  sendiri sebagai hamba.

Perjanjian itu QS  Al A’raf 7:172: Bukankah Aku ini tuhanmu? …Ya,, kami menjadi saksi.

Apabila Nur Muhammad  merupakan Dzat Tuhannya, maka secara tegas tugas yang pertama insan adalah ruh  perlu mengingati (berzikir) kepada Allah. Itulah sebabnya ruh diberi jasad supaya dapat menzahirkan diri  Rahsia Dzat, diri yang sebenar-benar diri, yaitu diri batin kepada manusia.

Pentingnya perjanjian itu adalah, tanpa perjanjian itu ruh tidak akan mempunyai  jasad dan Dzat Allah tidak akan wujud dalam ingatan (dzikir).

Oleh itu ruh perlu mengingat Dzat, yang Zahir memuji yang ghaib (Batin). Jikalau manusia tidak berzikir atau mengingati Allah, maka kewujudan Allah tidak akan nyata, Dzat akan ‘hilang’ dalam keghaiban dengan begitu saja. Allah berfirman QS Al Baqarah 2:152: Ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat kepada mu… berterima kasihlah kepadaKu dan jangan kamu mengkufuri nikmatKU.

Ya, Tujuan Allah memberikan jasad kepada ruh adalah untuk mengingatkan manusia tentang DzatNya, yaitu Tuhan semesta alam. Dan untuk mengingatkan bahwa setiap yang wujud di dunia ini adalah berasal daripada Dzat Allah. Tanpa adanya Diri Rahsia Allah (…maka Ku tiupkan RuhKu) pada manusia adalah mustahil manusia  wujud seperti yang ada sekarang ini.

Kesimpulannya kita beribadah dan  berzikir (mengingati Allah) adalah untuk mengingatkan diri kita sendiri (manusia) bahwa ruh kita ini sebenarnya berasal dari Dzat Allah,  dan dengan itu perlu mengingati Dzat Allah, iaitu Diri yang sebenar-benar Diri.

Tetapi,  walaupun telah mencapai makam Keesaan,…..hamba tetap hamba, karena Tuhan tidak suka kepada yang menyombong diri.

Mengenal, akan tuhan dapat dijabarkan secara singkat dan padat ialah :

  1. Maksudnya mengenal yang sebenar-benarnya diri/mengetahui asalnya diri supaya tahu yang sebenarnya agar mengenal akan Tuhan,
  2. Ini agar meng-Esa-kan yang sebenar-benarnya diri kepada Allah Ta’Ala agar jangan sampai Murakabah yang bersusunan pada Ilmu-Nya..

Adapun jua maksud mengenal  yang 1&2 itu menerangkan keadaan perkakas isi tubuh yang dzahir & yang bathin,maka jika sudah pula diketahui seperti ini hendaknya di fana-kan agar tetap ke-Esa an-Nya dan tidak siapa pun jua yang dapat menduakan-Nya/Allah saja yang Tunggal/Esa,Demikianlah maksudnya..

Kemudian daripada itu disinilah saya mulai menerangkan,yang bernama Diri itu ada 2 Bagian:

–Diri yang Dzahir,
–Diri yang Bathin.

adapun diri yang Dzahir itu asal daripada unsur Adam,Adam unsurnya memiliki 4 perkara,yaitu :

1.Api,
2.Angin,
3.Air,
4.Tanah

Dan berikut ini penjabaran/makna dari tulisan/huruf ALLAH yang sering kita lihat dalam kaligrafi,

–ALIF                                      —>    Api,
–LAM AWAL                          –>      Angin,
–LAM AKHIR                         –>      Air,
–HA                                         –>      TANAH/BUMI

  1. Adapun Api itu terbit dari Diri yang Bathin jua yang berhuruf ALIF bernama DZAT yang menjadi rahasia hurufnya pada kita,
  2. Adapun Angin itu terbit dari Diri yang Bathin jua yang berhuruf LAM AWAL bernama SIFAT yang menjadi nyawa pada kita/Nafas kita,
  3. Adapun Air itu terbit jua dari Diri kita yang Bathin,berhuruf LAM AKHIR bernama ASMA yang menjadi HATI pada kita (Air Nuthfah&Air Liur),
  4. Adapun Tanah/Bumi itu pula terbit dari Diri yang Bathin jua berhuruf HA bernama AF’AL menjadi tingkah Laku pada kita..

Jadi,demikianlah Diri kita yang Dzahir ini terbit dari bayang-bayang kita yang Bathin jua dan adanya Huruf yang bertuliskan ALLAH,tapi jangan sampai saudara mengakui bahwa saudara adalah Tuhan karena Diri kita

Yang Dzahir ini hanyalah Tulisan (Ingat,hanya sebatas Huruf/Tulisan) yang berlafadz ALLAH,untuk itulah Allah Ta’Ala menciptakan tulisan/huruf tersebut agar kita mengenal Diri kita yang Dzahir..

Kemudian daripada itu setelah kita mengetahui Diri kita yang Dzahir hendaklah kita ketahui Diri kita yang Bathin pula,agar dapat kita kenal akan Tuhan melalui Diri yang Bathin sebagaimana seperti sebuah sabda yang sangat dikenal oleh para kaum sufi “Man Arafa Nafsahu Fa Qad Arafa Rabbahu” barang siapa mengenal sebenar-benarnya Diri Niscaya Diri akan mengenal Tuhannya…

Tetapi sebelum kita mengenal akan Diri kita yang Bathin, hendaklah mati dahulu sebelum mati Diri kita yang Dzahir tadi,seperti Sabda Nabi SAW “Mutu Kabla Anta Mutu” jikalau telah kita matikan Diri yang Dzahir tadi,barulah nyata dari kita yang Bathin yang bernama sebenar-benarnya DIRI.

Simbol pemahaman Datu Sanggul/Datu Muning/Syekh Abdus Samad/Ahmad Sirajul Huda/Syekh Jalil,tentang keTuhanan ialah dari Bumi Naik ke Langit, maksudnya beliau mengenal Hakikat Tuhan berdasarkan apa-apa yang telah diciptakan-Nya (Alam Semesta) sehingga dari pemahaman terhadap alam semesta itulah menghantarkan pada kebenaran sejati yakni ALLAH SWT. Karena memang dari alam dan bahkan pada Diri sendirilah (manusia) terdapat tanda-tanda kekuasaan-NYA bagi yang mentafakurrinya.

Dengan kata lain ilmu Tasawuf Datu Sanggul adalah ilmu Laduni yang telah di karuniakan oleh ALLAH SWT kepada beliau,karena itu orang yang mempelajari Tasawuf pada dasarnya bisa menggabungkan 2 sumber acuan pokok,yakni :

  1. Berdasarkan Wahyu (Qauliyah),
  2. Berdasarkan tanda-tanda ayat-NYA (Qauniyah) yang terpampang jelas pada alam atau makhluk ciptaan-NYA..

“Tidak memakai ilmu atau bacaan tertentu,hanya menjaga keluar masuknya Nafas kapan ia keluar dan kapan ia masuk” sehingga secara rutin dapat melaksanakan sholat ke masjidil haram setiap hari jum’at…(kira-kira seperti itulah beberapa patah kata yang pernah di katakan Datu Sanggul kepada Datu Kalampayan/Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari).

Salah satu karya Datu Sanggul yang spektakuler ialah membuat tatalan/tatakan kayu besi(ulin) menjadi soko guru mesjid di desa tatakan,sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga ketika membuat soko guru pada Mesjid Demak..

adapun yang mematikan diri yang berhuruf dan bernama ALLAH itu demikian caranya :

  1. menafikan huruf Alif,
    2. Lam Awal,
    3. Lam Akhir,
    4. Ha

Adapun huruf-huruf yang demikian ;

  1. Alif = Allahusamma wati wal Ardh,
    2. Lam Awal         =  Lillah husamma wati wal Ardh,
    3. Lam Akhir        =  Lahulmulku samma wati wal Ardh,
    4. Ha                    =  Wal awallu wal akhirru Wal Dzahiru wal Batiinu

Jadi jikalau demikian diri kita yang dzahir itu nyata fana sekali2 tiada mempunyai apa-apa lagi (min adami ila wujdin,wamin wujdin ila Adami) jadi maksudnya dari pada kita diri yang dzahir walau sehelai rambut pun telah tiada mempunyai lagi apa-apa.

Tiada boleh dikatakan ada lagi pada ilmu-nya,hanya diri yang bathin jua ialah yang bernama Muhammad..seperti firman Allah ta’ala dalam hadits Qudsi : Ku jadikan semesta sekalian alam ini karenamu yaa Muhammad,Ku jadikan akan dikau karenaKu yaa Muhammad..

Adapun dzat mutlak yang dinamakan oleh kaum ahli sufi akan Dia ‘Asyiq itu ialah Ta’yin Hakikat,Ta’yin hakikat ke duanya adanya jua bukan dari padanya jua,maka tatkala hendak menyatakan IradatNya dari kodratNya maka asal Ta’yin hakikat itu dinamakan A’yan sabitah,yaitu ibarat cermin maka limpahlah wujd mutlak itu seperti yang di dalam cermin.

Adapun pertama,titik pindah wadah semata-mata maka ilmu A’yan sabitah hakikat tubuh Muhammad yaitu asal sekalian Nyawa adanya..kitab ini adalah dabitan dari kitab Babul haqq dan jadi kitab berencong..dengan perkataan perkenalan kepada Allah jangan susah mencari Allah,Allah telah lenyap menjadi nyawa sekalian batang tubuh.

–jangan susah mencari billah,
–billah ada didalam tubuh,
–jangan susah mencari Allah,
–Allah ada di dalam tubuh

Yaitu Nur Allah,dimana ada Nur-nya tentu tiada terputus dari yang punya Nur tersebut..bersatu tetapi tiada sekutu itulah antaranya kita dengan Allah..

ASAL DIRI  = DZAT ALLAH–>NUR DZAT–> NURULLAH–> MUHAMMAD(insan)–> NUR MUHAMMAD DZAT ALLAH–> JIBRIL & MUKARABIN

Adapun kemudian daripada itu ketahui olehmu hai salik bahwasanya tiada sempurna bagi seseorang mengenal diri melainkan mengetahui akan asal kejadian diri,yang mula-mula diciptakan oleh Allah Ta’ala..pasal pada menyatakan asal yang mula-mula di jadikan oleh Allah seperti pada sabda Abdullah ibn Abbas (ra) dari junjungan kita Nabi SAW : yang mula-mula di jadikan oleh Allah Ta’ala yaitu Nur NabiMu..

> la yaskuluhul lahu’illah = tiada yang menyebut Allah hanya Allah,

> laya rulahu ilallah = tiada yang melihat Allah hanya Allah,

>laya budullahu ilallah = tiada yang menyembah Allah hanya Allah

Seperti firman Allah di dalam hadits qudsi : dzahir tuhan didalam bathin hamba-nya,manusia itu rahasiaku dan aku pun rahasianya(insanu sirri wa ana sirrahu) bermula insan itu rahasiaku dan rahasiaku itu sifatku dan sifat-ku tiada lain dari padanya(al insanu sirri wassirri wa sifatun,wasifatin laghoiri) , pada hakikatnya bagi Allah katanya Allah kepada Muhammad.

Ini di dalam Al-Adzhim.. (jistumul insanu  nafsuhu,wakalbuhu, warkuhu, wassamahu, wabsarrahu warruha walisanuhu, wayajiduhu, lahuahila ana walla ana gairuhu : tubuh manusia dan hatinya dan nyawanya, pendengarannya, penglihatannya, tangan dan kakinya sekalian itu aku nyatakan dengan diriku bagi dirinya,dan insan itu tiada lain dari pada aku dan aku pun tiada lain dari padanya…maka tiada engkau berani akan di aku selama engkau masih tiada fana di dalamku, syahtiada ayal, terhila dan yaitu rupaku padamu..

Maka yaitulah yang dipegang oleh orang arif’billah,firman Allah : wa huwa ma’akum Ainama kuntum ” ada tuhan kamu serta kamu”,wa fi’an fusikum affala tafsiruun “dan didalam dirimu pun Aku maka tiadalah kamu lihat akan di Aku,karena Aku terlebih hampor dekat pada alat matamu yang putih,terlebih Aku hampir padamu..”

Maka memadailah keterangan dan nash Quran maka sampai disinilah keterangan-keterangan ajesamm andrakul idrakul fahwa idrak,bermula lemah dari pada pendapat maka yaitulah yang di dapat La Illaha Ila Allah,Ana…tiada tuhan melainkan Aku…Adapun La Illaha –> isyarat wujd makhluk.

Ila jadi firman Allah : tafakur seketika itu dengan berhadap terlebih baik daripada kebaktian seribu tahun.

Adapun yang terhimpun di dalam tubuh kita ini ada 2 ruh,yang tidak diketahui yaitu ruh yang dinamakan ruhul quds dan yang kedua dinamakan ruhani. Adapun sebutan ruh itu atau ucapannya “ALLAH”, dan yang satu lagi ucapannya “HU”inilah yang mau kita cari yang dinamakan rahasia Allah Ta’ala dengan Muhammad..

Jikalau mau diketahui hendaklah di cari guru / mursyid yang tahu ilmu hakikat jikalau tiada, jangan dibuka karena tiada tahu jalan rahasia tuhan yang tersembunyi dalam diri kita..ketahuilah olehmu hai talib yang beroleh pertolongan dari pada nabi kita SAW dengan syafa’at pada yaumil akhir. Bermula jalan yang sempurna dari pihak dzahir dan bathin ada jalan musahadah,mukaballah,mukarammah dan musahallah..adapun arti dari:

-musahadah            =   berpandangan,
-mukaballah          =  berhadapan,
-mukarammah      =  menyertakan,
-musahallah          =  menyempurnakan

Jika ditanya apa arti di pandang dan apa arti berhadapan dan juga arti dari menyertakan?

Adapun yang berhadapan itu Ajim artinya Cita-cita yang amat tangkas,dan adapun yang dipandang itu itikat,yang menyertakan itu yakin karna nyata tiada syak dan was-was dalamnya,menyempurnakan itu Tauhid menyampaikan segala penglihatan mata batin dari pada meng-Esa-kan. Adapun Nakitah dan tanajul pun segala asyaita yin awal itu ilmu namanya kuat jua tiada lainnya,adapun wadah itu wujd mutlak pun namanya jua,ilmu pun namanya jua.Lam :

Wujud,kidam,baqa,muhalafatulil hawadis,kiyamuhu binafsih

Adapun yang dikatakan nyawa muhammad itu sebenarnya tiada lain kedzahiran empat  sifat Allah Ta’ala yang dinamakan kalimah ILLA = kodrat, iradat, ilmu, hayat.

Adapun yang dikatakan tubuh muhammad sebenar-benarnya dari 5 = kadirrun, muriddun, aliimun, hayyun, dan wahdaniyyat. jadi yang bernama Muhammad tiada lain ialah sifat tuhan jua..

LA = Wujud,kidam,baqa,muhalafatulil hawadis,kiyamuhu binafsih —> Diri/dzat,
ILAHA = Sama,basar,kalam,sami’un,basirun,mutakalimun—> Nyawa/Sifat,
ILLA = kodrat,iradat,ilmu,hayat—> Hati/asma,
ALLAH = kadirun,muridun,aliimun,hayyun,Wahdaniyyat—> Tubuh/Af’alAllah –> isyarat Qadim.

Yaitu sifat kebenaranNya, kesempurnaanNya, keelokanNya, kekerasanNya jua ialah yang dinamakan kalimah tauhid yang mulia itu Lailahaillallah. Kemudian daripada itu hendaklah diketahui pula maksudnya yang mulia itu supaya jangan syak dan waham lagi pada pengetahuan tauhid pada marifat, adapun kalimah Lailahaillallah terbagi 2 ;

  1. LAILAHA itu sifatnya kaya tiada kekurangan yaitu Allah Ta’ala.
    2. ILLALLAH itu sifatnya kekurangan yang masih berkehendak yaitu Muhammad

Maka jika sudah demikian hendaklah diketahui pula apa yang bernama Muhammad oleh Allah Ta’ala,dan bernama Allah Ta’ala itu apa oleh Muhammad supaya menjadi Tauhid pada kalimah yang mulia itu jua hendaknya.

Adapun ilmunya dan rahasianya oleh Allah Ta’ala,karena Allah Ta’ala itu nama bagi dzat wajibbal wujd dan mutlak.yaitu; Bathin Muhammad dan Allah Ta’ala itu nama bagi sifat dzahir Muhammad.

Jadi dzahir dan bathin Muhammad itulah yang bernama Allah, jikalau demikian patut kalimah yang mulia inilah pertemuan hamba dengan Tuhannya dan lagi kalimah yang mulia ini di umpamakan, sebesar gunung tempat perhimpunan segala rahasia dan segala ruh, nyawa dan segala hati,tubuh,nama,ilmu dan segala isi-isinya dan segala islam, iman, segala tauhid, segala marifat, habis terhimpun semua dikalimah ini.

Maka yang penting diamalkan supaya mahir seperti kata Yaumul Mesra, mesra pada siang dan malam, terutama diwaktu dalam sembahyang 5 waktu karna diwaktu itulah Tuhan menurunkan petunjuk yang baik adanya. Jadi yang mengatakan kalimah Lailahaillallah tiada lain Dia sendiri jua,memuja diriNya sendiri jua.LAYASRIFULLAHU ILLALLAH = tiada mengenal Allah hanya ALLAH..

Jadi yang sebenar-benarnya Muhammad, benar-benar diri dan jangan saudara syak dan ragu lagi karna tubuh, hati, nyawa, rahasia..Muhammad itulah yang mempunyai insan yakni Syariat namanya,  adapun nyawanya itu dinamai Alam Mitsal Hakekat namanya, adapun rahasia itulah yang bernama Alam Ruh yakni Marifat namanya. Maka sesudah demikian hendaklah Muhammad itu pula yang mengenal akan Tuhannya.

ALLAH(dzat) —> Alif(sifat)—> * (asma)—> Af’al<—>(dzat wajibbal wujd) muhammad—>HU ALLAH.

Tetapi belum lagi Muhammad mengenal akan Tuhannya sebelum fana tubuhnya, hatinya, nyawanya, rahasianya, dzatnya, sifatnya, af’al nya seperti firman Allah Ta’ala dalam Quranul Kariim ; Qul Huwallahhu Ahad artinya katakan wahai muhammad ALLAH itu ESA.

ESA pada dzatnya, sifatnya, asmanya, af’alnya seperti dalam Quran kariim ; serahkan dirimu yaa Muhammad kepada Tuhanmu yang hidup tiada mati. Maka keterangan Muhammad mengEsakan, menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala seperti yang tersurat didalam kitab ini jangan syak dan waham lagi dengan perkataan ini.

ALIF — adapun bathin Muhammad Dzat kepada Allah Ta’ala rahasia kepada hambanya, LAM AWAL — adapun Awal Muhammad itu sifat kepada Allah Ta’ala Nyawa kepada hambanya, LAM AKHIR — adapun akhir Muhammad Asma kepada Allah Ta’ala Hati kepada hambanya, HA — adapun dzahir Muhammad Af’al kepada Allah Ta’ala tubuh kepada hambanya

Jadi rahasia, nyawa, hati, tubuh Muhammad itupun tiada ada padanya jua. Tiada lagi kepada sifat, kepada asma, kepada Af’al nya seperti firmanNya ; Wal awaalu wal akhiiru, wal dzahirru wal batiinu. Jadi Muhammad itu sekedar nama jua/keterangan yang lebih terang lagi menentukkan Muhammad itu sebenar-benarnya tiada lain kedzahiran 5 sifat Allah Ta’ala jua yang dinamakan kalimah LAILAHAILLALLAH..

32

MENGENAL DIRI SENDIRI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Langkah pertama untuk mengenal diri sendiri ialah dengan mengetahui bahawa diri itu tersusun dari bentuk-bentuk lahir (yang disebut badan atau jasad) dan bentuk-bentuk bathin (yang disebut qalbu atau jiwa).

Yang dimaksudkan dengan Qalbu itu bukanlah yang berupa segumpal daging yang berada disebelah kiri badan di bawah susu (yang dikatakan jantung).

Tetapi dialah Roh suci dan berpengaruh di dalam tubuh dan dialah yang mengatur jasmani dan segenap anggota badan. Dialah Hakikat Insan Allah (yang dinamakan diri yang sebenarnya diri). Dialah yang bertanggung jawab dan dialah yang dipuji atau diseksa oleh Allah SWT.

Untuk meneliti dan mengenal diri sendiri itu, maka jasad dapat dimisalkan sebagai suatu kerajaan. Dan roh sebagai Rajanya yang berkuasa dan dialah yang mengatur jasmani. Jasmani adalah sebagai suatu Kerajaan dalam bentuk Alamuasyahadah atau Alam Nyata. Seluruh badan jasmani akan hancur binasa setelah mati, tetapi hakikat Roh dan jiwa tidak akan mati, ia tetap tinggal dalam Ilmu Allah.

Dan Rohani / Jiwa adalah sebagai Raja dalam bentuk Alam Ghaib, maksudnya bahawa Roh / Jiwa itu adalah ghaib, keadaannya tidak terpisah-pisah, tidak terbatas oleh waktu dan ruang, tidak tentu tempatnya dalam sesuatu bahagian tubuh, oleh kerana itu maka setiap manusia adalah merupakan pemerintah di atas kerajaan kecil didalam dirinya sendiri. Sungguh benar sekali istilah yang menyebutkan bahawa ”Manusia itu adalah mikromos” atau dunia kecil dalam dirinya sendiri.

Sebahagian orang berpendapat bahawa hakekat Qalbu atau Roh itu dapat dicapai dengan cara memejamkan kedua matanya serta melupakan segala yang ada di sekitarnya, kecuali peribadinya.

Dengan cara begitu akan dapat juga kilauan dari alam abadi kepada peribadinya (dalam mengenal dirinya). Tetapi bagaimanapun juga segala pertanyaan yang mendalam tentang hakikat Roh yang sesungguhnya, adalah tidak diizinkan oleh Allah Yang Maha Esa.

Didalam Quran Allah berfirman: ”Mereka itu bertanya kepada Engkau Muhammad, tentang Roh, katakanlah bahawa Roh itu urusan Tuhanku, tidak kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit saja” .(S. Isra 85) . Apabila seseorang bertafakur atas dirinya sendiri, maka ia akan dapat mengetahui bahawa dirinya itu pada masa dahulunya, ”tidaknya pernah ada”. Firman Allah: ”Tidaklah manusia itu ingat bahwa kami menjadikannya dahulunya sedang ia belum ada suatu apapun”.

Menurut ilmu batin pada diri manusia terdapat sembilan jenis Roh. Masing-masing roh mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Ke sembilan macam roh yang ada pada manusia itu adalah sebagai berikut :

  1. Roh Idofi (Roh Ilofi) : adalah roh yang sangat utama bagi manusia. Roh Idofi juga disebut ”JOHAR AWAL SUCI”, karena roh inilah maka manusia dapat hidup. Bila roh tersebut keluar dari raga, maka manusia yang bersangkutan akan mati. Roh ini sering disebut ”NYAWA”. Roh Idofi merupakan sumber dari roh-roh lainnya pun akan turut serta. Tetapi sebaliknya kalau salah satu roh yang keluar dari raga, maka roh Idofi tetap akan tinggal didalam jasad.

Dan manusia itu tetap hidup. Bagi mereka yang sudah sampai pada irodat allah atau kebatinan tinggi, tentu akan bisa menjumpai roh ini dengan penglihatannya. Dan ujudnya mirip diri sendiri, baik rupa maupun suara serta segala sesuatunya. Bagai berdiri di depan cermin.

Meskipun roh-roh yang lain juga demikian, tetapi kita dapat membedakannya dengan roh yang satu ini. Alamnya roh idofi berupa nur terang benderang dan rasanya sejuk tenteram (bukan dingin). Tentu saja kita dapat menjumpainya bila sudah mencapai tingkat “INSAN KAMIL”.

  1. Roh Rabani : Roh yang dikuasai dan diperintah oleh roh idofi. Alamnya roh ini ada dalam cahaya kuning diam tak bergerak. Bila kita berhasil menjumpainya maka kita tak mempunyai kehendak apa-apa. Hatipun terasa tenteram. Tubuh tak merasakan apa-apa.
  2. Roh Rohani : Roh inipun juga dikuasai oleh roh idofi. Karena adanya roh Rohani ini, maka manusia memiliki kehendak dua rupa. Kadang-kadang suka sesuatu, tetapi di lain waktu ia tak menyukainya.

Roh ini mempengaruhi perbuatan baik dan perbuatan buruk. Roh inilah yang menepati pada 4 jenis nafsu, yaitu :

  • Nafsu Luwamah (aluamah)
    • Nafsu Amarah
    • Nafsu Supiyah
    • Nafsu Mulamah (Mutmainah).

Kalau manusia ditinggalkan oleh roh rohani ini, maka manusia itu tidak mempunyai nafsu lagi, sebab semua nafsu manusia itu roh rohani yang mengendalikannya. Maka, kalau manusia sudah bisa mengendalikan roh rohani ini dengan baik, ia akan hidup dalam kemuliaan.

Roh rohani ini sifatnya selalu mengikuti penglihatan yang melihat. Dimana pandangan kita tempatkan, disitu roh rohani berada. Sebelum kita dapat menjumpainya, terlebih dulu kita akan melihat bermacam-macam cahaya bagai kunang-kunang. Setelah cahaya-cahaya ini menghilang, barulah muncul roh rohani itu.

  1. Roh Nurani : Roh ini dibawah pengaruh roh-roh Idofi. Roh Nurani ini mempunyai pembawa sifat terang. Karena adanya roh ini menjadikan manusia yang bersangkutan jadi terang hatinya. Kalau Roh Nurani meninggalkan tubuh maka orang tersebut hatinya menjaid gelap dan gelap pikirannya.
    Roh Nurani ini hanya menguasai nafsu Mutmainah saja.

Maka bila manusia ditunggui Roh Nurani maka nafsu Mutmainahnya akan menonjol, mengalahkan nafsu-nafsu lainnya. Hati orang itu jadi tenteram, perilakunya pun baik dan terpuji. Air mukanya bercahaya, tidak banyak bicara, tidak ragu-ragu dalam menghadapi segala sesuatu, tidak protes bila ditimpa kesusahan. Suka, sedih, bahagia dan menderita dipandang sama.

  1. Roh Kudus (Roh Suci) : Roh yang di bawah kekuasaan Roh Idofi juga. Roh ini mempengaruhi orang yang bersangkutan mau memberi pertolongan kepada sesama manusia, mempengaruhi berbuat kebajikan dan mempengaruhi berbuat ibadah sesuai dengan kepercayaan yang dianutnya.
  2. Roh Rahmani : Roh dibawah kekuasaan roh idofi pula. Roh ini juga disebut Roh Pemurah. Karena diambil dari kata ”Rahman” yang artinya pemurah. Roh ini mempengaruhi manusia bersifat sosial, suka memberi.
  3. Roh Jasmani : Roh yang juga di bawah kekuasaan Roh Idofi. Roh ini menguasai seluruh darah dan urat syaraf manusia. Karena adanya roh jasmani ini maka manusia dapat merasakan adanya rasa sakit, lesu, lelah, segar dan lain-lainnya. Bila Roh ini keluar dari tubuh, maka ditusuk jarumpun tubuh tidak terasa sakit. Kalau kita berhasil menjumpainya, maka ujudnya akan sama dengan kita, hanya berwarna merah.

Roh jasmani ini menguasai nafsu amarah dan nafsu hewani. Nafsu hewani ini memiliki sifat dan kegemaran seperti binatang, misalnya: malas, suka setubuh, serakah, mau menang sendiri dan lain sebagainya.

  1. Roh Nabati : ialah roh yang mengendalikan perkembangan dan pertumbuhan badan. Roh ini juga di bawah kekuasaan Roh Idofi.
  2. Roh Rewani : ialah roh yang menjaga raga kita. Bila Roh Rewani keluar dari tubuh maka orang yang bersangkutan akan tidur. Bila masuk ke tubuh orang akan terjaga. Bila orang tidur bermimpi dengan arwah seseorang, maka roh rewani dari orang bermimpi itulah yang menjumpainya.

Jadi mimpi itu hasil kerja roh rewani yang mengendalikan otak manusia. Roh Rewani ini juga di bawah kekuasaan Roh Idofi. Jadi kepergian Roh Rewani dan kehadirannya kembali diatur oleh Roh Idofi. Demikian juga roh-roh lainnya dalam tubuh, sangat dekat hubungannya dengan Roh Idofi.

Kemudian manusia itu akan mengetahui bahawa ia sebenarnya dijadikan dari setitis air (mani) yang tidak mempunyai akal sedikitpun, tidak mempunyai pendengaran, penglihatan, kaki, tangan, kepala dan sebagainya. Dari sinilah manusia akan mengetahui dengan terang dan nyata, bahawa tingkat kesempurnaan yang ia dapat capai bukanlah ia yang membuatnya, kerana sehelai rambut pun manusia itu tidak akan sanggup membuatnya. Dengan jalan memikirkan hal tersebut diatas maka manusia itu dapat menemukan dirinya di dalam kejadian yang sangat kecil bila dibandingkan dengan Kekuasaan dan Kasih-Sayangnya Tuhan yang menjadikannya.

Dan apabila manusia itu berfikir jauh maka ternyata didalam kehidupan ia memerlukan berbagai macam keperluan seperti makanan, pakaian, perumahan dan sebagainya ,yang kesemuanya itu telah tersedia lengkap didalam muka bumi ini.

Disini manusia akan menjadi sedar akan sifat Rahman dan Rahimnya Allah yang begitu besar dan luasnya. Demikianlah alam dunia yang diciptakan Allah penuh dengan keajaiban keajaiban. Rangka jasad adalah bukti Kekuasaan dan KebijaksanaanNya dan penuh pula dengan berbagai-bagai alat kelengkapan yang dibuatNya sebagai tanda Kasih Sayang-Nya, pada keperluan hidup manusia, maka oleh kerana itu manusia akan mengetahui bahawa Allah itu ”ADA”. Oleh kerana itu benar-benar bahawa dengan penelitian dan pengenalan diri sendiri akan menjadi kunci bagi pengenalan Allah.

Al-Quran telah memberikan banyak penjelasan tentang hakikat wujud manusia. Allah Swt dalam surat Shad berfirman:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

Artinya: “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”.

Dengan demikian, ketika manusia memahami bahwa hakikat ruhnya adalah ruh Allah Swt dan merupakan makhluk yang paling dekat dengan-Nya, maka dia akan merasakan kebanggaan yang luar biasa besar. Memahami hal tersebut, manusia akan mengetahui betapa tinggi derajatnya dan tidak akan mengorban derajat tersebut demi mendekati kenistaan. Dengan kata lain, memahami kesucian hakikatnya, manusia juga akan dapat memahami dengan baik nilai-nilai akhlak dan sosial.

Dalam surat Al-Mukminun ayat 14, Allah Swt berfirman:

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚفَتَبَارَكَ اللَّـهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Artinya: “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”

Alalh Swt juga telah menjelaskan bahwa seluruh yang ada di langit dan bumi, semuanya diciptakan untuk manusia dan diamanahkan kepadanya. Dalam surat Al-Luqman ayat 20, Allah Swt berfirman:

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّـهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗوَمِنَ النَّاسِ مَن يُجَادِلُ فِي اللَّـهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُّنِيرٍ

Artinya: “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah

menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.”

Pada hakikatnya, Al-Quran menjelaskan kepada manusia bahwa dia bukan makhluk yang tercipta secara kebetulan seperti akibat dari benturan atom dan molekul. Melainkan diciptakan dan terpilih sebagai makhluk terunggul di alam semesta ini. Oleh karena itu, manusia pula yang mengemban risalah dan kepemimpinan. Seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 30:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖقَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖقَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Al-Quran menyebut manusia sebagai makhluk terunggul serta khalifah Allah Swt di muka bumi bahkan para malaikat pun bersujud kepadanya. Akan tetapi pada saat yang sama, Al-Quran juga menjelaskan kelemahan, ketergesaan, kesombongan dan ketamakan yang dimiliki manusia.

Manusia memiliki potensi untuk berkembang dan sempurna, namun pada saat yang sama juga berpotensi menyimpang dan tergelincir. Manusia berada di antara dua pilihan untuk sempurna atau tersesat. Jika memilih untuk mencapai kesempurnaan, maka para malaikat tidak akan dapat menandinginya, namun jika memilih jalan kegelapan, maka manusia akan lebih hina dari binatang.

Mengetahui potensi, kemampuan dan kekuatannya sendiri, akan menjadi sumber seluruh amal perilakunya menuju kesempunaan. Kemampuan manusia memilih itu sendiri yang akan menjadi alasan mengapa dia akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya. Semakin dalam manusia mengenali dirinya, maka semakin banyak pula potensi yang akan terbuka baginya. Ketika manusia telah mengenali diri dan kepribadiannya, maka pencapaian menuju kesempurnaan sudah bukan lagi menjadi opsi melainkan keharusan baginya.

Pada awal penciptaannya dari setetes benih kecil dan tidak berarti, ketika masuk ke alam rahim, dengan cepat dia berubah dan sempurna secara fisik. Sperma yang tidak bernilai itu dengan cepat berubah menjadi manusia yang utuh. Menurut seorang pakar, “Kota yang besar ini dengan ribuan pintu dan gerbang yang menarik, ribuan pabrik, gudang, jaringan pipa, serta berbagai pusat kontrol, hubungan yang rumit dan berbagai

tugasnya, pada sebuah sel, termasuk di antara kota terumit dan menakjubkan yang jika kita ingin membangun kota tersebut dengan kinerja yang sama, maka kita

memerlukan puluhan ribu hektar, berbagai pabrik dan gedung serta mesin yang sangat rumit untuk mewujudkannya. Akan tetapi menariknya, alam penciptaan mewujudkan semuanya dalam ukuran 15 juta mikromilimeter.”

Jantung, ginjal, paru-paru, dan purluhan ribu kilometer urat dan cabangnya, bertugas menyalurkan air dan makanan untuk lebih dari 100 trilyun lebih sel dalam tubuh manusia. Manusia juga memiliki berbagai indera yang masing-masingnya merupakan tanda kebesaran Allah Swt. Lebih menariknya lagi, ini semua hanya satu bagian dari wujud manusia yaitu dimensi materi. Akan tetapi, ruh manusia hingga kini masih menjadi alam yang tidak dapat dinalar oleh akal. Oleh karena itulah, dengan sendirinya manusia mengucapkan tasbih dan pujian kepada Allah Swt atas kebesaran-Nya.

Pengenalan hakiki manusia terhadap dirinya akan menggiringnya untuk mengenal Allah Swt yang merupakan wujud kesempurnaan mutlak. Akan tetapi perlu diperhatikan pula bahwa untuk mengenal wujud Allah Swt, tidak bisa dengan menggunakan sarana atau alat materi, melainkan dengan menggunakan pemahaman, makrifat dan merenungi tanda-tanda kebesaran-Nya. Sama seperti ketika kita merasakan panas pada sebuah benda yang menjadi sumber panas, begitu pula dengan sumber-sumber cahaya, suara dan lain-lain. Oleh karena itu, manusia juga dapat mencapai makrifat wujud Allah Swt dengan merenungi dan memahami berbagai tanda kebesaran Allah Swt di alam semesta. Di antara sekian banyak tanda-tanda kebesaran Allah Swt, tidak ada yang lebih baik untuk dipahami manusia kecuali wujudnya sendiri. Jika seseorang tidak dapat mengenali dirinya, maka dia juta tidak akan pernah mengenal yang lain.

Keyakinan bahwa manusia adalah makhluk paling unggul dan ada tujuan di balik pemilihan keunggulannya tersebut, akan menciptakan sebuah pengaruh pada dirinya. Dengan mengenal hakikatnya, manusia akan terdorong untuk mencapai kesempurnaan dan menjauhkan dirinya dari segala keburukan.

Manusia akan menemukan hakikat paling esensial dalam dirinya. Penyingkapan hakikat tersebut secara otomatis akan mendorongnya untuk menghindari kehinaan dan kelemahan. Ketika dia memahami nilainya, maka sekali pun dia tidak mengijinkan noda kenistaan pada wujudnya. Setelah itu, dia akan mampu mengubah esensi setiap kecenderungan dalam dirinya. Kecenderungan seperti kecintaan pada harta, kedudukan, jabatan, kekuatan dan popularitas.

Yang pasti, manusia yang telah menyadari bahwa dirinya adalah khalifah Allah Swt di muka bumi, akan mengerahkan seluruh daya dan potensi dalam dirinya untuk mencapai tujuan yang bernilai. Manusia seperti ini, jika menerima sesuatu, tidak akan menggunakannya untuk pribadi melainkan demi mewujudkan tujuan-tujuan penciptaannya.

Di sisi lain, ketika kehilangan sarana maupun kekayaan materi, dia tidak merasa kehilangan dan kesedihan. Karena dia telah memiliki ruh dan makrifat yang sangat berharga dan bernilai. Seperti ini pula penjelasan jika manusia telah mengenal dirinya maka dia telah mengenal Tuhannya.

Pengertian kalimat “Siapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya” yang tersebut dalam Atsar, ialah mengenal diri sendiri merupakan salah satu cara mengenal Allah swt. apabila manusia seperti kita merenungi kelemahan dirinya, keterbatasannya, kebutuhannya dan ketidakberdayaannya mengambil kemanfaatan untuk dirinya serta menghindarkan bahaya darinya, maka ia akan mengetahui ia mempunyai Tuhan dan Pencipta yang mandiri dalam menciptakannya, mandiri dalam membantunya, mengatur dan mengendali-kannya, kemudian ia sadar bahwa ia hanyalah seorang hamba yang serta terbatas dan semua persoalanna di tangan lainnya, yang tiada lain adalah Allah, Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana.

Demikian juga halnya manusia jika mau berfikir tentang permulaan penciptaannya, ia asalnya tidak ada, lalu diwujudkan oleh Allah swt. dengan kemurahan-Nya, Allah menciptakannya dari setetes air hina dan nuthfah (zigot) yang busuk, kemudian membentuknya, membuka pendengaran dan penglihatannya hingga menjadikannya dalam bentuk yang sangat baik, memperindahnya dengan sifat-sifat mulia dan derajat-derajat yang tinggi baik bersifat keagamaan maupun keduniawian.

Allah swt. telah berfirman:

“Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.” , Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).

“Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (QS. al-Mu’minun: 12-14).

Inilah suatu rahasia,bahwa engkau itu sampai kepada Aku hai hambaku. Adalah ini jika kau berada didalam.

Maka engkau itu lenyaplah di dalam kosong yang berisi. Kalimat tauhid itu ialah maqam Ruh yg tiada lupa ia kepada yg menjadikan alam semesta ini,itulah yang di sebut engkau itu bertubuh…..Engkau dengarkan bunyi di dalam tubuhmu..!,itu berbunyi.

Maka oleh itu hanya dirinya NYAlah yg ada,yang tahu serta melihat dan yang mendengar, dan yang hidup. Maka itu lah yang di sebut engkau itu lenyap dengan AKU(fana). (kitab babul haq)

Siapa mengenal dirinya dengan fananya, maka dia mengenal Tuhannya dengan Baqa’Nya. Manusia yang mengenal dirinya dengan kehampaan dan serba salahnya, maka ia mengenal Tuhannya dengan keselarasan dan anugerahNya.

Insan yang  mengenal dirinya dengan rasa butuhnya, maka dia mengenal Tuhannya dengan menegakkan rasa sangat terdesak untuk menuju hanya kepada dan bagi Allah. Setelah itu mereka diajak secara berjama’ah untuk mengenal dirinya  hanya bagi Tuhannya, maka sedikit sekali kebutuhan kepada selain Allah.

Seorang Hamba yang mengenal Allah melalui hidayah, maka ia pasti menyerahkan sepenuhnya kepadaNya. Orang yang  mengenal Allah melalui RububiyahNya, ia tegak dengan prasyarat Ubudiyah kepadaNya. Seseorang mengenal Allah melalui balasanNya, maka terjadilah rasa mohon pertolongan padaNya. mengenal Allah melalui kecukupan dariNya, maka ia tidak butuh kepada selain DiriNya

Umat yang mengenal Allah, sedang dalam qalbunya ada hasrat selain Allah, berarti tak pernah sujud yang sejati kepada Allah. Dia yang mengenal Allah, sedang ia tidak merasa cukup bersama Allah, maka Allah tidak pernah mencukupinya.

Anak Manusia  yang berkata, “Allah” namun dalam hatinya masih tersisa selain Allah, sesungguhnya ia tidak pernah berkata “Allah”. Memang, Diri yang takut kepada Allah dalam segala hal, maka Allah memberikan rasa aman dari ancaman segala hal.

Keturunan Adam yang bahagia dengan Tuhannya, maka segala hal selain diriNya tak membuatnya gentar. Pemeluk agama islam yang mencari kemuliaan kepada Yang Empunya Sifat Mulia, maka ia pun jadi mulia.

Diri sendiri  yang mencari kemuliaan selain DiriNya, maka tak ada kebanggaan dan tak ada kemuliaan yang didapatinya. Siapa yang putus dari sebab akibat dunia yang bisa menyibukkan dari Allah Swt, maka ia akan bertemu dengan segala kesibukan yang menyambungkan dirinya pada Allah Swt. Siapa yang meninggalkan ikatan ketergantungan pada makhluk, ia akan bahagia dalam seluruh waktunya.

Tubuh  yang merasakan manisnya dzikir pada Tuhannya, ia akan bosan mengingat selain Allah. Siapa yang menyembunyikan rahasia hatinya, akan muncul rahasia-rahasia tersembunyi padanya. Siapa  saja orang yang menjadikan hasratnya adalah Satu hasrat kepadaNya, maka Allah mencukupi seluruh hasratnya.

Hamba yang mencari ridlo Tuhannya, ia tak akan pernah peduli dengan kebencian selain Allah. Siapa yang merasa cukup puas dengan maqom (posisi ruhani)nya, ia malah terhijab dari apa yang di depannya (maqom lebih tinggi). Siapa yang dekat kepada Allah, maka segala hal selain Allah terasa asing.  Siapa yang menghendaki kemuliaan dunia akhirat, hendaknya ia memutuskan diri hanya kepada Sang Pemilik dunia akhirat.

Siapa yang meninggalkan kebaikan menjaga diri, ia akan terpleset dari jalan hidayah. Siapa yang hendak minum dari Cinta Allah satu tegukan, hendaknya ia juga minum  dengan memuntahkan segala hal selain Allah. Siapa yang mesra bahagia dengan selain Allah, segalanya membuatnya jadi gentar. Siapa yang hatinya tenteram pada selain Allah, maka ia tak dapat apa pun dari Allah Swt.

Kebanyakkan  manusia pada hari ini menganggap bahwa  “Hidup” itu hanyalah makan, bergerak, mencari kemewahan, bekerja dan lain lain lagi, mereka mengangap bahwa jasad kasar mereka itu hidup dengan sendiri nya yang membolehkan mereka melakukan kerja kerja harian mereka itu, tapi pernah kah mereka terfikir bahwa jasad mereka itu sebenar nya ialah benda mati yang tidak dapat hidup dan bergerak dengan sendiri nya  tanpa ada sesuatu yang menghidupkan nya?

Ketahuilah tanpa yang hidup itu jasad tidak ada arti nya. Tetapi benda mati ini lah yang dijaga dan diutamakan orang di dunia ini. Sedangkan semua tahu bila mati kelak, jasad akan busuk dan di tanam atau di bakar. Ini menunjukkan mati ialah bila hidup yang menghidupkan jasad tadi meninggalakan jasad.

Dimanakah letaknya yang di panggil hidup itu? Yang mana dengan adanya yang hidup itu lah jasad kita ini hidup dan   sebenarnya ia diam di dalam jasad kita sendiri, dan dia lah yang di panggil “DIRI” sebenar “DIRI”  dan menghidupkan jasad kita ini. Tapi pernah kah kita terfikir tentang “DIRI” itu atau cuba mencari dan mengenal nya.

Tentu nya soal yang akan timbul ialah dari mana “DIRI” itu, dimana letaknya “DIRI” itu, terdiri dari apakah “DIRI” itu, dan kemanakah perginya “DIRI” itu apabila jasad mati atau dengan lain perkataan “DIRI” meninggalkan jasad???  dan yang penting sekali bolehkah kita mengenal “DIRI” sebenar “DIRI” kita itu.

Kita semua tahu bahawa ujud nya roh!  Tak ada siapapun yang dapat menafikan kenyataan ini, Karena semasa Tuhan bertanya kepada sekalian Roh  ” siapa kah Tuhan kamu ” dengan sepontan Roh menjawab ” bahkan ” yang membawa makna mereka telah pun mengenal Tuhan yang esa.

Setelah jasad Adam terbaring maka Tuhan telah memerintahkan Roh memasukki ke jasad Adam, tetapi sebelum itu Roh  telah bertanya ” dimanakah harus aku masukki, ya ALLAH ”  dan ALLAH pun menjawab ” masuk lah mana mana yang kamu senangi ”  Maka masuk lah Roh melalui hidung dan dengan itu maka bernafaslah kita melalui hidung.

Ini menunjukkan bahawa sesudah Roh memasukki badan, maka barulah bermulanya kehidupan kepada jasad dan terbukti di sini bahawa Roh lah yang dikatakan penghidup kepada jasad, dan mati pada jasad ialah apabila Roh keluar apabila sampai ajal nya.

Jasad kasar kita ini terdiri dari 2 yaitu:

  1. Dihidupkan

Apakah maksud dihidupkan dan bahagian mana?   Yang dihidupkan ialah Jasad kasar kita ini, ia nya di hidupkan oleh “”Roh”” yang berada di dalam Jasad. “Roh” memasukki jasad semasa kita 100 hari dalam rahim ibu kita. “Aku tiupkan sebagian dari roh ku” kata firman Allah. Sejak itu lah kita hidup di dalam rahim ibu kita dan kemudian di lahirkan kedunia dan terus menjalankan kehidupan dari bayi hingga lah akhir hayat.

  1. Menghidupkan

Yang menghidupkan ialah roh, yang datangnya (diciptakan) dari Allah, yang memasuki jasad dan terus hidup, tugas roh ialah menghidupkan jasad tetapi sayang nya jasad tidak langsung terfikir bahawa roh lah yang hidup sebenar benar hidup dan menghidupkan jasad yang bila mana roh meninggalkan nya maka matilah dia di panggil orang dan di tanam atau di bakar.

MATI  IALAH  APABILA  ROH  MENINGGALKAN  JASAD

Jadi siapakan yang berkepentingan disini, tentunya jasad kerana tanpa roh maka jasad tidak bermaana langsung. Jasad perlukan roh untuk hidup tapi kenapa roh tidak dipedulikan semasa hidup nya Perlukah roh di kenali?

Sebelum mengenal Roh  haruslah kita mengenal “DIRI”, Untuk pengetahuan semua bahawa “DIRI” itu mendatang kemudian setelah roh memasukki jasad, bagaimana ini berlaku?

Apabila Roh berada di dalam Jasad maka perkembangan cahaya Roh itu yang memenuhi dalaman Jasad keseluruhan nya, ini telah menyebabkan ujudnya “Diri” yang  berupa  saperti jasad nya memenuhi ruang dalaman jasad nya. Maka ujudlah “Diri” sebenar “Diri” dan “DIRI”  ini lah yang harus di kenal. (kenal lah diri maka kenal tuhan)

Ada berbagai cara dan kaedah digunakan untuk mengenal “DIRI” ini, bergantung kepada perguruan dan kaedah guru guru mengajar kepada murid murid nya. Semua

perguruan ini betul dan cara apa sekali pun di gunakan, tujuan nya satu ya itu untuk mengenal “DIRI” sebenar “DIRI” . Untuk mengenal “DIRI” ini ada 3 cara:

  1. Terbuka dengan sendiri nya
  2. Ushakan sendiri untuk membukanya
  3. Dibukan oleh guru. (guru guru yang berpengalaman)

Apakah yang di maksudkan “dibuka” Di buka maksudnya ialah membukakan jalan jalan pancaran cahaya “DIRI” itu hingga keluar dari jasad dan terpancarlah cahaya “DIRI” itu keluar dari jasad melalui jalan jalan nya dan dengan rasa yang bergetar getar pada jalan keluar nya, rasa ini dapat dirasakan dengan nyata oleh murid murid yang mempelajari ilmu ini.

Ini lah rahsia hidup kita dan “DIRI” ini lah yang menghidupkan jasad selagi ada hayatnya di dunia ini, “DIRI” ini harus di kenal dan dirasai sepenuh nya oleh kita, kerana ia mengandungi banyak rahsia dan serba guna, di dunia dan akhirat, Insyaallah.

Kenal kah “DIRI” tadi kepada Tuhan nya? Sudah tentu kerana dia datang dari sana, dari MAHA pencipta dan MAHA besar. Banyak lag persoalan yang akan timbul apabila kita dapat mengenal “DIRI” kita yang sebenar benar “DIRI” ini, kita harus belajar dari “DIRI” ini:

Dia mengetahui karena dia datang dari yang MAHA mengetahui

Dia bijak karena datang dari yang MAHA bijaksana

Dia lah sebaik baik Guru.

Kehidupan sebenarnya ialah di dalam, dan kehidupan dunia ini mendatang kemudian.  Kesimpulan nya kenali lah “DIRI” kita ini yang dia lah sebenar benar “DIRI” dan kemukakan lah dia dalam segala urusan kita di dunia ini sementara menunggu hari yang kekal abadi, karena dia kekal disebabkan di kekalkan.

Ilmu Mengenal “DIRI” ialah satu ilmu pengetahuan yang harus di ketahui oleh semua orang kerana tiap tiap maanusia membawanya di dalam jasad kasar mereka, harus kah penghidup jasad kita ini kita biarkan begitu saja tanpa mengenali dan merasakan nya, hanya semasa maut hampir datang menjemput baru kita sedar yang dia akan meninggalkan kita

MENGENAL ALLAH MELALUI AYAT-AYATNYA
DALIL-DALIL EKSISTENSI ALLAH
DALIL FITRAH
Q.S. 7:172

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (١٧٢)

  1. dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:

Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Q.S. 29:61

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ (٦١)

  1. Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).

Q.S.43:9
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ (٩)

  1. dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”.

DALIL AQLI
Q.S. 41:53

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (٥٣)

  1. Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

Q.S. 27:88

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ (٨٨)

  1. dan kamu Lihat gunung-gunung itu, kamu sangka Dia tetap di tempatnya, Padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Q.S. 87:1-4
سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأعْلَى (١)الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى (٢)وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى (٣)وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَى (٤)

  1. sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Tingi,
    2. yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya),
    3. dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk,
    4. dan yang menumbuhkan rumput-rumputan,

DALIL NAQLI
Q.S. 4:82
أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا (٨٢)

  1. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.

Q.S. 17:88
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا (٨٨)

  1. Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”.

Q.S. 15:9
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (٩)

  1. Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya[793].

Q.S. 3:137

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُروا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (١٣٧)

  1. Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah[230]; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).

[230] Yang dimaksud dengan sunnah Allah di sini ialah hukuman-hukuman Allah yang berupa malapetaka, bencana yang ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan rasul.

Q.S. 12:111
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأولِي الألْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (١١١)

  1. Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Q.S. 11:120
وَكُلا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (١٢٠)

  1. dan semua kisah dari Rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini

telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.

TAUHID

Q.S. 21:92
إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ (٩٢)

  1. Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu[971] dan aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah aku.

[971] Maksudnya: sama dalam pokok-pokok kepercayaan dan pokok-pokok Syari’at.

MANAJERIAL (RUBUBIYAH)

Q.S. 1:2
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢)

  1. segala puji[2] bagi Allah, Tuhan semesta alam[3].

Alhamdu (segala puji). memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatannya yang baik. lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.

Rabb (tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati yang Memiliki, mendidik dan Memelihara. Lafal Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). ‘Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu.

Allah Pencipta

Q.S. 7:54
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (٥٤)

  1. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy[548]. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.

[548] Bersemayam di atas ‘Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.

Allah Pemberi Rizki

Q.S. 25:2
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا (٢)

  1. yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya[1053].

[1053] Maksudnya: segala sesuatu yang dijadikan Tuhan diberi-Nya perlengkapan-perlengkapan dan persiapan-persiapan, sesuai dengan naluri, sifat-sifat dan fungsinya masing-masing dalam hidup.

Q.S. 51:57-58
مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (٥٧)إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (٥٨)

  1. aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.
  2. Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.

Allah Pemilik

Q.S. 2:284
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٨٤)

  1. kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Allah Raja

Q.S. 1:4
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤)

  1. yang menguasai di hari Pembalasan

[4] Maalik (yang menguasai) dengan memanjangkan mim,ia berarti: pemilik. dapat pula dibaca dengan Malik (dengan memendekkan mim), artinya: Raja.

Yaumiddin (hari Pembalasan): hari yang diwaktu itu masing-masing manusia menerima pembalasan amalannya yang baik maupun yang buruk. Yaumiddin disebut juga yaumulqiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa’ dan sebagainya.

KEMAHARAJAAN (MULKIYAH)

Allah Pemimpin

Q.S. 7:196
إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِينَ (١٩٦)

  1. Sesungguhnya pelindungku ialahlah yang telah menurunkan Al kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.

Allah Pembuat Hukum

Q.S. 12:40
مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ إِنِ الْحُكْمُ إِلا لِلَّهِ أَمَرَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٤٠)

  1. kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) Nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang Nama-nama itu. keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Allah Pemerintah

Q.S. 7:54
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلا لَهُ الْخَلْقُ وَالأمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (٥٤)

  1. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy[548]. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.

[548] Bersemayam di atas ‘Arsy ialah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dsan kesucian-Nya.

Allah Yang dituju

Q.S. 6:162
قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٦٢)

  1. Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

ALLAH SWT ADALAH SANG KHALIQ
DAN DIRIMU ADALAH MAKHLUQ

Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.
(As Shoffat : 96), Allah, dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, Kemudian dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat
(QS : Ar Rum – 54)

Segala wujud hidupmu dan semua bentuk perbuatanmu adalah makhluq ciptaan Allah SWT. Kenalilah dirimu sebagai Makhluq ciptaan-Nya dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah Sang Khaliq (Dzat yang Maha Menciptakan semua ciptaan). Seluruh perbuatanmu berada dalam kuasa-Nya, hingga dzahir dan bathinmupun ada di dalam gengaman-Nya, dan sesungguhnya kamu dari tidak ada kemudian diadakan, sesungguhnya kamu tidak berwujud lalu di wujudkan, sesungguhnya kamu tidak hidup dan kemudian dihidupkan dimuka bumi atas kehendak Allah SWT, dan sesungguhnya kamu adalah makhluq yang lemah hingga kemudian diberi kekuatan oleh Dzat yang Maha Kuat.

Dan kamu tidak dapat menghendaki (tidak mampu berkehendak) kecuali  apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.

(QS : At Takwir – 29)

Sebagai makhluq !, kitapun tidak dapat hidup dan tidak pula dapat bergerak, kita tidak dapat berkata, tidak pula dapat mendengar serta tidak akan dapat melihat, bahkan sedikitpun kita tidak akan dapat berkehendak, terkecuali semua itu terjadi atas kehendak Allah SWT, dan sesungguhnya kita semua tidak dapat lepas dari Kehendak Allah SWT, bahkan dimanapun dan kapanpun kita berada hingga dalam keadaan apapun Sungguh Allah SWT senantiasa bersama kita, karena segala sesuatu yang terjadi pada pada diri kita berada dalam pengawasan-Nya.dan dia (Allah) bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah  Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS : Al Hadid – 4)

Lalu sudahkah ?, semua unsur perbuatanmu yang hakekatnya adalah makhluq ciptaan Allah SWT tersebut, telah engkau manfaatkan secara benar dijalan Allah SWT, atau selama ini dirimu menyalahgunakan kekuatan serta kehendak yang berasal dari Allah SWT tersebut hanya untuk memenuhi kepentingan nafsumu sendiri, padahal sesungguhnya segala sesuatu yang kalian dapat dari Allah SWT itu nantinya akan ada tanggung jawabnya!, dan sudahkah dirimu siap menghadapi kenyataan yang dahsyat itu!.

Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya.(QS : Al Baqoroh – 235),Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki (dasar) pengetahuan tentang (Ma’rifat). Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya.(QS : Al Isra – 36)

Maka berfikirlah (Tafakkur) agar dirimu digolongkan menjadi hamba yang berakal. Berserah dirilah kepada Allah SWT (Tawakaltu ‘alaallah) agar dirimu mendapatkan limpahan rahmat beserta hidayah-Nya, dan kenalilah siapa sesungguhnya Allah SWT (Ma’rifatullah) agar dirimu dapat beriman secara khaq (Musyahadah) kepada Allah SWT sebagai Dzat yang Maha Menciptakan lagi Maha Menguasai seluruh alam semesta. Rasulullah SAW bersabda :

“ Orang yang mengingat Allah (Ma’rifatulloh) diantara orang yang lalai (Mahjub)
adalah seperti orang yang hidup diatara orang yang mati ” (Ihya’ Ulumudin / 9 – Al Imam Ghozali, RA)

“Tidaklah akan dapat bergerak walau sebutir debu berpindah dari tempatnya terkecuali semua itu terjadi atas Kehendak Allah SWT, Bahkan tidaklah dirimu akan mampu bernafas !, karena pada hakekatnya,keluar masuknya nafas didalam tubuhmu merupakan wujud kehendak serta takdir Allah SWT yang sangat nyata terhadap dirimu.

Maka takdir manakah yang kalian inginkan pada nafasmu ?,syukur atau kufur, nikmat atau laknat, Ma’rifat atau Mahjub, Lillahita’ala atau Linafsi, khusnul khotimah atau syu’ul khotimah, dan beruntunglah bagi mereka yang telah merasakan lezatnya Ma’rifat”

ZIKIR TAJALLI YANG DIBACA DALAM HATI SECARA ‘SIRR’

1X atau 3X, kapan saja, dan nafas ditarik dengan “HUU” kemudian ditahan dan lidah dilekukkan  di langit-langit :

  1. INNI BIHAKKI MUHAMMADIN ALHAQ QULHAQ, . artinya  Sesungguhnya diriku adalah kebesaran wujud NUR MUHAMMAD yang sebenar benarnya.
  2. INNI BIHAKKI ZATUL BUKTI KHALISUL MUTLAK, YAHUU.. artinya Bahwa sesungguhnya diriku adalah wujud kebesaran NUR MUHAMMAD semata-mata yang Maha Suci lagi Esa tiada ada yang lainnya besertanya.
  3. LAA MAUJUDUN ILLA NURUL AL AQ QULHAQ, YAHUU.. artinya Tiada lain wujudku melainkan wujud kebenaran NUR MUHAMMAD yang sebenar-benarnya.

Pilih yang mana dari tiga diatas ini yang dirasa mudah, dan waktu keluar nafas bacalah dalam hati “ALLAHU AKBAR”. Untuk mengenal Allah ada empat cara yaitu mengenal wujud Allah, mengenal Rububiyah Allah, mengenal Uluhiyah Allah, dan mengenal Nama-nama dan Sifat-sifat Allah. 

Mengenal Wujud Allah

Yaitu beriman bahwa Allah itu ada. Dan adanya Allah telah diakui oleh fitrah, akal, panca indera manusia, dan ditetapkan pula oleh syariat.

Ketika seseorang melihat makhluk ciptaan Allah yang berbeda-beda bentuk, warna, jenis dan sebagainya, akal akan menyimpulkan adanya semuanya itu tentu ada yang mengadakannya dan tidak mungkin ada dengan sendirinya. Dan panca indera kita mengakui adanya Allah di mana kita melihat ada orang yang berdoa, menyeru Allah dan meminta sesuatu, lalu Allah mengabulkannya. Adapun tentang pengakuan fitrah telah disebutkan oleh Allah di dalam Al-Qur`an:

“Dan ingatlah ketika Rabbmu menurunkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Rabbmu?’ Mereka menjawab: ‘(Betul Engkau Rabb kami) kami mempersaksikannya (Kami lakukan yang demikian itu) agar kalian pada hari kiamat tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami bani Adam adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan-Mu) atau agar kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu sedangkan kami ini adalah anak-anak keturunan yang datang setelah mereka.’.” (Al-A’raf: 172-173).

Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas bahwa fitrah seseorang mengakui adanya Allah dan juga menunjukkan, bahwa manusia dengan fitrahnya mengenal Rabbnya.

  1. Mengenal Rububiyah Allah

 Rububiyah Allah adalah meng-esakan Allah dalam tiga perkara yaitu penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan-Nya. Dalam masalah rububiyah Allah, sebagian orang kafir jahiliyah tidak mengingkarinya sedikitpun dan mereka meyakini bahwa yang mampu melakukan demikian hanyalah Allah semata.

Mereka tidak menyakini bahwa apa yang selama ini mereka sembah dan agungkan mampu melakukan hal yang demikian itu. Lalu apa tujuan mereka menyembah ’tuhan’ yang banyak itu? Apakah mereka tidak mengetahui jikalau ‘tuhan-tuhan’ mereka itu tidak bisa berbuat apa-apa? Dan apa yang mereka inginkan dari sesembahan itu?

Keyakinan sebagian orang kafir terhadap tauhid rububiyah Allah telah dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

“Kalau kamu bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka? Mereka akan menjawab Allah. Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (Az-Zukhruf: 87).

Demikianlah Allah menjelaskan tentang keyakinan mereka terhadap tauhid rububiyah Allah. Sekedar keyakinan mereka yang demikian itu tidak menyebabkan mereka masuk ke dalam Islam dan menyebabkan halalnya darah dan harta mereka sehingga Rasulullah SAW mengumumkan peperangan melawan mereka.

Jika kita melihat kenyataan yang terjadi di tengah-tengah kaum muslimin, kita sadari betapa besar kerusakan akidah yang melanda saudara-saudara kita. Banyak yang masih menyakini bahwa selain Allah, ada yang mampu menolak mudharat dan mendatangkan manfaat, meluluskan dalam ujian, memberikan keberhasilan dalam usaha, dan menyembuhkan penyakit. Sehingga mereka harus berbondong-bondong meminta-minta di kuburan orang-orang shalih, kuburan para wali, atau di tempat-tempat keramat.

Mereka harus pula mendatangi para dukun, tukang ramal, dan tukang tenung atau dengan istilah sekarang paranormal. Semua perbuatan dan keyakinan ini, merupakan keyakinan yang rusak dan bentuk kesyirikan kepada Allah.

Ringkasnya, tidak ada yang bisa memberi rizki, menyembuhkan segala macam penyakit, menolak segala macam marabahaya, memberikan segala macam manfaat, membahagiakan, menyengsarakan, menjadikan seseorang miskin dan kaya, yang menghidupkan, yang mematikan, yang meluluskan seseorang dari segala macam ujian, yang menaikkan dan menurunkan pangkat dan jabatan seseorang, kecuali Allah.

Semuanya ini menuntut kita agar hanya meminta kepada Allah semata dan tidak kepada selain  Nya.

  1. Mengenal Uluhiyah Allah

Uluhiyah Allah adalah mengesakan segala bentuk peribadatan bagi Allah, seperti berdoa, meminta, tawakal, takut, berharap, menyembelih, bernadzar, cinta, dan selainnya dari jenis-jenis ibadah yang telah diajarkan Allah dan Rasulullah SAW. Memperuntukkan satu jenis ibadah kepada selain Allah termasuk perbuatan dzalim yang besar di sisi-Nya yang sering diistilahkan dengan syirik kepada Allah.

  1. Mengenal Nama-nama & Sifat-sifat Allah

Maksudnya, kita beriman bahwa Allah memiliki nama-nama yang Dia telah menamakan diri-Nya dan yang telah dinamakan oleh Rasul-Nya. Dan beriman bahwa Allah memiliki sifat-sifat yang tinggi yang telah Dia sifati diri-Nya dan yang telah disifati oleh Rasul-Nya. Allah memiliki nama-nama yang mulia dan sifat yang tinggi berdasarkan firman Allah :

“Dan Allah memiliki nama-nama yang baik.” (Al-A’raf: 180)

“Dan Allah memiliki permisalan yang tinggi.” (An-Nahl: 60)

Dalam hal ini, kita harus beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah  sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya dan tidak menyelewengkannya sedikitpun. Ketika berbicara tentang sifat dan nama-nama Allah yang menyimpang dari yang dimaukan  Allah dan Rasul-Nya, maka kita telah berbicara tentang Allah tanpa dasar ilmu. Tentu yang demikian itu diharamkan dan dibenci dalam agama. Allah  berfirman:

“Dan janganlah kamu mengatakan apa yang kamu tidak memiliki ilmu padanya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya akan diminta pertanggungjawaban.” (Al-Isra`: 36).

Keempat cara ini telah disebutkan Allah di dalam Al-Qur`an dan di dalam As-Sunnah baik secara global maupun terperinci. Semoga dengan mengamalkan cara tersebut kita lebih dalam mengenal Tuhan kita, sehingga terwujud jati diri Islam yang utuh dalam diri kita.

Dalam konsep Islam, Tuhan disebut Allah dan diyakini sebagai Zat Maha Tinggi Yang Nyata dan Esa, Pencipta Yang Maha Kuat dan Maha Tahu, Yang Abadi, Penentu Takdir, dan Hakim bagi semesta alam.

Islam menitik beratkan konseptualisasi Tuhan sebagai Yang Tunggal dan Maha Kuasa (tauhid). Dia itu wahid dan Esa (ahad), Maha Pengasih dan Maha Kuasa. Menurut Al-Quran terdapat 99 Nama Allah (asma’ul husna artinya: “nama-nama yang paling baik”) yang mengingatkan setiap sifat-sifat Tuhan yang berbeda. Semua nama tersebut mengacu pada Allah, nama Tuhan Maha Tinggi dan Maha Luas. Di antara 99 nama Allah tersebut, yang paling terkenal dan paling sering digunakan adalah “Maha Pengasih” (ar-rahman) dan “Maha Penyayang” (ar-rahim).

Penciptaan dan penguasaan alam semesta dideskripsikan sebagai suatu tindakan kemurahhatian yang paling utama untuk semua ciptaan yang memuji keagungan-Nya dan menjadi saksi atas keesan-Nya dan kuasa-Nya. Menurut ajaran Islam, Tuhan muncul dimana pun tanpa harus menjelma dalam bentuk apa pun.

Menurut Al-Quran, “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-‘An’am,103)

Seperti, “Maka apabila mereka naik kapal, mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; tetapi tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (Qs. Al-Ankabut 65); “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah),

Sebagai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus.”  (Qs. Rum (30): 30);”Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri.

Dia-lah Tuhan yang menjadikan Kamu dapat berjalan di daratan dan (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, tiba-tiba datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpa mereka, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan dengan tulus hati (sembari berkata), “Sesungguhnya jika engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.”

Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar.” (Qs.Yunus 12, 22 dan 23); “Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkanmu ke daratan, kamu berpaling.”

(Qs. Isra 67); “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudaratan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhan-nya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya, lupalah dia akan kemudaratan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu.”

Apabila manusia ditimpa bahaya, ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (Qs. Al-Zumar ;8 dan 49).

Disebutkan bahwa dalam tafsir “mengenal ayat” yang diadopsi dari al-Qur’an terdapat beberapa pandangan: Sekelompok periset “mengenal ayat” ini sebagai premis untuk membuat satu inferensi dan penalaran rasional – serupa dengan apa yang dijelaskan pada argumen keteraturan – atas keberadaan, ilmu dan kebijaksanan Tuhan.

Namun berdasarkan pada penafsiran lainnya, ayat-ayat al-Qur’an yang menyeru manusia untuk berpikir dan berkontemplasi tentang fenomena-fenomena natural, semata-mata mengingatkan adanya pengetahuan fitrawi dalam diri manusia kepada Tuhannya, tidak lain hanya mengingatkan.

Pandangan ketiga, ayat-ayat yang menjadi pembahasan pada tataran jadal ahsan (berdialog dengan lebih baik) dengan orang-orang musyrik; mereka dengan keliru berpandangan bahwa berhala-berhala dan sesembahan lancung mereka berperan pada sebagian pengaturan urusan dunia dan tidak memahami dengan baik tauhid rububi.

Ayat-ayat yang menegaskan bahwa fenomena-fenomena tipikal semesta adalah tanda-tanda keberadaan Tuhan dapat dibagi menjadi beberapa klasifikasi umum.

Ayat-ayat yang berkenaan dengan ranah kehidupan manusia seperti, Pertama, sistem umum penciptaan manusia, Jatsiya (45):4; Rum (30):20. Kedua, sistem pembentukan sperma dalam rahim, Ali Imran (3):6; Infithar (82):6-7; Taghabun (64):3; Hasyr (59):24; Nuh ():13-14. Ketiga, sistem epistemologi, Nahl (16):78.

Keempat. Sistem perbedaan bahasa dan warna kulit, Rum (30):22; Fathir (35):27-28. Kelima, Sistem distribusi rezeki Ghafir (40):64; Isra (17):70; Jatsiyah (45):5 & 20; Fathir (35):3; Rum (30):4; Saba ():24; Yunus (10):31; Naml (27):64; Mulk

(67):21; Anfal (6):26; Baqarah (2):22 & 172; Ibrahim (14):22 dan Dzariyat (51):58. Keenam, sistem tidur, Rum (30):23; Naml (27):86; Furqan (25):47; Naba ():9; Zumar (39):42. Ketujuh, sistem sandang, A’raf (7):26; Nahl (16):14 & 81. Kedelapan, sistem perumahan, Nahl (16):80. Kesembilan, sistem pernikahan, Rum (30:21; Syura (26):11; Fathir (35):11;Najm (53):45; Qiyamah (75):39; Nahl (16):72; Lail (92):3; Naba (78):8 dan A’raf (7):189.

Silahkan lihat juga Nahj al-Balâghah, Khutbah 186; Al-Tauhid, Syaikh Shaduq, bab 2, hadis 2 dan Bihâr al-Anwâr, Allamah Majlisi, jil. 3, hal-hal.61, 82, 130 dan 152.

Jangan datang dengan keadaan buta jika engkau memiliki mata, Lantaran engkau harus menggunakan tongkat untuk berjalan, Tongkat itu adalah argumen dan penalaran, Karena engkau tak memiliki penglihatan maka ikutilah para cendekia

Tingkatan-tingkatan dalam mengenal Tuhan

1. Mengenal Dzat Tuhan

Terkadang makna mengenal Tuhan adalah mengenal Dzat (esensi)nya Tuhan. Disini ada sebuah pertanyaan, apakah mengenal Tuhan dengan cara ini (mengenal Dzat Tuhan) apakah sesuatu yang mungkin ataukah bisa terjadi? Adapun menurut para teolog dan filosof jawabannya adalah mustahil, yang sama sekali tidak akan pernah terwujud. Dalil-dalil aqli (rasional) dan naqli (Al-Qur’an dan Hadis) telah membuktikan bahwa mengenal Dzatnya Tuhan adalah suatu hal yang mustahil yang tak akan pernah bisa dilakukan, baik untuk manusia ataupun makhluk-makhluk selainnya.

Adapun argumentasi aqli secara singkatnya adalah sebagai berikut. Sesungguhnya Dzatnya Allah Swt. itu tak terbatas dan mutlak.  Adapun makhluk-makhluk yang ada di jadad raya ini, termasuk manusia juga adalah terbatas dan akan berakhir. Pada sisi lain ilmu dan pengetahuan Tuhan tidak terbatas, sedangkan pengetahuan makhluk itu terbatas, jadi mana mungkin bisa sesuatu yang terbatas dapat meliputi sesuatu yang tak terbatas ? jadi sekali lagi mengenal Dzatnya Tuhan adalah sesuatu yang mustahil secara Dzati.

Adapun salah satu dalil naqlinya adalah Allah Swt. berfirman, ولا يحيطون به علماً “yakni mereka tidak punya pengetahuan tentang-Nya (Dzatnya Tuhan).” (QS. Thoha: 110).

  1. Mengenal Eksistensi Tuhan

Adapun tingkatan yang lain dari tingkatan mengenal Tuhan adalah mengenal adanya Tuhan. Berdasarkan pengetahuan ini, dibedakan antara manusia yang beriman (manusia yang meyakini akan adanya Tuhan) dan Mulhidin (orang yang tidak meyakini akan adanya Tuhan) serta Syakkun (orang-orang yang ragu akan adanya Tuhan) dan dia dikatakan termasuk orang-orang bertuhan dan orang yang mengenal Tuhan.

Pengetahuan semacam ini buat manusia tidak hanya sekedar mungkin saja, akan tetapi ini merupakan landasan dan pondasi dalam mengenal Tuhan.

Meskipun setiap orang dalam mensifati Tuhan sangatlah berbeda-beda, namun bisa dibilang dalam hal ini sesungguhnya nanusia secara global mempercayai akan adanya sebuah wujud yang suci dan wujud pemula yang tinggi.

3. Mengenal Sifat-Sifat Dan Perbuatan Tuhan

Adapun tingkatan lain dari mengenal Tuhan adalah mengetahui akan sifat dan perbuatan perbuatan Tuhan. Setelah manusia membenarkan akan keberadaan Tuhan dan mengatakan bahwa Tuhan itu ada, maka untuk langkah berikutnya adalah mengenal akan sifat-sifat Allah Swt..

Kalau pada bagian yang sebelumnya yaitu manusia yang meyakini akan adanya Tuhan itu di bedakan dari manusia yang tidak meyakini akan adanya Tuhan serta orang yang meragukan akan adanya Tuhan, maka pada bagian ini sesungguhnya perselisihan dalam sifat-sifat Tuhan menyebabakan munculnya golongan-golongan diantara orang-orang yang meyakini akan adanya Tuhan itu sendiri.

Dengan kata lain, sesungguhnya perselisihan keyakinan dalam mengenal Tuhan itu bersumber dari sini – baik antar agama ataupun antar mazhab dalam satu agama -, misalnya adalah perselisihan yang sangat mendasar diantara orang-orang yang mengenal Tuhan dalam Islam dan Masehi dalam sebagian sifat-sifat Tuhan seperti Trinitas dan Jismnya (kematerian) Tuhan yang mana orang-orang Masehi menganggap bahwa itu adalah sifat-sifat Tuhan. adapun orang-orang Islam menggingkari akan masalah tersebut, pada sisi lain, sekelompok dari orang-orang

 Islam mengatakan bahwa Tuhan itu berjism padahal mayoritas dari mazhab-mazhab yang ada mengingkari akan hal tersbut. Adapun ringkasnya adalah sebagai berikut sesungguhnya perslisihan keyakinan diantara orang-orang yang mengenal Tuhan itu bersumber dari perbedaan dalam meyakini akan sifat-sifat Tuhan.

عرفت ربي بربي

Artinya : Aku kenal tuhanku dengan sebab tuhanku

Kitab tasauf yang terkenal dengan nama al-Risalah al-Quraisyiah karya al-Qusyairi, dalam kitab tersebut, pengarangnya mengatakan, Aku mendengar Syaikh Abu Abdurrahman al-Salmi berkata, aku mendengan Muhammad bin Abdullah bin Syazan berkata, aku mendengar Yusuf bin Husain berkata :

قيل لذي النون المصري بم عرفت ربك ؟ قال عرفت ربي بربي ولولا ربي لما عرفت ربي

Artinya : Ditanya kepada Zinnun al-Mishry, dengan apa engkau mengenai tuhanmu?, beliau menjawab : “Aku mengenal tuhanku dengan sebab tuhanku dan seandainya tidak ada tuhanku, maka sungguh aku tidak akan mengenal tuhanku.

  1. K.H Haderanie H.N. (seorang ulama dari Indonesia) dalam bukunya yang berjudul “Ilmu Ketuhanan” menyebut ucapan tersebut sebagai ucapan Zinnun al-Mishry.

Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku, Selagi diri masih bergelar diri dan badan masih bergelar badan, selagi itulah kita tidak akan dapat memandang Allah.Sesudah badan tidak lagi bergelar badan dan setelah diri tidak lagi bergelar diri, disitulah Allah akan dapat dikenal dan dilihat melaluinya.

Cahaya akal tidak cukup kuat untuk kita mengenal Allah, jika tidak dibantu oleh cahaya rohani. Melalui cahaya rohani sahaja, membolehkan kita mengenal dan memandang Allah. Sifat zahir kita sebagai makhlok, tidak layak untuk memandang Allah yang bersifat ghaib.

Hanya Allah sahaja yang dapat mengenal dan memandang diriNya. Selagi bergelar diri selagi itulah Allah tidak dapat dikenal. Allah terhijab dan terlindung disebalik diri kita sendiri. Setelah kita binasa, lebur dan ghaib, disitulah Allah akan terzahir dan ternyata dilubuk hati kita. Setelah nyata Allah, maka Allah lah yang mengenal Allah

Maksud hadis “Aku mengenal Tuhanku dengan Tuhanku”

Apabila diri tidak lagi kelihatan badan dan apabila badan tidak lagi kelihatan diri, itulah tandanya cahaya makrifat telah menerangi hati kita.

Diri tidak lagi bergelar diri dan akan bertukar menjadi fana, binasa dan badan bertukar menjadi baqo’. Apabila diri telah menjadi fana’, baqo’ dan hilang dalam kilauan sirna cahaya wajah Allah, disitulah Allah akan dapat dilihat, dipandang dan dapat dikenal melaluinya. Setelah diri mencapai  tahap baqo’, akan terlafazlah perkataan seumpama hadis diatas

Mujahadah : Berjihad menumpas hawa nafsu yang menghalangi jiwa untuk dekat kepada Allah Ta’ala.Muraqabah : Memperhatikan gerak-gerik hati, jangan sampai terpengaruh dengan dunia dan hawa nafsu.

Musyahadah : Menyaksikan dengan jiwa akan kebesaran Allah Ta’ala dan alam ghaib yang penuh dengan keajaiban da kebesaran Allah Ta’ala. Dan diantara tanda-tanda Ulama’ akhirat itu ialah banyak memperhatikan ilmu batin, dengan muraqabah hati, dengan mengenal jalan akhirat, cara menempuhnya, dan benar-benar berharap menyingkap hal yang demikian itu dengan mujahadah dan muraqabah.

Sesunguhnya mujahadah itu membawa kepada musyahadah dan ilmu hati yang halus-halus, dimana dengan ilmu-ilmu itu terpancarlah segala sumber hikmat dari hati.

Adapun kitab-kitab dan segala pengajaran, tidaklah mencukupi untuk kita mendekatkan diri pada Allah Ta’ala. Tetapi hikmat yang diluar hinggaan dan tak terhitung itu hanya terbuka dengan mujahadah, muraqabah, langsung mengerjakan amalan dzahir dan amalan batin dan duduk beserta Allah Ta’ala dalam sebuah khilwah (persemadian), serta menghadirkan hati (jiwa) dengan pikiran yang putih bersih, terputus dari yang lain dan langsung kepada Allah Ta’ala. Itulah kunci ilham dan sumber kasyaf (terbukanya hijab).

Berapa banyak pelajar yang sudah lama belajar tetapi sanggup menangkap sepatah katapun dari apa yang didengarnya. Dan berapa banyak pelajar memilih yang penting-penting saja dalan pelajarannya, menyenpurnakan amal dan muraqabah hati, tapi dibukakan oleh Allah Ta’ala kepadanya ilmu-ilmu hikmat yang sangat halus, yang mengherankan akal orang-orang yang bermata hati.

Dan karena itulah Nabi Muhammad SAW bersabda : “Barangsiapa mengerjakan sesuatu yang diketahuinya, niscaya diberikan oleh Allah Ta’ala kepadanya ilmu pengetahuan yang belum pernah diketahuinya”.

Pada sebagian kita-kitab lama menyebutkan : “Hai Bani Israil, janganlah mengatakan ilmu itu ada dilangit, lantas siapakah yang menurunkannya ke bumi? Janganlah kamu mengatakan ilmu itu ada di perut bumi, lantas siapakah yang mengeluarkannya ke atas bumi? Dan janganlah kamu mengatakan ilmu itu ada di seberang lautan, lantas siapakah yang membawanya kemari? Ilmu itu dijadikan di dalam hatimu.

Beradablah dihadapkanKu dengan adab orang-orang ruhaniah (ruhaniyyin), berbudi pekertilah kepadaKu dengan budi pekerti shiddiqin,

maka akan Aku lahirkan ilu itu di dalam hatimu sehingga menutupimu dengan kebaikan dan kelebihan ilmu”. Berkata Sahl bin Abdullah At-Tusturi r.a.: “Keluarlah orang-orang yang berilmu (Ulama’), orang-orang ahli ibadah (Ubbad), dan orang-orang zuhud (Zuhhad) dari dunia ini. Hati mereka terkunci dan tidak terbuka selain kepada orang-orang shiddiqin dan syuhada’ (orang-orang syahid)”.

Kemudian Sahl membaca firman Allah Ta’ala : “Wa ‘indahu mafatihul ghaib, la ja’lamuha illa hu”. (Dan disisi Allah kunci-kunci perkara yang ghaib, tidak ada yang tahu, selain Allah) –S. Al-An’am, ayat: 59.

Jika bukan pengetahuan hati dari orang-orang yang memiliki nur kebatinan, yang menjadi hakim atas ilmu-ilmu dzahir, tentu tidaklah Rasulullah SAW bersabda : “Mintalah fatwa kepada hatimu, walaupun orang lain telah berfatwa kepadamu..telah berfatwa kepadamu..telah berfatwa kepadamu!”.

Rasulullah SAW bersabda akan wahyu yang diriwayatkan dari Tuhannya Yang Maha Tinggi : “Senantiasalah hambaKu mendekatkan dirinya kepadaKu dengan amal ibadah sunnat, sehingga Aku sayang kepadanya. Apabila Aku telah saying kepadanya, maka adalah Aku pendengarnya, dimana ia mendengar dengan pendengaran itu”.

Berapa banyak pengertian-pengertian yang halus dari rahasia-rahasia Al-Qur-an yang terguris dalam hati orang-orang yang berdzikir dan berfikir kepada Tuhan semata, yang tidak disebutkan dalam kitab-kitab tafsir dan tidak sampai kepadanya pandangan ahli-ahli tafsir yang utama.

Apabila terbuka hal yang demikian itu bagi murid yang ber-muraqabah, lalu dikemukakannya kepada Ulama’-ulama’ tafsir, niscaya mereka akan menerimanya dengan baik. Dan mereka itu mengetahui bahwa yang demikian itu adalah diantara pemberitahuan hati yang suci dan Rahmat Allah Ta’ala dengan cita-cita yang tinggi yang dicurahkan kepada murid tersebut.

Dan begitu pula tentang ilmu mukasyafah dan segala rahasia ilmu mu’amalah serta bisikan-bisikan hati yang halus. Maka tiap-tiap ilmu dari ilmu-ilmu ini adalah ibarat lautan yang tak terduga dalamnya. Kebanyakan orang hanya berkecimpung sekedar yang ia lihat dengan mata mereka, mereka seperti sekedar memakan buah saja tapi tak mau memikirkan dari mana asal buah itu

Musyahadah adalah dengan adanya mujahadah dalam beramal, terjadinya keadaan yang demikian ini apabila seseorang sudah berada dalam maqam fana’, yakni penglihatannya hanya ditujukan kepada Allah semata-mata karena pada hakikatnya wujud hakiki yang kekal hanyalah Allah, sedang wujud lain tiada lagi. sikap muraqabah digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW, ketika menjelaskan kata ihsan: hendaklah kamu beribadah kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, dan jika memang kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihat kamu. Sedangkan Ma`rifat, hati ini diciptakan Allah untuk menjadi tempat kebahagiaan hakiki, karena itu hati harus selalu dekat dengan Allah. bila hati sudah terisi dunia, Allah tidak mau mengisinya. begitu pun cinta kepada manusia, harus yang dapat mendekatkan kepada Allah. Ini diri kita hujud kita pergi ke mesjid iya diri kita ke mesjid tapi hati tidak ke mesjid jadi itu apa namanya?
Musyahadah kah?

MENUJU MA`RIFATULLAH

  Secara ringkas, untuk mencapai ma`rifatullah di kalangan sufi setidaknya harus melalui beberapa maqam (pangkat/derajat) sebagai berikut:

  1. MUATABAH : – penyesalan atau meninggalkan dosa-dosa seketika dan bertekad untuk tidak melakukannya lagi.
  2. MURAQABAH: Awas mengawasi atau berintai-intai. Suatu keadaan seseorang yang meyakini sepenuh hati bahwa Allah selalu melihat dan mengawasinya.
  3. MUJAHADAH: Penekanan nafsu dari yang menggiurkan dan pelaksanaan melawan keinginan hawa nafsu pada setiap saat. Mencurahkan keseriusan dalam melawan segala bujukan hawa nafsu dan syaitan.
  4. MUSYAHADAH: Nampaknya Al-Haq di mana alam perasaan sudah mati. Tindak lanjut ajaran ihsan.
  5. MUKASYAFAH: Terbuka tirai. Terbukanya segala tutup dari segala rahasia yang tersembunyi.
  6. MAHABBAH: Cinta kepada Allah melebihi cintanya kepada yang selain-Nya.
  7. MA`RIFAT: Pengetahuan yang tidak menerima keraguan lagi. Pengetahuan tentang dzat dan sifat Allah yang tidak diragukan lagi.

MUATABAH

Pembuat Dosa Lahir : – Mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki, kemaluan

Cara Muatabah                 : – Mandi dengan niat taubat dan masing-masing dibacakan Istigfar

–          Baca Istighfar 7 x tiap ba`da shalat fardlu

–          Baca Istighfar 7000 x

Pembuat Dosa Bathin : –    latifah qalbi

–          Latifah ruh

–          Latifah sirri

–          Latifah khafi

–          Latifah akhfa

–          Latifah nafsunnatiq

–          Latifah kulli jasad

Cara Muatabah                 : –     Baca “Astaghfirullah wa atubu ilaihi” 7 x tiap ba`da shalat fardlu. Baca Istighfar 7000 x.

MURAQABAH

Kaifiat Muraqabah :

–      Setelah shalat tahajjud, duduk iftirasy penuh sadar dan konsentrasi menyatukan fikiran sambil dzikir menunggu saat beraudensi dengan Allah.

–        Setelah wudlu duduk dengan pakaian bersih, menekur di lantai mesjid sambil berzdikir lisan menunggu saatnya berhadapan dengan Allah degan dzauq dan basirah.

Tingkatan Muraqabah:  1. Muraqabah Qalbi : Agar tidak keluar kehadirannya kepada Allah

  1. Muraqabatur Ruuh: Agar merasa dalam pengawasan dan pengintaian Allah.
  2. Muraqabatussirri: Agar selalu meningkatkan amal ibadahnya dan

memperbaiki adabnya.

Buah Muraqabah  :   1. Sifat Malu (Haya)

–          Terhadap manusia

–          Terhadap diri sendiri

–          Terhadap Allah

  1. Hormat kepada Allah (Haibah)
  2. Memuliakan Allah (Ta`dzim).

MUJAHADAH

Melawan Hawa Nafsu. Melawan Bisikan Syaitan. Metodenya: Mengurangi Makan

Latihan Amalan :  langgeng wudlu, langgeng puasa, langgeng diam, langgeng khalwat, langgeng dzikir : Laa Ilaaha Illallah, Langgeng hubungan bathin dengan guru, meninggalkan kekhawatiran, meninggalkan sikap menentang Allah, baik kondisi membahayakan maupun memeberi manfaat.

Ciri-ciri Bisikan Syaitan:

  1. Perbuatan muncul dari bisikan hati dengan penuh semangat membara bukan dengan rasa takut kepada Allah.
  2. Disertai emosi yang tergesa-gesa bukan dengan cara pelan dan halus
  3. Disertai dengan rasa aman-aman saja bukan disertai rasa khaup kepada Allah
  4. Disertai rasa membabibuta terhadap perbuatan bukan disertai dengan mata hati (Bashirah).

MUSYAHADAH

Musyahadah dilakukan melalui pintu mati:

Mati Thabi`I (Dzikir Qalbi) :

–          Pana pertama

–          Pana pi Af`al

–          Gerak dan diam adalah pada Allah

Mati Ma`nawi (Dzikir Latifatur Ruh)

–          Pana kedua

–          Pana pis Sifat yang tinggal hanya sifat Allah yang Maha Sempurna.

Mati Surri (Dzikir Latifatus Sirri)

–          Mulai masuk  pintu musyahadah dengan Allah. Alam wujud ditelan alam ghaib yang penuh dengan Nur Alan Nuuri.

Mati Hissi (Dzikir Latifatul Khafi)

–          Menanjaknya bathin lebur dalam kebaqaan Allah. Dalam keadaan ini bersatulah abid dengan ma`bud.

Hijab Musyahadah: Kekufuran, kebodohan, suudhan terhadap Allah, Sibuk dunia lupa akhirat. Penggagal Musyahadah: Malas (Kasl), bimbang (futur), pembosan (malal), riya, ujub, bangga pujian orang (sum`ah).

MUKASYAFAH

Mukasyafah Rububiyyah (Terbuka Tirai Ketuhanan). Merupakan karunia dan anugerah atas kasih sayang Allah. Disebut  “Karomah”

Mukasyafah Ghaibiyah (Terbuka Tirai Keghaiban). Terkadang merupakan cobaan atau la`nat dari Allah. Disebut “Khariqul Adat”.

Do`a mencri Mukasyafah : Diantaranya dapat dipakai do`a “Sarmadiyyah” dari Abu Hayyullah Al-Marzuki Al Maliki.

MAHABBAH

Syarat dan Karakteristik Mahabbah:

–          Ma`rifatullah

–          Dzikrullah

–          Taat kepada Allah

–          Ikhlas kepada Allah

–          Takut kepada Allah

–          Tawakkal kepada Allah

–          Syukur kepada Allah

–          Shabar.

Buah Mahabbah :

–          Al-Uns : Sakinah, Tumaninah

–          Wushul: Segala yang dipandang terlihat Allah

–          As-Syauq : Rindu kepada Allah.

MA`RIFAT

Ma`rifat dengan :

–          Ilmul Yaqin (Dengan dalil/Keterangan)

–          Ainul Yaqin (Dengan kenyataan)

–          Haqqul Yaqin (Yakin tanpa melalui dalil dan pembuktian).Terhadap:

–          Dzat Allah : Wujud Esa, wujud Tunggal, Maha Agung, Berdiri dengan sendirinya, Tiada yang menyerupainya.

–          Sifat-sifat Allah : Maha Hidup, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Sempurna dengan segala Sifat-Nya.

Barang siapa yang Mengenal Dirinya, Dia akan Mengenal Rabb-Nya

Kembali berbagi .. mengenai apa yang “pernah” saya baca dan yakini mengenai ungkapan (yang “katanya” hadits Nabi) berbunyi :

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

“Barang siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.”

Ungkapan yang populer di kalangan kaum muslimin, mereka menganggapnya sebagai ucapan yang berasal dari Rasulullah , bahkan sering disampaikan oleh para penceramah dan dinukil oleh para penulis.

Sebagaimana yang diketahui,bahawa ajaran Ahwal (suatu perolehan dengan kurnia) dan maqamat (suatu perolehan dengan usaha) yang semuanya itu ditujukan untuk memperbaiki akhlak. Sedang tujuan perbaiki akhlak adalah untuk membersihkan qalbu yang berarti mengosongkan dari sifat sifat yang tercela (TAKHALLI) kemudian mengisinya dengan sifat sifat yang terpuji (TAHALLI) yang selanjutnya beroleh kenyataan Tuhan (TAJALLI).

Dengan demikian maka dapatlah difahamkan bahawa jalan untuk mengenal ALLAH ,tidak dapat ditempuh dengan sekaligus,tetapi adalah sesuai dengan peribadi masing masing iaitu harus ditempuh secara bertingkat tingkat.Pada tingkat untuk memasuki Ilmu Hakekat dan Ilmu Ma’rifat, berarti memasuki suatu jalan pengetahuan yang bertujuan untuk mengenal sesuatu itu dengan cara bersungguh sungguh, bahwa siapakah manusia itu,

siapakah yang menjadikannya dan siapakah yang menciptakan sekalian itu.Ilmu Tasawwuf meringkaskan jalan pengetahuan ini dengan berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang bermaksud ”Barang siapa yang mengenal dirinya, niscaya ia akan mengenal Tuhannya.”

WA NAHNU AQRABU MIN HADLIL WARIID

Di mana kita berada, di situ ada Allah [Q.S. Al-Hadiid: Kalau dipikir, tidak perlu diingat lagi. [Maksudnya: mengingat Allah itu bukan dengan diingat-ingat]. Apabila diingat, syirik khafi. Mengingat Allah syirik khafi; mengingat diri terlebih syirik lagi.

Allah: semakin dipikir semakin salah karena Allah bukan sesuatu [sedangkan, Allah itu Pencipta segala sesuatu]. Kalau kita katakan “ini” dan “itu”, semakin salah karena bertentangan dengan laysa kamitslihi syai`un. Sebaik-baiknya disadari: ada Allah itu di sama-tengah hatimu [Q.S Adz-Dzariyaat:21]”Fa ainama kuntum ma`arif turabbi bi rabbi.”
Bukankah Aku daripada Engkau. Kau juga daripada-Ku. Aku ini, Kaulah.

“Sirri sirrihi.”
Aku itulah Kau.

Maka dijadikan Diri-Nya [sebagai] Kosong. Mahaesa; tidak ada seumpama-Nya. Kosong itu bukan sesuatu atau benda-benda. Disebut “Allaaahu Akbar.” Kata Allah itu Nama bagi Kebesaran Tuhan [bukan Nama Tuhan]. Tuhan tidak ber-Zat, tidak ber-Sifat, tidak ber-Asma, tidak ber-Af`al. Kata Allah itu Nama Kemahaesaan-Nya juga. Allah itu sudah Mahaesa. Yang disebut Mahakuasa lain lagi, yakni Diri Yang Berkuasa.

Diperlihatkan-Nya Nabi naik ke langit. Yang diperlihatkan-Nya itu kemahaesaan-Nya. Naik ke langit itu ke kemahaesaan. Jelaslah bahwa manusialah yang mahaesa dengan Tuhan. Hanya manusia yang mahaesa dengan Tuhan. Manusia yang mana? Itulah Muhammad dan umat-umat Muhammad yang tahu akan hal ini. Sedangkan malaikat itu makhluk yang dikuasai-Nya, sementara itu Iblis, jin, dan setan yang dilaknat dan dimurkai-Nya. Inilah kemurkaan Allah. Mengapa manusia banyak yang gemar bermain dengan makhluk-makhluk laknatullah ini?

Hai manusia, agama Islam yang dicintai-Nya. Selain Islam, dimurkai-Nya. [Q.S. Imran: Dunia ini alam. Alam bukan Allah.

Alam ini ciptaan Allah dan isinya pun ciptaan/Perbuatan Allah. Yang tidak diciptakan-Nya, pantat jarum yang bisa dilalui gajah. Ada yang dijadikan-Nya dengan sebab dan ada yang dijadikan-Nya tanpa sebab. Yang tidak dijadikan-Nya dengan sebab atau diadakan-Nya sendiri ialah Cahaya-Nya sendiri. Itulah Zat Mutlak atau Maharuang.

Tahulah kita bahwa Maharuang itu Diri-Nya. Yang melebar dan meluas, itulah Diri Allah/Nur Ilahi. Adapun kosong yang kita pandang ini [yang kelihatan di sekeliling kita ini]: Sifat Diri-Nya. Kalau di Maharuang, tidak ada Sifat lagi: yang ada semata-mata Zat. Itulah sebabnya Zat dan Sifat itu kita tidak tahu kaifiatnya [= hal keadaan yang sebenar-benarnya].

Maharuang, bentuk dan rupanya tidak dapat dilihat, tapi suaranya ada. Siapa yang bicara itu? “Wa kallamallahu musa taklima.” Yang berbicara itu Nur. Hanya Nur. Maka suara Nur itu qadim. Suara Nur itu tidak ada `ain [bentuknya] dan tidak ada bekasnya. Tidak pula meninggalkan tempat. Sekiranya suara Nur ini bertempat, tentu dapat disadap. Konyol pendapat-pendapat ilmuwan semuanya. Sadaplah kalau bisa dialog wa kallamallahu musa taklima ini kalau bisa.

Meskipun suara Nur ini tidak bertempat, orang Islam bisa menyadapnya dan mendengar suara Nur. Bahkan Nur ini bisa diajak berdialog lagi sekarang juga. Kehebatan orang sebenar-benar Islam itu, salah satunya bisa mendatangkan bunga dari surga [Syaikh Abdul Qadir al-Jailani]. Orang sebenar-benar Islam, menjatuhkan meteor ke bumi pun bisa.

Berdiri shalat, ketahui yang ada di Maharuang. Takbirlah 3 alif karena takbir itu hakiki. Waktu takbir, jangan ada naik-turun-keluar-masuk napas lagi. Keluarkan suara; jangan ada dimasuk-masukkan. Begitu selesai takbir, diamlah.

Jasad ini air yang beku. Tidak dikarenakan suatu sebab, tetapi karena Allah. Tuhan tidak ada bayang-bayang-Nya. Kita inilah bayangan Allah. Maka kita punya bayangan. Esanya Muhammad, hiduplah tubuh. Nyawanya juga yang dinyawakan. Tubuhnya juga yang ditubuhkan. Inilah yang diartikan pada seluruh badan. Nur itu suara. Muhammad, tubuh batin. Ruh Qudus itu, inilah diri kita.

Orang yang bernyawakan hewan atau setan adalah orang yang tidur begitu saja. Orang yang mengeluarkan nyawa hakiki [ketika tidur], itulah nyawa para nabi dan wali. Betulkan sebelum tidur. Ingatlah akan pesan-pesan Guru: gunakan ھ. Malaikat Rahman akan menunggu di ke-7 pintu surga. Kalau becerai nyawa dan tubuh, busuklah dia.

Zat [Mutlak] itu putih tidak berwarna [putih yang bukan warna]. Bersih sebersih-bersihnya [mahasuci]. Yang sama dengan Aku, tidak binasa. [Q.S. Al-Hijr:42].

Jadi siapalah itu? Diri kita. Zat itu maqamnya Nur. Nur itu hilang di Zat. Jadi, Zat itulah Rahasia Nur. Jadi, Nur itu raib pada rahasianya, yaitu pada Zat.

Zat Mutlak itu beserta Tuhan. Kalau kita esa pada Zat, beserta Tuhanlah kita. Ini dikatakan sampai pada Tuhan.

Zat dan Sifat itu ada. Zat itu putih tidak berwarna; tidak berbau; tidak berasa; tidak berbentuk. Itulah disebut putih tidak berwarna. Putih yang tidak berwarna itu Mahasuci atau Diri Zat Yang Mahasuci. Putihnya Zat Allah itu, putih mukhalafah dan laysa kamitslihi sya`un. Inilah putih yang tidak ada seumpamanya.

Yang dinamakan hati yang putih itu ialah hati yang suci. Hati saja sudah putih/suci, bagaimana lagi yang di dalam hati itu. Tentulah terlebih putih dan terlebih Mahasuci lagi. [kita tidak dapat memandang matahari karena silau dengan cahayanya. Cahaya milik matahari saja sudah menyilaukan, apalagi mataharinya sendiri ‘kan?!]

Di putih yang tidak berwarna inilah Nur “sembunyi”. Nur itu nyawa. Yang berkembang biak itu Muhammad dan Adam. Nur, Muhammad, dan Adam itu kita juga. Hendaklah diesakan. Bagaimana mengesakannya? Hendaklah diam sediam-diamnya. Muhammad bersembunyi di Cahaya Ilahi. Cahaya Ilahi itulah Nur. Maka Muhammad “bersembunyi” di dalam Nur.

Ingat, pengajian kita ini bukan “masuk-memasuk; raib-meraib.” Pengajian Pusaka Madinah kita ini: satu tidak becerai.

“Di mana kamu, di situ Aku.”

Dalam mempersoalkan isu tauhid ini ramai umat manusia yang mempelajari ilmu mengenal diri iaitu “Makrifatullah”, mengapa terlalu banyak persepsi atau pandangan-pandangan dan pelajaran-pelajaran yang jauh membawa umat manusia untuk mengerti dan memahami kongsep hakikat makrifatullah yang hakiki, pelbagai jalan dan cara diajarkan kepada umat manusia yang merumitkan lagi menyulitkan, apakah agama itu menyulitkan atau memudahkan..? Sedangkan setiap segala sesuatu itu sudah disiapkan dengan dalil beserta hadis-nya.

Menurut hemat saya pelajaran ilmu hakikat makrifatullah ini tidak merumitkan dan menyulitkan, bahkan memudahkan umat, mengapa mahu menyulitkan..? Ambil-lah jalan mudah, mudah di fahami dan di cerna, bukan berarti ada-nya jalan mudah cara lama di tinggalkan, kalau anda masih boleh memahami dengan baik.. ya silakan,  tapi menurut saya.

Jika ada jalan yang lebih mudah, ya di pilih jalan yang mudah, kalau jalan yang berliku-liku itu menyulitkan lalu banyak umat manusia tersasar dari hakikat makrifatullah yang hakiki, apa lagi jika hendak mentauhidkan dengan benar-benar tauhid akan segala sesuatu kepada Allah.

Jika difahami dengan benar-benar apa itu “Zat=Sifat=Asma’=Af’al” maka ianya benar-benar telah memberitahu bahawa makhluk/manusia itu pada hakikatnya tidak ada, yang ada hanya Allah semata-mata, mengapa masih merasakan diri hebat atau bijak..? Dan fahami lagi dengan benar-benar konsep “ La ilaha Illallah, tiada TUHAN melainkan ALLAH”, bukankan telah dikatakan bahawa sememang-nya tuhan lain selain Allah itu tidak ada..? Lalu mengapa timbul-nya pelbagai pengakuan tuhan itu-lah tuhan ini-lah, aku-lah tuhan, bukankah ini merumitkan..? Kalau hendak ber-TUHAN maka bertuhan-lah pada Allah sahaja, jangan ada lagi berbagai-bagai tuhan.

Bagaimana hendak merasai ada-nya atau mengenali Allah itu dengan hakiki..? Jika mahu merasai ada-nya Allah itu maka rasailah sehingga tiada lagi rasa, lihat-lah sehingga tiada lagi penglihatan, pandang-lah sehingga tiada pandangan sehingga semuanya menjadi kosong sekosong-kosong-nya, lalu apa yang anda dapati..? Tidak ada apa-apa lagi melainkan diam sediam-diam-nya, maka anda telah sampai kepada Zat-nya, kerana diri zat itu tiada dapat dirasa, tiada dapat disentuh, tiada dapat dilihat, tiada dapat dicium melainkan kosong yang tiada kosongnya, maka itulah zat semata-mata, itulah diri Allah sebenar-nya.

Lalu timbul pula rasa ingin dikenali, maka disini telah ada permulaan titik awal iaitu sifat,  kalau tadi dikosong-nya itu zat semata-mata, sekarang ini telah ada rasa ingin dikenali maka telah ada permulaan bagi yang awal iaitu sifatullah, apakah sifat ini telah zahir..? Belum…inilah yang dikatakan qodim,  bicara tanpa suara masih qodim, maka diciptakan makhluk yang bernama “ADAM” yang maksud-nya tiada, lalu nyata-lah apa yang di inginkan oleh sifat itu dengan nyata-nya af’alullah ini, segala kelakuan dan perbuatan sifat itu nyata terzahir atas jasad ini, maka nama-nya ialah juga satu yaitu Allah, esa pada zat-nya, sifat-nya, af’al-nya dan asma’-nya.

Konsep-nya amat mudah, seperti anda ketahui  “Allah, Muhammad, Adam”, kalau ketiga-tiga ini umum-nya satu tapi tiada bercampur, karena Allah dan Muhammad itu satu bukan bersatu,  bukan bercampur tapi satu jua, kalau Adam itu tentu-nya satu jua tapi tiada bercampur, kerana adam itu diciptakan hanya satu dengan cara ciptaan yang pertama dan merupakan benda baharu yang  akan menemui mati, karena ia diberikan hayat, penglihatan dan pendengaran sebagai menyatakan akan diri-nya yang sebenar diri. Lalu dimanakah manusia..? Coba di fahamkan sabda baginda nabi S.A.W yaitu” Ana minallah, walmu’minuna minni, Aku dari Allah, mukmin itu daripadaku

Lalu kembalilah kepada tauhid yang hakiki, tauhidlah dengan benar-benar bahawa sesungguhnya Allah semata-mata yang ada, kerana kalimat tauhid itu ialah “La maujudun Illa Allah”, tiada sesuatu yang maujud/wujud kecuali Allah”, jikalau sudah benar-benar tauhid maka tiada lagi dipandang segala gerak dan perbuatan itu perbuatan makhluk pada diri jasad ini melainkan kelakuan dan perbuatan Allah semata-mata, tapi ingat bahwa diri Allah itu tidak bertempat, seperti dalam hadis qudsyi menyatakan “ Ana makanin, wala lay salli makan, Aku merupakan tempat pada sekalian yang  bertempat, tapi aku tidak mengambil tempat pada sekalian yang bertempat”.

Apakala sudah sampai disini maka kembalilah ke tempat sewajar-nya dan selayak-nya kita berada yaitu pada tempat mutmainnah, yaitu tempat orang yang jiwa-nya sudah tenang setelah makrifat dan tauhid dengan benar-benar hakiki, walaupun begitu tetaplah merasakan dan memandang kepada Allah itu dengan tiada lagi rasa dan tiada lagi pandangan, lalu putuskanlah iktiqod anda bahawa tiada lagi tuhan begitu tuhan begini, bahawasa-nya DIA lah semata-mata yang ada.

Tapi harus di ingat bahawa bukan berarti disini destinasi kita karena kita bukan tuhan, tapi diri kita hanyalah kenyataan tuhan, maka tempat-nya yaitu di “Mutmainnah”, orang yang jiwa-nya sudah tenang apabilah telah mengenali hakikat diri sebenar diri, tapi tetap memandang Allah sahaja-lah ada, seperkara lagi harus di perhatikan, Allah itu tidak bertempat, “Ana makanin, wala laysalli makan, Aku merupakan tempat pada sekelian yang bertempat, dan Aku tidak mengambil tempat pada sekelian yang bertempat”.

 MIN NUURIHI NABIYIKASebelum Tuhan menciptakan Nur Muhammad, terdahulu ditajallikan dari Diri Tuhan sendiri Cahaya Diri-Nya. Tentulah, Cahaya Diri Tuhan itu menabiri Diri-Nya. Karena Cahaya Tuhan itu berdirikan Tuhan. Bukan Tuhan berdirikan Cahaya dan bukan Tuhan bukan berupa cahaya. Dan Cahaya Diri Tuhan itu bernama Nur. Ingat, Nur itu Nama, bukan berarti Nur itu berupa cahaya atau Nur berarti cahaya. Nama bagi Nur.

Oleh ulama mutahaqama dan ulama-ulama al-paham serta para alim sufi, dikatakanlah Nur itu sebagai Nur Ilahi dan dikatakan juga Nur Allah. Jadi, Cahaya Diri Tuhan itu bernama Nur, bernama Ilahi juga, bernama Allah juga.

Jadi, yang disebut Nur itulah Cahaya Diri Tuhan.
Jadi, yang disebut Ilahi itulah Cahaya Diri Tuhan.
Jadi, yang disebut Allah itulah Cahaya Diri Tuhan.
Jadi, Cahaya Tuhan itu bernama Nur.
Jadi, Cahaya Tuhan itu bernama Ilahi.
Jadi, Cahaya Tuhan itu bernama Allah.

[Setelah Anda memahami uraian di atas, ketika kini Anda menyebut “Allah”, baru Anda sudah benar-benar sekaligus mengacu kepada Diri Tuhan Pribadi. Kini baru Anda sudah bisa disebut mengenal Allah.]

Dari Nur Allah [Cahaya Tuhan] ini maka jadilah Nur Muhammad. Jadi, Cahaya Tuhan inilah yang bersifat Jalal [Kebesaran Allah]. Inilah Kebesaran Tuhan. Telah ada meliputi sekalian alam. Dan Nur Muhammad ada juga sekarang ini.

Jadi, Cahaya Nur Allah dengan Cahaya Nur Muhammad itu bergaul tapi tidak bersekutu atau bercampur tetapi tidak satu; satu tetapi tidak bercampur. Untuk mendekatkan paham, secara syariat kita umpamakan bergaulnya air tawar dan air asin yang ada di muara sungai. Bercampur tetapi tidak satu; satu tetapi tidak bercampur.

Laulaka makhalaqtu aflaka min nuurihi nabiyika.
“Aku jadikan segala sesuatu daru Nur Muhammad.

Jadi jasad kita ini kejadiannya dari Nur Muhammad. Dan setiap jasad tentu ada ruh. Dan ruh itu kejadiannya dari Zat.

Innallaaha ruuuhu Nabi Shalallaahu `alaihi wasalam fii zaatihi.
Aku jadikan ruh Nabi Muhammad Saw. dari Zat Allah.

Jelaslah sekarang kejadian jasmani kita ini dari Nur Muhammad. Kejadian Ruh dari Zat Allah. Jadi diri kita ini Zat-Sifat. Zat-Sifat itu diri siapa? Diri Allah. Jadi manusia ini Diri Allah, tapi BUKAN Tuhan. Diri kita ini baharu, sedangkan Allah itu Qadim. Sudah bisa membedakan qadim dan baharu, itulah makrifat. Makrifat yang sebenarnya ialah dapat membedakan Qadim dari muhaddas.

Zat dan Sifat tidak punya warna-warni. Hakikat Zat yang sebenar-benarnya adalah Muhiith: meliputi sampai ke zarah-zarah sekali pun. Tuhan memberi tahu, “Innahu bi kulli syai`in muhiith”. Ingatlah, Diri Tuhanmu meliputi segala sesuatu.

Dalam ilmu tauhid, yang dikatakan ‘segala sesuatu’ itu ialah alam. Sedangkan Tubuh Allah ta`ala itu meliputi sekalian alam.  Jadi, apa Allah itu? Tubuhnya alam.. Tubuh alam itu wajib Mahasuci. Yang dikatakan Mahasuci itu bersih, tidak berwarna, tidak ada rasa, tidak ada bau, tidak bertempat, meliputi sekalian alam.

Supaya jelas dan tidak bingung, yang dikatakan tubuh alam itu Maharuang.
Karena hakikat zat itu Muhiith. Jadi Maharuang itu adalah Zat-Mutlak. Zat-Mutlak inilah tubuh sekalian alam. Inilah Tubuhnya Allah Ta`ala.

Karena Tubuh Allah Ta`ala itu Mahasuci dan karena Zat-Mutlak, dikatakanlah tubuh Ruh Qudus. Tubuh Ruh Qudus inilah Rahasia Tuhan. Inilah kemuliaan dan keagungan Tuhan. Ruh Qudus inilah yang berkuasa atas setiap diri manusia. Kenalilah Diri Rahasia Tuhan ini, yang ada di dalam diri kamu: di sama-tengah hatimu; di pusatmu! [pusar]. Inilah diri Muhammad Rasulullah Saw. Diri inilah yang bermahkota. Mahkotanya disebut budduhun.

Tajalli Ruh Qudus inilah dikatakan tajalli Allah. Bukan Allahnya yang tajalli, melainkan Rahasia Diri Allah itu yang tajalli meliputi jasad. Kalau dia sudah meliputi jasad, satu dengan jasad, maka jasad dan ruh tidak becerai.

Mati sekalipun, kalau Ruh Qudus keluar meliputi jasad, satu dengan jasad, inilah yang dikatakan “Orang yang bangun dengan jasmani dan ruhani.

Hiduplah dia dari alam barzakh  dan alam akhirat. Kalau ruhani saja bangun, sedangkan jasmani tidak, binasalah jasad. Tidak sampai yaumil qiyamah, karena binasa. Kalau tidak bercerai, hiduplah kita sampai yaumil qiyamah. Melihatlah kita yaumil qiyamah. Melihatlah kita bagaimana siksanya orang-orang kafir, bagaimana siksanya para jin, setan, iblis di hari pemhalasan itu.

Kalau kita tidak becerai jasad dan ruh, berarti kita bertubuhkan Zahiru Rabbi. Tubuh Zahiru Rabbi inilah yang tidak binasa dari dunia sampai akhirat. Inilah yang dikatakan: “Tuhan tubuhku; Mahasuci nyawaku. Sadarlah setiap saat, setiap detik keberadaan kita ini di dalam Mahasuci. Orang yang sudah paham dengan Tubuh Mahasuci ini, dia bukan bertubuhkan dunia lagi, melainkan sudah bertubuhkan akhirat.

Banyak manusia salah paham. Belajar-belajar, mau mencari keputusan mati. Untuk apa? Yang perlu diketahui, bagaimana agar kita hidup di dunia dan hidup pula di akhirat. Sedang hidup saja sekaran ini kalau jasad dan ruh becerai, binasa jasad. Apalagi setelah mati. Kalau jasad dan ruh becerai, binasalah jasad. Carilah ilmu jasad dan ruh tidak bercerai meski mati sekalipun.

Kenali baik-baik, Allah itu Tubuh alam. Kalau kita mengaji Kosong/Maharuang ini, tidak akan tergelincir dan tidak akan masuk jurang. Cobalah sadari. Baik kita di darat, di laut, di mana saja, keberadaan kita tetap di dalam Tubuh Mahasuci /Maharuang.

Tuhan sudah memberitahu,”fil ardhi aayaatun lil muuqiniin.” [Q.S. Adz-Dzariat:20].  Wujud Tuhanmu [Zat Tuhanmu] sudah nyata di dunia ini meliputi sekalian alam dan nyata Berdiri tidak bertempat dan tidak memerlukan tempat, tidak berwarna, dan terlebih nyata lagi ke- laysa kamitslihi syai`un-an -Nya.

Masalah ke- laysa kamitslihi syai`un-an -Nya ini tidak dapat dipecahkan oleh para filsuf. Bagaimanalah mau dipecahkan? Apalagi oleh orang-orang tasawwuf yang tanggung-tanggung ilmunya.

Dengan pembahasan “min nuurihi nabiyika”  ini, mudah-mudahan kita semua mendapat berkah dan keselamatan serta dapat dirasakan kebenarannya oleh orang-orang yang khusyuk  dan tawadhu. Kita ini hidup sudah di dalam Tubuh Allah, bukan Allah di dalam tubuh kita. Jangan seperti ikan bodoh, sudah jelas hidup di dalam air. masih juga mencari-cari air. Manusia tidak pernah memikirkan bahwa air itulah tubuh ikan. Artinya, ikan bertubuhkan air.

Tubuh Allah itulah Kiblat Maqami. Kiblat pertama dan tertua. Inilah keramat terbesar. Inilah hati kita yang putih. Pandang saja di hati yang putih ini, akan tampak semuanya.

Hati saja sudah putih, bagaimana lagi yang di dalam hati yang putih itu? Yang mengetahui bahwa Maharuang ini hati yang putih ialah Ruh Qudus: yang ada di sama-tengah hatimu dan yang berkuasa atas diri manusia serta mengajar diri manusia, menunjuki diri manusia dari tidak tahu menjadi tahu. Itu sebabnya dikatakan, “Nanti kamu pandai dengan sendirinya.”

Berbahagialah orang yang sudah dapat melihat tubuh Ruh Qudus ini. Sama dengan dia melihat tubuh Nabi Muhammad Rasulullah saw. Bertemulah kita dengan “mutiara yang hilang ditemukan kembali”.

“Sembah-sujud”-lah kamu kepada gurumu dan ibu-bapakmu, juga jangan tinggalkan lima waktu karena Rasulullah Saw. suka pada orang yang bersyariat. Menangis jasad itu disebabkan ruhani, nurani, dan rabbani kita bersyukur atas jasadnya yang dapat menemukan mutiara yang hilang kini ditemukan kembali.

Ingatlah sewaktu kita di dalam rahim ibu. Ruh Qudus itulah yang menghidupkan kita: yang mengurus agar kita hidup. Sewaktu bayi keluar dari rahim, ia tidak memandang Ruh Qudus. Setelah berada di alam fana, ada maharuang, maka menangislah dia.

Tangisan itulah puji bayi pada Tuhan. Suara inilah yang dipakai oleh para wali untuk memuji Tuhan. Suara ini berbunyi sendiri. tidak perlu dibunyi-bunyikan. Inilah suara tunggal yang tidak ada tafsirnya. Lihatlah, bayi yang sudah memakai suara ini, dia tidak bernyawa zat-asam lagi, melainkan bernyawa dengan  kepala.

Coba lihat ubun-ubun bayi yang baru lahir. Ubun-ubunnya bergerak. Inilah nyawa para wali. Jadi para wali itu bernyawa dengan kepala. Apalagi nabi. Setelah sampai waktunya, ubun-ubun bayi tidak bergerak lagi. Menjadi keras. Karena apa? Karena cahaya budduhun ini sudah memancar di dahi.

Orang awam dan orang tasawwuf, bernyawa dengan perut. Orang hakikat-makrigat bernyawa dengan dada. Orang-orang qadim, bernyawa dengan leher. Tapi mereka banyak yang tidak tahu bahwa di atas halqum itu, di situlah maqam makrifat.

Dalam terminologi tasawuf yang dimaksud maqamat sangat berbeda dengan makam dalam istilah umum yang berarti kuburan. Definisi maqamat secara etimologis adalah bentuk jamak dari kata maqam, yang berarti kedudukan spiritual (English : Station).

Maqam arti dasarnya 1) adalah “tempat berdiri”, dalam terminologi sufistik berarti tempat atau martabat seseorang hamba di hadapan Allah pada saat dia berdiri

menghadap kepada-Nya. Adapun “ahwal” bentuk jamak dari ‘hal’ 2) biasanya diartikan sebagai keadaan mental (mental states) yang dialami oleh para sufi di sela-sela perjalanan spiritualnya.

Dengan arti kata lain, maqam didefinisikan sebagai suatu tahap adab
(etika) kepadaNya dengan bermacam usaha diwujudkan untuk satu tujuan
pencarian dan ukuran tugas masing-masing yang berada dalam tahapnya
sendiri ketika dalam kondisi tersebut, serta tingkah laku riyadah (exercise)
menuju kepadanya.

Seorang sufi tidak dibenarkan berpindah ke suatu maqam
lain, kecuali setelah menyelesaikan syarat-syarat yang ada dalam maqam
tersebut. Tahap-tahap atau tingkat-tingkat maqam ini bukannya berbentuk
yang sama di antara ahli-ahli sufi, namun mereka bersependapat bahawa
tahap permulaan bagi setiap maqam ialah tawbah.

Rentetan amalan para sufi tersebut di atas akan memberi kesan kepada
kondisi rohani yang disebut sebagai al-ahwal yang diperoleh secara
intuitif dalam hati secara tidak langsung sebagai anugerah daripada Allah
semata-mata, daripada rasa senang atau sedih, rindu atau benci, rasa takut
atau sukacita, ketenangan atau kecemasan secara berlawanan dalam realiti
dan pengalaman dan sebagainya.

Al-Maqamat dan al-ahwal adalah dua bentuk kesinambungan yang bersambungan dan bertalian daripada kausaliti (sebab akibat) amalan-amalan melalui latihan-latihan (exersice) rohani.

Banyak pendapat yang berbeda untuk mendefinisikan maqamat, diantaranya : Al Qusyairi, menjelaskan bahwa maqamat adalah etika seorang hamba dalam wushul (mencapai, menyambung) kepadanya dengan macam upaya, diwujudkan dengan tujuan pencarian dan ukuran tugas. Al Qusyairi menggambarkan maqamat dalam taubat – wara – zuhud – tawakal – sabar dan Ridha.

Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumudin membuat sistematika maqamat dengan taubat – sabar – faqir – zuhud – tawakal – mahabah – ma’rifat dan ridha.
At Thusi menjelaskan maqamat sebagai berikut : Al Taubat – Wara – Zuhud – faqir sabar – ridha – tawakal – ma’rifat.

Al Kalabadhi (w. 990/5) didalam kitabnya “Al taaruf Li Madzhab Ahl Tasawuf”, sebuah kitab yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Arthur John Arberry dengan judul “The doctrine of the Sufi” 3) menjelaskan ada sekitar 10 maqamat : Taubat – zuhud – sabar – faqir – dipercaya – tawadhu (rendah hati) – tawakal – ridho – mahabbah (cinta) -dan ma’rifat.

Ibn Arabi dalam kitab Al futuhat Al Makiyah (The Meccan Revalation) 4) bahkan menyebutkan enam puluh maqam tetapi tidak memperdulikan sistematika maqam tersebut.

Maqam-maqam diatas harus dilalui oleh seorang sufi yang sedang mendekatkan diri kepada Tuhannya. Karena urutan masing-masing ulama sufi dalam menentukan urutan seperti yang tersebut di atas tidak seragam sehingga membingungkan murid, biasanya Syaikh (guru) tasawuf akan memberikan petunjuknya kepada muridnya.

Menjelaskan perbedaan tentang maqamat dan hal membingungkan karena definisi dari masing-masing tokoh tasawuf berbeda tetapi umumnya yang dipakai sebagai berikut:

Maqamat adalah perjalanan spiritual yang diperjuangkan oleh para Sufi untuk memperolehnya. Perjuangan ini pada hakikatnya merupakan perjuangan spiritual yang panjang dan melelahkan untuk melawan hawa nafsu termasuk ego manusia yang dipandang sebagai berhala besar dan merupakan kendala untuk menuju Tuhan. Didalam kenyataannya para Saliki memang untuk berpindah dari satu maqam ke maqam lain i memerlukan waktu berbilang tahun, sedangkan “ahwal” sering diperoleh secara spontan sebagai hadiah dari Tuhan.

Contoh ahwal yang sering disebut adalah : takut , syukur, rendah hati, ikhlas, takwa, gembira. Walaupun definisi yang diberikan sering berlawanan makna, namun kebanyakan mereka mengatakan bahwa ahwal dialami secara spontan dan berlangsung sebentar dan diperoleh bukan atas dasar usaha sadar dan perjuangan keras, seperti halnya pada maqamat, melainkan sebagai hadiah dari kilatan Ilahiah (divine flashes), yang biasa disebut “lama’at”.

Tentang “Hal”, dapat diambil contoh beberapa item yang diungkapkan oleh al-
Thusi sebagai item yang termasuk di dalam kategori hâl yaitu: Al-murâqabat (rasa selalu diawasi oleh Tuhan), al-qurb (perasaan dekat kepada Tuhan), al-mahabbat (rasa cinta kepada Tuhan), al-khauf wa al-rajâ’ (rasa takut dan pengharapan kepada Tuhan), al-syawq (rasa rindu), al-uns (rasa berteman), al-thuma’nînat (rasa tenteram), al-musyâhadat (perasaan menyaksikan Tuhan dengan mata hati), dan al-yaqîn (rasa yakin).

Kembali kepada masalah Al-Maqaamaat dan Al-Akhwaal, yang dapat
dibedakan dari dua segi:

a). Tingkat kerohanian yang disebut maqam hanya dapat diperoleh
dengan cara pengamalan ajaran Tasawuf yang sungguh-sungguh. Sedangkan
ahwaal, di samping dapat diperoleh manusia yang mengamalkannya, dapat
juga diperoleh manusia hanya karena anugrah semata-mata dari Tuhan,
meskipun ia tidak pernah mengamalkan ajaran Tasawuf secara sungguh-
sungguh.

  1. b) Tingkatan kerohanian yang disebut maqam sifatnya langgeng atau
    bertahan lama, sedangkan ahwaal sifatnya sementara; sering ada pada
    diri manusia, dan sering pula hilang. Meskipun ada pendapat Ulama
    Tasawuf yang mengatakan bahwa maqam dan ahwaal sama pengertiannya,
    namun penulis mengikuti pendapat yang membedakannya beserta alasan-
    Tentang jumlah tingkatan maqam dan ahwaal, tidak disepakati oleh Ulama
    Tasawuf. Abu Nashr As-Sarraaj mengatakan bahwa tingkatan maqam ada
    tujuh, sedangkan tingkatan ahwaal ada sepuluh.

Adapun tingkatan maqam menurut Abu Nashr As-Sarraj, dapat disebutkan
sebagai berikut:

a). Tingkatan Taubat (At-Taubah);
b) Tingkatan pemeliharaan diri dari perbuatan yang haram dan yang
makruh, serta yang syubhat (Al-Wara’);
c). Tingkatan meninggalkan kesenangan dunia (As-Zuhdu).
d) Tingkatan memfakirkan diri (Al-Faqru).
e). Tingkatan Sabar (Ash-Shabru).
f). Tingkatan Tawakkal (At-Tawakkul).
g). Tingkatan kerelaaan (Ar-Ridhaa).

Mengenai tingkatan hal (al-ahwaal) menurut Abu Nash As Sarraj, dapat
dikemukakan sebagai berikut;

a). Tingkatan Pengawasan diri (Al-Muraaqabah)
b). Tingkatan kedekatan/kehampiran diri (Al-Qurbu)
c). Tingkatan cinta (Al-Mahabbah)
d). Tingkatan takut (Al-Khauf)
e). Tingkatan harapan (Ar-Rajaa)
f). Tingkatan kerinduan (Asy-Syauuq)
g). Tingkatan kejinakan atau senang mendekat kepada perintah Allah
(Al-Unsu).
h). Tingkatan ketengan jiwa (Al-Itmi’naan)
i). Tingkatan Perenungan (Al-Musyaahaah)
j). Tingkatan kepastian (Al-Yaqiin).

Maqām merupakan tahapan-tahapan thariqah yang harus dilalui oleh seorang salik, yang membuahkan keadaan tertentu yang merasuk dalam diri salik. Semisal maqām taubat; seorang salik dikatakan telah mencapai maqām ini ketika dia telah bermujahadah dengan penuh kesungguhan untuk menjauhi segala bentuk maksiat dan nafsu syahwati. Dengan demikian, maqām adalah suatu keadaan tertentu yang ada pada diri salik yang didapatnya melalui proses usaha riyadhah (melatih hawa nafsu).

Sedangkan yang dimaksud dengan hāl − sebagaimana diungkapkan oleh al-Qusyairi − adalah suatu keadaan yang dianugerahkan kepada seorang sālik tanpa melalui proses usaha riyadhah.

Namun, dalam konsep maqām ini Ibn Atha’illah memiliki pemikiran yang berbeda, dia memandang bahwa suatu maqām dicapai bukan karena adanya usaha dari seorang salik, melainkan semata anugerah Allah swt. Karena jika maqām dicapai karena usaha salik sendiri, sama halnya dengan menisbatkan bahwa salik memiliki kemampuan untuk mencapai suatu maqām atas kehendak dan kemampuan dirinya sendiri.

Pun jika demikian, maka hal ini bertentangan dengan konsep fana’ iradah, yaitu bahwa manusia sama sekali tidak memiliki kehendak, dan juga bertentangan dengan keimanan kita bahwa Allah yang menciptakan semua perbuatan manusia. Dengan demikian, bagi seorang salik untuk mencapai suatu maqām hendaknya salik menghilangkan segala kehendak dan angan-angannya (isqath al-iradah wa al-tadbir).

Mengenai maqām, Ibn Atha’illah membaginya tingkatan maqam sufi menjadi 9 tahapan;

  1. Maqam taubat
    2. Maqam zuhud
    3. Maqam shabar
    4. Maqam syukur
    5. Maqam khauf
    6. Maqam raja’
    7. Maqam ridha
    8. Maqam tawakkal
    9. Maqam mahabbahMaqam Taubat

Taubat adalah maqam awal yang harus dilalui oleh seorang salik. Sebelum mencapai maqam ini seorang salik tidak akan bisa mencapai maqam-maqam lainnya. Karena sebuah tujuan akhir tidak akan dapat dicapai tanpa adanya langkah awal yang benar.

Cara taubat sebagaimana pandangan Ibn Atha’illah adalah dengan bertafakkur dan berkhalwat. sedang tafakkur itu sendiri adalah hendaknya seorang salik melakukan instropeksi terhadap semua perbuatannya di siang hari.

Jika dia mendapati perbuatannya tersebut berupa ketaatan kepada Allah, maka hendaknya dia bersyukur kepada-Nya. Dan sebaliknya jika dia mendapati amal perbuatannya berupa kemaksiatan, maka hendaknya dia segera beristighfar dan bertaubat kepada-Nya.

Untuk mencapai maqam taubat ini, seorang salik harus meyakini dan mempercayai bahwa irodah (kehendak) Allah meliputi segala sesuatu yang ada. Termasuk bentuk ketaatan salik, keadaan lupa kepada-Nya, dan nafsu syahwatnya, semua atas kehendak-Nya.

Sedangkan hal yang dapat membangkitkan maqam taubat ini adalah berbaik sangka (husn adz-dzon) kepada-Nya. Jika seorang salik terjerumus dalam sebuah perbuatan dosa, hendaknya ia tidak menganggap bahwa dosanya itu sangatlah besar sehingga menyebabkan dirinya merasa putus asa untuk bisa sampai kepada-Nya.

Maqam Zuhud

Dalam pandangan Ibn ‘Aţā’illah, zuhd ada 2 macam; Zuhd Ẓahir Jalī seperti zuhd dari perbuatan berlebih-lebihan dalam perkara ḥalal, seperti: makanan, pakaian, dan hal lain yang tergolong dalam perhiasan duniawi. Dan Zuhd Bāţin Khafī seperti zuhd dari segala bentuk kepemimpinan, cinta penampilan zahir, dan juga berbagai hal maknawi yang terkait dengan keduniaan”.

Hal yang dapat membangkitkan maqām zuhd adalah dengan merenung (ta’ammul). Jika seorang sālik benar-benar merenungkan dunia ini, maka dia akan mendapati dunia hanya sebagai tempat bagi yang selain Allah, dia akan mendapatinya hanya berisikan kesedihan dan kekeruhan. Jikalau sudah demikian, maka sālik akan zuhd terhadap dunia. Dia tidak akan terbuai dengan segala bentuk keindahan dunia yang menipu.
Maqām zuhd tidak dapat tercapai jika dalam hati sālik masih terdapat rasa cinta kepada dunia, dan rasa ḥasud kepada manusia yang diberi kenikmatan duniawi. Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh Ibn ‘Aţā’illah: ”Cukuplah kebodohan bagimu jika engkau ḥasud kepada mereka yang diberi kenikmatan dunia. Namun, jika hatimu sibuk dengan memikirkan kenikmatan dunia yang diberikan kepada mereka, maka engkau lebih bodoh daripada mereka.

Karena mereka hanya disibukkan dengan kenikmatan yang mereka dapatkan, sedangkan engkau disibukkan dengan apa yang tidak engkau dapatkan”.
Inti dari zuhd adalah keteguhan jiwa, yaitu tidak merasa bahagia dengan kenikmatan dunia yang didapat, dan tidak bersedih dan putus asa atas kenikmatan dunia yang tidak didapat.

Seorang salik tidak dituntut menjadi orang yang faqir yang sama sekali tidak memiliki apa-apa. Karena ciri-ciri seorang zuhd ada dua; yaitu saat kenikmatan dunia tidak ada dan saat kenikmatan dunia itu ada.

80

Ini dimaksudkan bahwa jika kenikmatan dunia itu didapat oleh sālik, maka dia akan menghargainya dengan bershukur dan memanfaatkan nikmat tersebut hanya karena Allah. Sebaliknya, jika nikmat sirna dari dirinya, maka dia merasa nyaman, tenang dan tidak sedih.

Maqam Sabar

Ibn ‘Ata’illah membagi sabar menjadi 3 macam sabar terhadap perkara haram, sabar terhadap kewajiban, dan sabar terhadap segala perencanaan (angan-angan) dan usaha.

Sabar terhadap perkara haram adalah sabar terhadap hak-hak manusia. Sedangkan sabar terhadap kewajiban adalah sabar terhadap kewajiban dan keharusan untuk menyembah kepada Allah. Segala sesuatu yang menjadi kewajiban ibadah kepada Allah akan melahirkan bentuk sabar yang ketiga yaitu sabar yang menuntut salik untuk meninggalkan segala bentuk angan-angan kepada-Nya.

“Sabar atas keharaman adalah sabar atas hak-hak kemanusiaan. Dan sabar atas kewajiban adalah sabar atas kewajiban ibadah. Dan semua hal yang termasuk dalam kewajiban ibadah kepada Allah mewajibkan pula atas salik untuk meniadakan segala angan-angannya bersama Allah”.

Sabar bukanlah suatu maqam yang diperoleh melalui usaha salik sendiri. Namun, sabar adalah suatu anugerah yang diberikan Allah kepada salik dan orang-orang yang dipilih-Nya.

Maqam sabar itu dilandasi oleh keimanan yang sempurna terhadap kepastian dan ketentuan Allah, serta menanggalkan segala bentuk perencanaan (angan-angan) dan usaha.

Maqam Syukur

Shukur dalam pandangan Ibn ‘Ata’illah terbagi menjadi 3 macam; pertama shukur dengan lisan, yaitu mengungkapkan secara lisan, menceritakan nikmat yang didapat. Kedua, shukur dengan anggota tubuh, yaitu shukur yang diimplementasikan dalam bentuk ketaatan. Ketiga, shukur dengan hati, yaitu dengan mengakui bahwa hanya Allah Sang Pemberi Nikmat, segala bentuk kenikmatan yang diperoleh dari manusia semata-mata dari-Nya.

Sebagaimana diungkapkan oleh Ibn ‘Ata’illah:

“Dalam shukur menurut Ibn ‘Ata’illah terdapat tiga bagian; shukur lisan yaitu memberitakan kenikmatan (pada orang lain), shukur badan adalah beramal dengan ketaatan kepada Allah, dan shukur hati adalah mengakui bahwa Allah semata Sang Pemberi nikmat. Dan segala bentuk kenikmatan dari seseorang adalah semata-mata dari Allah.”

Ibn ‘Ata’illah juga menjelaskan bahwa bentuk shukur orang yang berilmu adalah dengan menjadikan ilmunya sebagai landasan untuk memberi petunjuk kepada manusia lainnya. Sedangkan bentuk shukur orang yang diberi kenikmatan kekayaan adalah dengan menyalurkan hartanya kepada mereka yang membutuhkan. Bentuk shukur orang yang diberi kenikmatan berupa jabatan dan kekuasaan adalah dengan memberikan perlindungan dan kesejahteraan terhadap orang-orang yang ada dalam kekuasaannya.

Lebih lanjut Ibn ‘Aţā’illah memaparkan bahwa shukur juga terbagi menjadi 2 bagian; shukur ẓāhir dan shukur bāţin. Shukur ẓāhir adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkan shukur bāţin adalah mengakui dan meyakini bahwa segala bentuk kenikmatan hanyalah dari Allah semata.

Manfaat dari shukur adalah menjadikan anugerah kenikmatan yang didapat menjadi langgeng, dan semakin bertambah. Ibn ‘Ata’illah memaparkan bahwa jika seorang salik tidak menshukuri nikmat yang didapat, maka bersiap-siaplah untuk menerima sirnanya kenikmatan tersebut.

Dan jika dia menshukurinya, maka rasa shukurnya akan menjadi pengikat kenikmatan tersebut. Allah berfirman: لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ (Jika kalian bershukur [atas nikmat-Ku) niscaya akan kutambah [kenikmatan itu]).

Jika seorang salik tidak mengetahui sebuah nikmat yang diberikan Allah kepada-Nya, maka dia akan mengetahuinya ketika nikmat tersebut telah hilang. Hal inilah yang telah diperingatkan oleh Ibn ‘Ata’illah.

Lebih lanjut Ibn ‘Ata’illah menambahkan hendaknya seorang salik selalu bershukur kepada Allah sehingga ketika Allah memberinya suatu kenikmatan, maka dia tidak terlena dengan kenikmatan tersebut dan menjadikan-Nya lupa kepada Sang Pemberi Nikmat.

Meskipun pada dasarnya semua kenikmatan pada hakikatnya adalah dari Allah, shukur kepada makhluk juga menjadi kewajiban seorang salik. Dia harus bershukur terhadap apa yang telah diberikan orang lain kepadanya, karena hal ini adalah suatu tuntutan shari‘at, seraya mengakui dan meyakini dalam hati bahwa segala bentuk kenikmatan tersebut adalah dari Allah.

Pengejawantahan shukur tetap harus dilandasi dengan menanggalkan segala bentuk angan-angan dan keinginan. Akal adalah kenikmatan paling agung yang diberikan Allah kepada manusia. Karena akal inilah manusia menjadi berbeda dari sekalian makhluk. Namun, dengan kelebihan akal ini pula manusia memiliki potensi untuk bermaksiat kepada Allah.

Dengan akal ini manusia dapat berpikir, berangan-angan, dan berkehendak. Sehingga manusia memiliki potensi untuk mengangan-angankan dan

menginginkan suatu bentuk kenikmatan yang akan diberikan oleh Allah. Hal inilah yang harus ditiadakan dalam pengejawantahan shukur.

Maqam khauf

Seorang salik dapat mencapai derajat maqam khauf apabila dia merasa takut atas sirnanya ḥal dan maqamnya, karena dia tahu bahwa Allah memiliki kepastian hukum dan kehendak yang tidak dapat dicegah. Ketika Allah berkehendak untuk mencabut suatu maqām dan hal yang ada pada diri salik, seketika itu juga Allah akan mencabutnya.

“Bukti dari makna ini mengharuskan maqām khauf bagi seorang hamba terwujud, ketika dia memiliki ucapan yang baik dan perilaku yang terpuji maka dia tak akan terputus maqām khauf ini, serta dia tidak terpedaya dengan urusan duniawi, karena hukum kepastian dan kehendak Allah terwujud.”

Khauf seorang sālik bukanlah sekedar rasa takut semata. Khauf pasti diiringi dengan rajā’ (harapan) kepada Allah, karena khauf adalah pembangkit dari rajā’. Maqām khauf adalah maqām yang membangkitkan maqām rajā’. Rajā’ tidak akan ada jika khauf tidak ada.

Ibn ‘Atā’illah menyatakan bahwa jika sālik ingin agar dibuka baginya pintu rajā’ maka hendaknya dia melihat apa yang diberikan Allah kepadanya berupa anugerah maqām, hal dan berbagai kenikmatan yang dia terima. Jika dia ingin agar terbuka baginya pintu khauf, maka hendaknya dia melihat apa yang dia berikan kepada-Nya berupa peribadatan dan ketaatan penuh pada-Nya.

Sebagaimana diutarakan oleh Ibn ‘Atā’illah:

”Jika engkau ingin agar Allah membukakan bagimu pintu rajā’, maka lihatlah segala sesuatu yang diberikan Allah kepadamu. Dan jika engkau ingin agar Allah membukakan bagimu pintu khauf, maka lihatlah apa yang telah kau berikan kepada-Nya.”

Rajā’ bukan semata-mata berharap, rajā’ harus disertai dengan perbuatan. Jika rajā’ hanya berupa harapan tanpa perbuatan, maka tidak lain itu hanyalah sebuah angan-angan atau impian belaka. Dengan demikian wajib bagi seorang sālik untuk menyertakan rajā’nya dengan amal kepatuhan, dan peribadatan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah secara kontinu.

Jika rajā’ sudah ada dalam diri sālik, maka rajā’ ini akan semakin menguatkan khauf yang ada pada dirinya. Karena suatu harapan, pasti akan disertai dengan rasa takut akan sesuatu, sehingga dapat dinyatakan bahwa khauf akan melahirkan rajā’, dan rajā’ akan menjadi penguat khauf.

n Tawakkal

Riḍa dalam pandangan Ibn ‘Ata’illah adalah penerimaan secara total terhadap ketentuan dan kepastian Allah. Hal ini didasarkan pada QS. al-Mā’idah ayat 119:

(Allah riḍa terhadap mereka, dan mereka ridha kepada Allah), dan juga sabda Rasulullah SAW.:

(Orang yang merasakan [manisnya] iman adalah orang yang ridha kepada Allah).

Maqam ridha bukanlah maqam yang diperoleh atas usaha salik sendiri. Akan tetapi ridha adalah anugerah yang diberikan Allah.

Jika maqam ridha sudah ada dalam diri sālik, maka sudah pasti maqām tawakkal juga akan terwujud. Oleh karena itu, ada hubungan yang erat antara maqām ridha dan maqām tawakkal. Orang yang ridha terhadap ketentuan dan kepastian Allah, dia akan menjadikan Allah sebagai penuntun dalam segala urusannya, dia akan berpegang teguh kepada-Nya, dan yakin bahwa Dia akan menentukan yang terbaik bagi dirinya.

Maqām tawakkal akan membangkitkan kepercayaan yang sempurna bahwa segala sesuatu ada dalam kekuasaan Allah. Sebagaimana termaktub dalam QS. Hūd ayat 123:
(…kepada-Nya lah segala urusan dikembalikan, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya).

Sebagaimana maqām-maqām lainnya, maqām ridha dan tawakkal tidak akan benar jika tanpa menanggalkan angan-angan. Ibn ‘Aţā’illah menyatakan bahwa angan-angan itu bertentangan dengan tawakkal, karena barangsiapa telah berpasrah kepada Allah, dia akan menjadikan Allah sebagai penuntunnya, dia akan berpegang teguh kepada-Nya atas segala urusannya, dan jika sudah demikian tiadalah bagi dirinya segala bentuk angan-angan.

“Perencanaan (tadbīr) juga bertentangan dengan maqam tawakkal karena seorang yang bertawakkal kepada Allah adalah orang yang menyerahkan kendali dirinya kepada-Nya, dan berpegang teguh kepada-Nya atas segala urusannya. Barangsiapa telah menetapi semua hal tersebut, maka tiada lagi perencanaan baginya, dan dia berpasrah terhadap perjalanan takdir. Peniadaan perencanaan (isqaţ tadbīr) juga terkait dengan maqām tawakkal dan ridha, hal ini jelas, karena seorang yang ridha maka cukup baginya perencanaan Allah atasnya.

Maka bagaimana mungkin dia menjadi perencana bersama Allah, sedangkan dia telah rela dengan perencanan-Nya. Apakah engkau tidak tahu bahwa cahaya ridha telah membasuh hati dengan curahan perencanan-Nya.

Dengan demikian, orang yang ridha terhadap Allah telah dianugrahkan baginya cahaya ridha atas keputusan-Nya, maka tiada lagi baginya perencanaan bersama Allah…”

Hikmah ridha kepada qadhā’ dan qadar, antara lain dapat menghilangkan keruwetan dan kesusahan. Musibah yang diperoleh seseorang, jika dihadapi/dengan pikiran yang lapang dan dengan bekerja yang sungguh-sungguh di sanalah seseorang akan mendapatkan jalan dan petunjuk yang lebih berguna, daripada dihadapi dengan meratapi kesusahan-kesusahan itu, yang tidak ada berkesudahan.

Dasar ridha akan qadhā’ dan qadar, ialah firman Allah dalam al-Qur’an:

“Orang-orang (yang mu’min) jika mereka mendapat sesuatu bencana berkatalah mereka “Bahwasanya kami ini kepunyaan Allah, dan kami (semua) pasti kembali lagi kepada-Nya.”

Jika seseorang ditimpa bencana hendaklah dia ridha, hatinya tidak boleh mendongkol. Ridha dengan qadhā’ ialah menerima segala kejadian yang menimpa diri seseorang, dengan rasa senang hati dan lapang dada.

Meridhai qadhā’ dan qadar, karena ditimpa bencana atau menderita sesuatu, sangat disukai oleh agama. Tetapi sekali-kali tiada dibenarkan seseorang meridhai kekufuran dan kemaksiatan.

Ridha dengan taqdir Allah adalah suatu perangai yang terpuji dan mulia serta membiasakan jiwa menyerahkan diri atas keputusan Allah, juga dapat mendapatkan hiburan yang sempurna di kala menderita segala bencana. Dialah obat yang sangat mujarab untuk menolak penyakit gelap mata hati. Dengan ridha atas segala ketetapan Allah, hidup seseorang menjadi tenteram dan tidak gelisah.

Seseorang wajib berkeyakinan, bahwa bencana yang menimpa seseorang, adakalanya juga merupakan cobaan bagi seorang hamba, untuk lebih suka mengoreksi segala amal perbuatan pada masa-masa yang lampau, agar seseorang dapat mengubah dan memperbaiki jejak langkah dan perbuatannya pada masa-masa yang akan datang.

Menyerah kepada qadhā’illah (keputusan takdir) Allah termasuk tidak boleh mengandai-andaikan, misalnya andaikan tadinya dia tidak ikut rombongan ini, barangkali dia tidak termasuk korban kecelakaan ini, sebagaimana firman Allah SWT.:

Hai orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir, yang berkata kepada saudara-saudara mereka tatkala mereka bepergian di bumi, atau sedang bertempur : Sekiranya bersama-sama kami, niscaya mereka tidak akan mati, dan tidak akan terbunuh. Yang demikian karena Allah hendak jadikan yang tersebut itu duka cita di hati-hati mereka dan Allah rnenghidupkan dan mematikan, dan Allah Maha melihat akan apa yang engkau kerjakan.

Maqam Mahabbah

Imam al-Ghazālī berpendapat bahwa maqām maḥabbah adalah maqām tertinggi dari sekian maqām-maqām dalam tarekat. Dia menggambarkan bahwa maḥabbah adalah tujuan utama dari semua maqām.

Namun, Ibn ‘Aţā’illah memiliki pandangan yang berbeda tentang konsep mahabbah bahwa dalam mahabbah seorang sālik harus menanggalkan segala angan-angannya. Dia berpendapat demikian karena alasan bahwa sālik yang telah sampai pada mahabbah (cinta) bisa jadi dia masih mengharapkan balasan atas cintanya kepada yang dicintainya.

Dari sini tampak bahwa rasa cinta sālik didasarkan atas kehendak dirinya untuk mendapatkan balasan cinta sebagaimana cintanya. Karena pecinta sejati adalah orang yang rela mengorbankan segala yang ada pada dirinya demi yang dicintainya, dan tidak mengharapkan imbalan apapun dari yang dicintainya, yang dalam konteks ini adalah Allah SWT.

”…mahabbah (cinta) kepada Allah adalah tujuan luhur dari seluruh maqām, titik puncak dari seluruh derajat. Tiada lagi maqām setelah mahabbah, karena mahabbah adalah hasil dari seluruh maqām, menjadi akibat dari seluruh maqām, seperti rindu, senang, ridha dan lain sebagainya. Dan tiadalah maqām sebelum mahabbah kecuali hanya menjadi permulaan dari seluruh permulaan maqām, seperti taubat, sabar, zuhd dan lain sebagainya…”

Untuk dapat mencapai hal tersebut diatas, maka seorang salik disyaratkan terlebih dulu mengambil baiat (janji)pada seorang guru tarekat (Mursyid). Dimana tugas seorang guru Mursyid adalah membimbing dan mengarahkan agar seorang salik tidak terjerumus kedalam kesesatan. Baiat Tarekat merupakan pintu utama memasuki dunia tasawuf.

Istilah Tarekat berasal dari kata Ath-Thariq (jalan) menuju kepada
Hakikat atau dengan kata lain pengalaman Syari’at, yang disebut “Al-
Jaraa” atau “Al-Amal”, sehingga Asy-Syekh Muhammad Amin Al-Kurdiy
mengemukakan tiga macam definisi, yang berturut-turut disebutkan:

  • Tarekat adalah pengamalan syari’at, melaksanakan beban ibadah
    (dengan tekun) dan menjauhkan (diri) dari (sikap) mempermudah
    (ibadah), yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah.

2) Tarekat adalah menjauhi larangan dan melakukan perintah Tuhan
sesuai dengan kesanggupannya; baik larangan dan perintah yang nyata,
maupun yang tidak (batin).

3) Tarekat adalah meninggalkan yang haram dan makruh, memperhatikan
hal-hal mubah (yang sifatnya mengandung) fadhilat, menunaikan hal-hal
yang diwajibkan dan yang disunatkan, sesuai dengan kesanggupan
(pelaksanaan) di bawah bimbingan seorang Arif (Syekh) dari (Shufi)
yang mencita-citakan suatu tujuan.

Menurut L. Massignon, yang pernah mengadakan penelitian terhadap
kehidupan Tasawuf di beberapa negara Islam, menarik suatu kesimpulan
bahwa istilah Tarekat mempunyai dua macam pengertian.

  1. Tarekat yang diartikan sebagai pendidikan kerohanian yang sering
    dilakukan oleh orang-orang yang menempuh kehidupan Tasawuf, untuk
    mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut “Al-Maqamaat”
    dan “Al-Ahwaal”.
  2. b) Tarekat yang diartikan sebagai perkumpulan yang didirikan menurut
    ajaran yang telah dibuat seorang Syekh yang menganut suatu aliran
    Tarekat tertentu. Maka dalam perkumpulan itulah seorang Syekh mengajarkan Ilmu Tasawuf menurut aliran Tarekat yang dianutnya, lalu diamalkan bersama dengan murid-muridnya.

Dari pengertian diatas, maka Tarekat itu dapat dilihat dari dua sisi;
yaitu amaliyah dan perkumpulan (organisasi). Sisi amaliyah merupakan
latihan kejiwaan (kerohanian); baik yang dilakukan oleh seorang,
maupun secara bersama-sama, dengan melalui aturan-aturan tertentu
untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut “Al-Maqaamaat” dan “Al-Akhwaal”, yakni kedudukan dan keadaan seorang salik dalam dunia tasawuf

Maqam Hakikat

Istilah hakikat berasal dari kata Al-Haqq, yang berarti kebenaran.
Kalau dikatakan Ilmu Hakikat, berarti ilmu yang digunakan untuk
mencari suatu kebenaran. Kemudian beberapa ahli merumuskan
definisinya sebagai berikut:

  1. Asy-Syekh Abu Bakar Al-Ma’ruf mengatkan :

“Hakikat adalah (suasana kejiwaan) seorang Saalik (Shufi) ketika ia
mencapai suatu tujuan …sehingga ia dapat menyaksikan (tanda-tanda)ketuhanan dengan mata hatinya”.

  1. Imam Al-Qasyairiy mengatakan:

“Hakikat adalah menyaksikan sesuatu yang telah ditentukan,
ditakdirkan, disembunyikan (dirahasiakan) dan yang telah dinyatakan (oleh Allah kepada hamba-Nya”.

Hakikat yang didapatkan oleh Shufi setelah lama menempuh Tarekat
dengan selalu menekuni Suluk, menjadikan dirinya yakin terhadap apa yang dihadapinya. Karena itu, Ulama Shufi sering mengalami tiga macam tingkatan keyakinan:

1) “Ainul Yaqiin; yaitu tingkatan keyakinan yang ditimbulkan oleh
pengamatan indera terhadap alam semesta, sehingga menimbulkan
keyakinan tentang kebenaran Allah sebagai penciptanya;

2) “Ilmul Yaqiin; yaitu tingkatan keyakinan yang ditimbulkan oleh
analisis pemikiran ketika melihat kebesaran Allah pada alam semesta
ini.

3) “Haqqul Yaqqin; yaitu suatu keyakinan yang didominasi oleh hati
nurani Shufi tanpa melalui ciptaan-Nya, sehingga segala ucapan dan
tingkah lakunya mengandung nilai ibadah kepada Allah SWT. Maka
kebenaran Allah langsung disaksikan oleh hati, tanpa bisa diragukan
oleh keputusan akal”.Pengalaman batin yang sering dialami oleh Shufi, melukiskan bahwa
betapa erat kaitan antara hakikat dengan mari”fat, dimana hakikat itu
merupakan tujuan awal Tasawuf, sedangkan ma’rifat merupakan tujuan akhirnya.

Maqam Marifat

Istilah Ma’rifat berasal dari kata “Al-Ma’rifah” yang berarti
mengetahui atau mengenal sesuatu. Dan apabila dihubungkan dengan pengamalan Tasawuf, maka istilah ma’rifat di sini berarti mengenal Allah ketika Shufi mencapai maqam dalam Tasawuf.

Kemudian istilah ini dirumuskan definisinya oleh beberapa Ulama
Tasawuf; antara lain:

  1. Mustafa Zahri mengemukakan salah satu pendapat Ulama Tasawuf yang mengatakan:

“Marifat adalah ketetapan hati (dalam mempercayai hadirnya) wujud yang wajib adanya (Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaannya.”

b. Asy-Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Kadiriy mengemukakan pendapat Abuth Thayyib As-Saamiriy yang mengatakan:

“Ma’rifat adalah hadirnya kebenaran Allah (pada Shufi)…dalam
keadaan hatinya selalu berhubungan dengan Nur Ilahi…”

c. Imam Al-Qusyairy mengemukakan pendapat Abdur Rahman

bin Muhammad bin Abdillah yang mengatakan:

“Ma’rigfat membuat ketenangan dalam hati, sebagaimana ilmu
pengetahuan membuat ketenangan (dalam akal pikiran). Barangsiapa yang meningkat ma’rifatnya, maka meningkat pula ketenangan (hatinya).”

Tidak semua orang yang menuntut ajaran Tasawuf dapat sampai kepada tingkatan ma’rifat. Karena itu, Shufi yang sudah mendapatkan ma’rifat, memiliki tanda-tanda tertentu, sebagaimana keterangan Dzuun Nuun Al-Mishriy yang mengatakan; ada beberapa tanda yang dimiliki oleh Shufi bila sudah sampai kepada tingkatan ma’rifat, antara lain:

  1. Selalu memancar cahaya ma’rifat padanya dalam segala sikap dan perilakunya. Karena itu, sikap wara’ selalu ada pada dirinya.b. Tidak menjadikan keputusan pada sesuatu yang berdasarkan fakta yang bersifat nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran Tasawuf, belum tentu benar.
  2. Tidak menginginkan nikmat Allah yang banyak buat dirinya, karena hal itu bisa membawanya kepada perbuatan yang haram.Dari sinilah kita dapat melihat bahwa seorang Shufi tidak
    membutuhkan kehidupan yang mewah, kecuali tingkatan kehidupan yang hanya sekedar dapat menunjang kegiatan ibadahnya kepada Allah SWT. Sehingga Asy-Syekh Muhammad bin Al-Fadhal mengatakan bahwa ma’rifat yang dimiliki Shufi, cukup dapat memberikan kebahagiaan batin padanya, karena merasa selalu bersama-sama dengan Tuhan-nya.

Begitu rapatnya posisi hamba dengan Tuhan-nya ketika mencapai
tingkat ma’rifat, maka ada beberapa Ulama yang melukiskannya sebagai berikut:

  1. Imam Rawiim mengatakan, Shufi yang sudah mencapai tingkatan ma’rifat, bagaikan ia berada di muka cermin; bila ia memandangnya, pasti ia melihat Allah di dalamnya. Ia tidak akan melihat lagi dirinya dalam cermin, karena ia sudah larut (hulul) dalam Tuhan-nya. Maka tiada lain yang dilihatnya dalam cermin, kecuali hanya Allah SWT saja.
  2. Al-Junaid Al-Bahdaadiy mengatakan, Shufi yang sudah mencapai tingkatan ma’rifat, bagaikan sifat air dalam gelas, yang selalu menyerupai warna gelasnya. Maksudnya, Shufi yang sudah larut (hulul) dalam Tuhan-nya selalu menyerupai sifat-sifat dan

kehendak-Nya. Lalu dikatakannya lagi bahwa seorang Shufi, selalu merasa menyesal dan tertimpa musibah bila suatu ketika ingatannya kepada Allah terputus meskipun hanya sekejap mata saja.

c. Sahal bin Abdillah mengatakan, sebenarnya puncak ma’rifat itu
adalah keadaan yang diliputi rasa kekagumam dan keheranan ketika Shufi bertatapan dengan Tuhan-nya, sehingga keadaan itu membawa kepada kelupaan dirinya.

Keempat tahapan yang harus dilalui oleh Shufi ketika menekuni
ajaran Tasawuf, harus dilaluinya secara berurutan; mulai dari
Syariat, Tarekat, Hakikat dan Ma’rifat. Tidak mungkin dapat ditempuh secara terbalik dan tidak pula secara terputus-putus.

Dengan cara menempuh tahapan Tasawuf yang berurutan ini,seorang hamba tidak akan mengalami kegagalan dan tidak pula mengalami kesesatan.  Demikian ulasan singkat kami tentang maqam (kedudukan) dan hal (keadaan) dalam dunia tasawuf atau dunia para Wali Allah, semoga kita semua dapat menempuh tahapan-tahapan dalam tas

Perbahasan ini tentu-nya luas namun saya ringkaskan karena menurut hemat saya para pembaca bukan-lah baru hendak belajar, bahkan sudah mempunyai pengetahuan yang baik dalam bidang agama, maka dengan itu marilah sama-sama kita renungkan dan fikirkan sedalam-dalam-nya agar mencapai manfaat dan tujuan yang sebenar-nya untuk apa diri zahir ini diadakan.

Akhir kalam penjelasan ini bukan untuk menunjukan kebijaksanaan berfikir, tapi sama-sama menambah khazanah ilmu pengetahuan. Allahu’alam

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *